Entri Populer

Senin, 27 Juni 2011

gastro enteritis

Pengertian
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).
Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari ( WHO, 1980),
Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s,1995).
Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).
Jadi dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.
Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut.
Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke klien yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan mutilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.
Gejala Klinis
a. Diare.
b. Muntah.
c. Demam.
d. Nyeri abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering
f. Fontanel cekung
g. Kehilangan berat badan
h. Tidak nafsu makan
i. Badan terasa lemah
Komplikasi
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
Tingkat Dehidrasi Gastroenteritis
a. Dehidrasi Ringan
Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, klien belum jatuh pada keadaan syok.
b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, presyok nadi cepat dan dalam.
c. Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 – 10 % dari berat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.
Penatalaksanaan Medis
a. Pemberian cairan.
b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
Memberikan asi.
Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
c. Obat-obatan.
Pemberian cairan, pada klien Diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum
a. Cairan per oral.
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na, HCO, K dan Glukosa, untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan, atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/l dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.
b. Cairan parenteral.
Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
1. Dehidrasi ringan.
1jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB / hari, kemudian 125 ml / Kg BB / oral
2. Dehidrasi sedang.
1jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral, kemudian 125 ml / kg BB / hari.
3. Dehidrasi berat.
Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg
· 1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.
· 7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
· 16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.
- 1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).
- 7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.
-1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
-16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.
c. Diatetik ( pemberian makanan ).
Terapi diatetik adalah pemberian makan dan minum khusus kepada klien dengan tujuan meringankan, menyembuhkan serta menjaga kesehatan klien.
Hal – hal yang perlu diperhatikan :
· Memberikan Asi.
· Memberikan bahan makanan yang mengandung cukup kalori,protein,mineral dan vitamin, makanan harus bersih.
d. Obat-obatan.
· Obat anti sekresi.
· Obat anti spasmolitik.
· Obat antibiotik.
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium.
· Pemeriksaan tinja.
· Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.
· Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
b. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.
Tumbuh Kembang Anak
Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang pengertian dari pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam besar, jumlah, ukuran atau dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan perkembangan adalah menitik beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ individu termasuk perubahan aspek dan emosional.
Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan miniatur orang dewasa, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara ekonomi.
Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak, baik secara fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan masyarakat.
Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan.
a. Motorik halus.
1. Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.
2. Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya
3. Memasukkan benda kedalam mulutnya.
4. Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.
5. Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.
b. Motorik kasar.
1. Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.
2. Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.
3. Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.
c. Kognitif.
a. Berusaha memperluas lapangan.
b. Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.
c. Mulai mencari benda-benda yang hilang.
d. Bahasa.
Mengeluarkan suara ma.. pa.. ba.. walaupun kita berasumsi ia sudah dapat memanggil kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.
Dampak Hospitalisasi terhadap Anak
a. Separation ansiety
b. Tergantung pada orang tua
c. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
d. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik diri, sedih, kesepian dan apatis
e. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan dengan orang lain dan menyukai lingkungan
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :
1. Identitas klien.
2. Riwayat keperawatan.
· Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
· Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
3. Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
4. Riwayat psikososial keluarga.
Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
5. Kebutuhan dasar.
· Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
· Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.
· Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
· Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
· Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.
6. Pemerikasaan fisik.
a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.
b. Pemeriksaan sistematik :
· Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
· Perkusi : adanya distensi abdomen.
· Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
· Auskultasi : terdengarnya bising usus.
c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
d. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.
e. Pemeriksaan penunjang.
f.Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.
Diagnosa Keperawatan GE
1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan.
Intervensi
Diagnosa 1.
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
Tujuan :
Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria hasil:
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur input dan output cairan (balan cairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
Diagnosa 2.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil :
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual, muntah tidak ada.
Intervensi :
Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi, dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
Diagnosa 3.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
Tujuan :
Gangguan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil :
Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada
Intervensi :
Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong secara perlahan menggunakan sabun non alkohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi sesuai indikasi.
Diagnosa 4.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Tujuan :
Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdomen. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi analgetik sesuai indikasi.
Diagnosa 5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil :
Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
Intervensi :
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui pendidikan kesehatan. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Diagnosa 6.
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan.
Tujuan :
Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan
Intervensi :
Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi klien.
Evaluasi
1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.
3. Integritas kulit kembali normal.
4. Rasa nyaman terpenuhi.
5. Pengetahuan kelurga meningkat.
6. Cemas pada klien teratasi.
Daftar Pustaka
Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarata : EGC
Dongoes (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC
Makalah Kuliah . Tidak diterbitkan.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.
Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak. Surabaya : GRAMIK FK Universitas Airlangga.
Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I. Jakarata : EGC.

askep gangguan kandung kemih

A. PENGERTIAN
GNA adalah reaksi imunologi pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu. Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman streptococcus, sering ditemukan pada usia 3-7 tahun.

(Kapita Selecta, 2000)

B. ETIOLOGI
- Streptococcus beta hemoliticus group A.
- Keracunan (timah hitam, tridion)
- Penyakit sipilis
- Trombosis vena renalis
- Penyakit kolagen

(Kapita Selecta, 2000)


C. MANIFESTASI KLINIK
1. Hematuria
2. Oliguria
3. Edema ringan sekitar mata atau seluruh tubuh
4. Gangguan gastrointestinal
5. Sakit kepala, merasa lemah
6. Nyeri pinggang menjalar sampai ke abdomen

D. PENATALAKSANAAN
1. Istirahat selama 1-2 minggu
2. Modifikasi diet.
3. Pembatasan cairan dan natrium
4. pembatasan protein bila BUN meningkat.
5. Antibiotika.
6. Anti hipertensi
7. Pemberian diuretik furosemid intravena (1 mg/kgBB/kali)
8. Bila anuria berlangsung lama (5-7hari) dianjurkan dialisa peritoneal atau hemodialisa.

E. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan umum, meliputi Gg/peny. yang lalu, berhubungan dengan peny. sekarang. Contoh: ISPA
2. Riwayat kesehatan sekarang,Meliputi; keluhan/gg. yang berhubungan dgn. Peny. saat ini. Seperti; mendadak, nyeri abdomen,Pinggang, edema.

F. PENGKAJIAN FISIK
1. Aktivitas/istirahat
- Gejala: kelemahan/malaise
- Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot
2. Sirkulasi
- Tanda: hipertensi, pucat,edema
3. Eliminasi
- Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)
- Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
4. Makanan/cairan
- Gejala: peBB (edema), anoreksia, mual,muntah
- Tanda: penurunan haluaran urine
5. Pernafasan
- Gejala: nafas pendek
- Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)
6. Nyeri/kenyamanan
- Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala
- Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada laboratorium didapatkan:
- Hb menurun
- Ureum dan serum kreatinin meningkat
- Elektrolit serum (natrium meningkat)
- Urinalisis (BJ. Urine meningkat, albumin , Eritrosit , leukosit )
- Pada rontgen:
IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes)

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan bd.produksi urine yang menurun akibat dari penurunan filtrasi ginjal.
2. perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan bd. Intake yang kurang.
3. Intoleransi aktivitas bd. Kelemahan fisik, bedrest.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit (infeksi sekunder) bd. Perubahan metabolisme dan sirkkulasi tubuh.

I. IMPLEMENTASI
Diagnosa keperawatan 1.
* Observasi tanda vital tiap 2 jam
* Kaji status cairan, observasi intake dan output
* Jelaskan pada pasien pentingnya pembatasan cairan
* Timbang BB tiap hari pada waktu, alat dan pakaian yang sama
* Observasi hasil lab: BJ. Urine, Albumin, elektrolit, darah (kalium dan natrium)
Diagnosa keperawatan 2.
* Catat pemasukan makanan setiap kali habis makan
* Catat gejala yg timbul stlh makan, seperti: mual muntah
* Kaji pola dan kebiasaan makan pasien
* Sajikan makanan yang menarik dan selalu hangat, porsi kecil tapi sering.
* Pemberian diet tinggi kalori rendah protein, tinggi karbo hidrat rendah garam.
* Observasi hasil lab: BUN dan serum creatinin.
Diagnosa Keperawatan 3.
* Kaji aktivitas yang biasa dilakukan Pasien setiap hari
* Anjurkan pasien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya
* Bantu aktivitas yang belum dapat dilakukan sendiri oleh pasien.
* Batasi aktivitas pasien selama di rawat
Diagnosa Keperawatan 4.
* Jelaskan pd pasien tujuan dari setiap tind. yg dilakukan.
* Observasi keadaaan perkembangan kulit setiap hari.
* Kebersihan kuku.
* Miring kiri-kanan setiap 2 jam.
* Lakukan masase,olesi minyak untuk memperlancar aliran darah
* Pertahankan kondisi kulit tetap kering.
* Anjurkan pasien memakai pakaian/alat-alat tenun dari bahan katun

J. EVALUASI
* Intake dan output cairan seimbang.
* Tidak ada udema.
* Tanda-tanda vital: TD: 120/80 mmHg, RR: 20 X/m, HR: 80 X/mt, suhu: 367o C.
* Kadar elektrolit darah normal.
* Tidak ada mual, muntah.
* Pasien dapat menghabiskan porsi makanan yang dihidangkan.
* Tidak ada gatal-gatal dan lecet pada kulit.
* Tahan terhadap aktivitas tanpa ada kelelahan.

Minggu, 26 Juni 2011

ASKEP BRONCHOPNEUMONIA

ASKEP BRONCHOPNEUMONIA

A. PENGERTIAN
Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat (Whalley and Wong, 1996).
Bronchopneumina adalah frekwensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G. Bare, 1993).
Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing (Sylvia Anderson, 1994).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.

B. ETIOLOGI
1. Bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis.
2. Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
3. Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococcus Nepromas, Blastomices Dermatides, Cocedirides Immitis, Aspergillus Sp, Candinda Albicans, Mycoplasma Pneumonia. Aspirasi benda asing.
4. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.



C. PATOFISIOLOGI
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema ( tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. Secara singkat patofisiologi dapat digambarkan pada skema proses.

D. MANIFESTASI KLINIS
Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas. Penyakit ini umumnya timbul mendadak, suhu meningkat 39-40 OC disertai menggigil, napas sesak dan cepat, batuk-batuk yang non produktif “napas bunyi” pemeriksaan paru saat perkusi redup, saat auskultasi suara napas ronchi basah yang halus dan nyaring.
Batuk pilek yang mungkin berat sampai terjadi insufisiensi pernapasan dimulai dengan infeksi saluran bagian atas, penderita batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia dan kesulitan menelan.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar.



2. Secara laboratorik ditemukan leukositosis biasa 15.000 – 40.000 / m dengan pergeseran LED meninggi.
3. Foto thorax bronkopeumoni terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.

F. PENATALAKSANAAN
Kemotherapi untuk mycoplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 X 500 mg sehari atau Tetrasiklin 3 – 4 mg sehari.
Obat-obatan ini meringankan dan mempercepat penyembuhan terutama pada kasus yang berat. Obat-obat penghambat sintesis SNA (Sintosin Antapinosin dan Indoksi Urudin) dan interperon inducer seperti polinosimle, poliudikocid pengobatan simtomatik seperti :
1. Istirahat, umumnya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah.
2. Simptomatik terhadap batuk.
3. Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusif
4. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator.
5. Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebab yang mempunyai spektrum sempit.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :
1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.


3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
4. Infeksi sitemik
5. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
6. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.


ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan
a) Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam,
b) Anorexia, sukar menelan, mual dan muntah.
c) Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi.
d) Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan
e) Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernapasan cepat dan dangkal,
gelisah, sianosis

2. Pemeriksaan fisik
a) Demam, takipnea, sianosis, pernapasan cuping hidung
b) Auskultasi paru ronchi basah
c) Laboratorium leukositosis, LED meningkat atau normal
d) Rontgent dada abnormal (bercak, konsolidasi yang tersebar pada kedua paru)

3. Factor fsikologis / perkembangan memahami tindakan
a) Usia tingkat perkembangan
b) Toleransi / kemampuan memahami tindakan
c) Koping
d) Pengalaman terpisah dari keluarga / orang tua
e) Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya

4. Pengetahuan keluarga / orang tua
a) Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit saluran pernapasan
b) Pengalaman keluarga tentang penyakit saluran pernafasan
c) Kesiapan / kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli.
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.
4. Resiko tinggi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang tidak adekuat.
5. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
6. Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien berhubungan dengan
kurangnya informasi.
7. Cemas anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi

C. INTERVENSI
1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan
sekret.
Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif.
Kriteria Hasil : sekret dapat keluar.
Rencana tindakan :
1. Monitor status respirasi setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan pernapasan dan bunyi napas abnormal.
2. Lakukan suction sesuai indikasi.
3. Beri terapi oksigen setiap 6 jam
4. Ciptakan lingkungan nyaman sehingga pasien dapat tidur dengan tenang
5. Beri posisi yang nyaman bagi pasien
6. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernapasan
7. Lakukan perkusi dada
8. Sediakan sputum untuk kultur / test sensitifitas

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli
Tujuan : pertujaran gas kembali normal.
Kriteria Hasil : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas
secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat
Rencana tindakan :
1. Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda cianosis
2. Beri posisi fowler sesuai program / semi fowler
3. Beri oksigen sesuai program
4. Monitor AGD
5. Ciprtakan lingkungan yang nyaman
6. Cegah terjadinya kelelahan

3. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
Tujuan : Klien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal
Kriteria Hasil : Tanda dehidrasi tidak ada.
Rencana tindakan :
1. Catat intake dan output cairan (balanc cairan)
2. Anjurkan ibu untuk tetap memberikan cairan peroral
3. Monitor keseimbangan cairan , membran mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tanda vital.
4. Pertahankan keakuratan tetesan infus
5. Observasi tanda-tanda vital (nadi, suhu, respirasi)

4. Resiko tinggi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat
Tujuan : Kebuituhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil : Klien dapat mempertahankan/meningkatkan pemasukan
nutrisi.

Rencana tindakan :
1. Kaji status nutrisi klien
2. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen klien (auskultasi, perkusi, palpasi, dan inspeksi)
3. Timbang BB klien setiap hari.
4. Kaji adanya mual dan muntah
5. Berikan diet sedikit tapi sering
6. Berikan makanan dalam keadaan hangat
7. kolaborasi dengan tim gizi

5. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.
Kriteria Hasil : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses
infeksi hilang
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital
2. Berikandan anjurkan keluarga untuk memberikan kompres dengan air pada daerah dahi dan ketiak
3. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan
4. Berikan minum per oral
5. Ganti pakaian yang basah oleh keringat
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penurun panas.

6. Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien berhubungan
dengan kurangnya informasi
Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit
anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan
keperawatan
Kriteria Hasil : Orang tua klien mengerti tentang penyakit anaknya.


Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya
2. Kaji tingkat pendidikan orang tua klien
3. Bantu orang tua klien untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan dirumah sakit seperti : diet, istirahat dan aktivitas yang sesuai
4. Tekankan perlunya melindungi anak.
5. Jelaskan pada keluarga klien tentang Pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, pencegahan dan komplikasi dengan memberikan penkes.
6. Beri kesempatan pada orang tua klien untuk bertanya tentang hal yang belum dimengertinya

7. Cemas anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi
Tujuan : Cemas anak hilang
Kriteria Hasil : Klien dapat tenang, cemas hilang, rasa nyaman terpenuhi
setelah dilakukan tindakan keperawatan
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat kecemasan klien
2. Dorong ibu / keluarga klien mensufort anaknya dengan cara ibu selalu didekat klien.
3. Fasilitasi rasa nyaman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya
4. Lakukan kunjungan, kontak dengan klien
5. Anjurkan keluarga yang lain mengunjungi klien
6. Berikan mainan sesuai kesukaan klien dirumah

D. EVALUASI
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Brochopneumonia adalah :
1. Pertukaran gas normal.
2. Bersihan jalan napas kembali efektif
3. Intake dan output seimbang
4. Intake nutrisi adekuat
5. Suhu tubuh dalam batas normal
6. Pengetahuan keluarga meningkat
7. Cemas teratasi

DAFTAR PUSTAKA

DR.
Nursalam, M.Nurs, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak.
Jakarta : Salemba Medika
A. Aziz Alimul Hidayat. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika

ASKEP Asthma

Definisi
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai stimulan.
Patofisiologi
- Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
- Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
- Respon Asma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.
- Asma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan udara dingin.
- Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan
- Anak yang mengalami Asma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan Asmati, CO2 terthan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hypocapnea).
Alergen, Infeksi, Exercise ( Stimulus Imunologik dan Non Imunologik )

Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper
IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas
Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit
Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang ( histamin )
Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )
Peningkatan produksi mukus ( sumbatan sekret )
Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )

Hiperresponsif jalan napas
Asma
- Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa dan meningkatnya produksi sekret.
- Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas.
- Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
- Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
- Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik
- Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan

Komplikasi
- Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
- Chronik persistent bronchitis
- Bronchiolitis
- Pneumonia
- Emphysema.

Etiologi
- Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
- Faktor intrinsik; infeksi : para influenza virus, pneumonia,Mycoplasma.Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

Manifestasi klinis
- Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
- Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
- Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit.
- Tachypnea, orthopnea.
- Diaphoresis
- Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
- Fatigue.
- Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
- Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
- Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.
- Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
- Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
- X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”

Pemeriksaan Diagnostik
- Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
- Foto rontgen
- Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
- Pemeriksaan alergi
- Pulse oximetri
- Analisa gas darah.

Penatalaksanaan serangan asma akut :
- Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral.
- Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
- Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) :
a. Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
- Efedrin : 0,5 – 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
- Salbutamol : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
- Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.
b. Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
- Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
- Teofilin : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia, palpitasi, iritasi gastrointistinal,rangsangan sistem saraf pusat;gejala toxic;sering muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump.
c. Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus. Prednison : 0,5 – 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).

ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
1.1. Identitas
Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.
1.2. Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas.
1.3. Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.
1.4. Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.
1.5. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor yang lain.
1.6. Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma.
1.7. Riwayat tumbuh kembang
1.7.1. Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.
1.7.2. Tahap perkembangan.
- Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
- Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
- Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
- Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
- Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
- Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
- Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
- Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
- Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
- Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.
1.8. Riwayat imunisasi
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
1.9. Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi
Klasifikasinya sebagai berikut :
* Gizi buruk kurang dari 60%
* Gizi kurang 60 % - <80 % * Gizi baik 80 % - 110 % * Obesitas lebih dari 120 % 1.10. Dampak Hospitalisasi Sumber stressor : 1. Perpisahan a. Protes : pergi, menendang, menangis b. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi c. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi 2. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut. 3. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit. 4. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan. 1.11. Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem 1.11.1. Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal. 1.11.2. Sistem Cardiovaskuler Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan. 1.11.3. Sistem Persyarafan / neurologi Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng → apatis → sopor → coma. 1.11.4. Sistem perkemihan Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas. 1.11.5. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering. 1.11.6. Sistem integumen Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA INTERVENSI 1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, udem mukosal dan meningkatnya sekret. Tujuan . : . Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal, bersihan jalan nafas yang efektif dan pola nafas dalam batas normal. Kriteria hasil . : . PO2 dan CO2 dalam batas nilai normal, tidak sesak nafas, batuk produktif, cianosis tdak ada, tidak ada tachypnea,ronki dan wheesing tidak ada Intervensi : - Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ). - Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam. - Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry. - Kaji kenyamanan posisi tidur anak. - Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan catat kemudian laporkan dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia. - Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral - Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ). - Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan. - Berikan terapi bermai sesuai usia. 2. Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas. Tujuan . : . Anak tidak tampak fatigue. Kriteria . : . Tidak iritabel, dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan kondisi. Intervensi . : - Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia, tachypnea. - Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup. - Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak. - Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi. - Berikan oksigen humidifikasi sesuai program. - Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah terapi. - Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi,dan memperluas perkembangan psikososial. 3. Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distres pernafasan. Tujuan . : . Kecemasan menurun Kriteria . : . Anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, orang tua merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak. - Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi. - Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support. - Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal - Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi. - Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak. - Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan. 4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan. Goal . : . Status hidrasi adekuat Kriteria . : . Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/ kg per jam.
- Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urin, ukur grapitasi urin atau berat jenis urin ( nilai 1.003-1030 ).
- Monitor elektrolit
- Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
- Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan caiaran ( overload )
- Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat meningkatkan bronkospasme ( air dingin ).
- Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan.
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik.
Goal . : . Orang tua mendemonstrasikan koping yang tepat
Kriteria . : . Mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan . aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan . psikososial pada anak.
- Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan.
- Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
- Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
- Informasikan kepada orang tua tentang kondisi anak
- Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan.
Goal . : . Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan . pengobatan dan mengikuti regimen terapi yang diberikan.
Kriteria . : . Berpartispasi dalam memberikan perawatan pada anak sesuai dengan program medik atau perawatan, misalnya memberikan makan dan minum yang cukup, memberi minum obat oral pada anak sesuai program.
- Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi.
- Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus.
- Jelaskan tentang emosi dan stres yang dapat menjadi faktor pencetus.
- Jelaskan tentang pentingnya pengobatan; dosis, efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah.
- Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang.
- Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas.
- Jelaskan tentang pentingnya terapi bermain sesuai usia.

Perencanaan Pemulangan
* Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
* Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
* Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya.
* Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
* Ajarkan penggunaan nebulizer.
* Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian.
* Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
* Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
* Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya
Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan Infomedika Jakarta.
Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV Sagung Seto Jakarta.
Definisi
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai stimulan.
Patofisiologi
- Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
- Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
- Respon Asma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.
- Asma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan udara dingin.
- Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan
- Anak yang mengalami Asma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan Asmati, CO2 terthan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hypocapnea).
Alergen, Infeksi, Exercise ( Stimulus Imunologik dan Non Imunologik )

Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper

IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas

Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit

Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang ( histamin )

Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )
Peningkatan produksi mukus ( sumbatan sekret )
Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )

Hiperresponsif jalan napas

Asma

- Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa dan meningkatnya produksi sekret.
- Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas.
- Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
- Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
- Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik
- Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan

Komplikasi
- Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
- Chronik persistent bronchitis
- Bronchiolitis
- Pneumonia
- Emphysema.

Etiologi
- Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
- Faktor intrinsik; infeksi : para influenza virus, pneumonia,Mycoplasma.Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

Manifestasi klinis
- Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
- Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
- Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit.
- Tachypnea, orthopnea.
- Diaphoresis
- Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
- Fatigue.
- Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
- Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
- Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.
- Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
- Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
- X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”

Pemeriksaan Diagnostik
- Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
- Foto rontgen
- Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
- Pemeriksaan alergi
- Pulse oximetri
- Analisa gas darah.

Penatalaksanaan serangan asma akut :
- Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral.
- Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
- Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) :
a. Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
- Efedrin : 0,5 – 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
- Salbutamol : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
- Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.

b. Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
- Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
- Teofilin : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia, palpitasi, iritasi gastrointistinal,rangsangan sistem saraf pusat;gejala toxic;sering muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump.

c. Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus. Prednison : 0,5 – 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).

ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
1.1. Identitas
Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.
1.2. Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas.
1.3. Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.
1.4. Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.
1.5. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor yang lain.
1.6. Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma.

1.7. Riwayat tumbuh kembang
1.7.1. Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.

1.7.2. Tahap perkembangan.
- Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
- Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
- Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
- Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
- Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
- Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
- Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
- Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
- Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
- Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.
1.8. Riwayat imunisasi
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
1.9. Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi
Klasifikasinya sebagai berikut :
- Gizi buruk kurang dari 60%
- Gizi kurang 60 % - <80 % - Gizi baik 80 % - 110 % - Obesitas lebih dari 120 % 1.10. Dampak Hospitalisasi Sumber stressor : 1. Perpisahan a. Protes : pergi, menendang, menangis b. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi c. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi 2. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut. 3. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit. 4. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan. 1.11. Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem 1.11.1. Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal. 1.11.2. Sistem Cardiovaskuler Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan. 1.11.3. Sistem Persyarafan / neurologi Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng → apatis → sopor → coma. 1.11.4. Sistem perkemihan Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas. 1.11.5. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering. 1.11.6. Sistem integumen Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA INTERVENSI 1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, udem mukosal dan meningkatnya sekret. Tujuan . : . Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal, bersihan jalan nafas yang efektif dan pola nafas dalam batas normal. Kriteria hasil . : . PO2 dan CO2 dalam batas nilai normal, tidak sesak nafas, batuk produktif, cianosis tdak ada, tidak ada tachypnea,ronki dan wheesing tidak ada Intervensi : - Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ). - Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam. - Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry. - Kaji kenyamanan posisi tidur anak. - Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan catat kemudian laporkan dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia. - Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral - Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ). - Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan. - Berikan terapi bermai sesuai usia. 2. Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas. Tujuan . : . Anak tidak tampak fatigue. Kriteria . : . Tidak iritabel, dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan kondisi. Intervensi . : - Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia, tachypnea. - Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup. - Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak. - Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi. - Berikan oksigen humidifikasi sesuai program. - Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah terapi. - Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi,dan memperluas perkembangan psikososial. 3. Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distres pernafasan. Tujuan . : . Kecemasan menurun Kriteria . : . Anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, orang tua merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak. - Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi. - Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support. - Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal - Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi. - Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak. - Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan. 4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan. Goal . : . Status hidrasi adekuat Kriteria . : . Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/ kg per jam.
- Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urin, ukur grapitasi urin atau berat jenis urin ( nilai 1.003-1030 ).
- Monitor elektrolit
- Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
- Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan caiaran ( overload )
- Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat meningkatkan bronkospasme ( air dingin ).
- Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan.
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik.
Goal . : . Orang tua mendemonstrasikan koping yang tepat
Kriteria . : . Mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan . aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan . psikososial pada anak.
- Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan.
- Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
- Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
- Informasikan kepada orang tua tentang kondisi anak
- Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan.
Goal . : . Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan . pengobatan dan mengikuti regimen terapi yang diberikan.
Kriteria . : . Berpartispasi dalam memberikan perawatan pada anak sesuai dengan program medik atau perawatan, misalnya memberikan makan dan minum yang cukup, memberi minum obat oral pada anak sesuai program.
- Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi.
- Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus.
- Jelaskan tentang emosi dan stres yang dapat menjadi faktor pencetus.
- Jelaskan tentang pentingnya pengobatan; dosis, efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah.
- Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang.
- Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas.
- Jelaskan tentang pentingnya terapi bermain sesuai usia.

Perencanaan Pemulangan
- Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
- Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
- Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya.
- Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
- Ajarkan penggunaan nebulizer.
- Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian.
- Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
- Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
- Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.


DAFTAR PUSTAKA

Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya
Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan Infomedika Jakarta.
Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV Sagung Seto Jakarta.

ASKEP KATARAK

A. KONSEP DASAR MEDIS

1. DEFINISI

Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran. (Brunner & Suddarth,2002;1996)

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yag dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa,denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif. ( Mansjoer,2000;62 )

Katarak adalah terjadinya opasitas secara progesif pada lensa atau kapsul lensa,umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang yang lebih dari 65 tahun. ( Doenges,2000;412)

Klasifikasi katarak

1. Katarak kongenital

Katarak ini terjadi akibat kelainan lokal intraokuler atau kelainan umum yang merupakan proses penyakit pada janin dan dapat terjadi bersamaan dengan proses penyakit ibu yang sedang mengandung seperti pada rubiza.

Macam katarak kongenital:

a. Katarak lumelar / zonular

Katarak ini bersifat herediter,ditransmisikan secara dominan,bilateral,dan terlihat setelah lahir. Kekeruhan dapat menutupi pupil. Bila tidak dilakukan dilaasi pupil sering mengganggu penglihatan. Bila kekeruhan sangat tebal sehingga fundus tidak dapat dilihat pada pemeriksaan oftalmoskopi,maka perlu dilakukan aspirasi atau irigasi lensa.

b. Katarak polaris posterior

Disebabkan oleh menetapnya selubung vaskuler lensa,kadang-kadang tiap arteri hialoid yang menetap sehingga mengakibatkan kekeruhan lensa bagian belakang. Pengobatan dengan pembedahan lensa.

c. Katarak polaris anterior

Terjadi saat kornea belum seluruhnya melepaskan lensa dalam perkembangan embrional, mengakibatkan terlambatnya pembentukan bilik mata depan, didapatkan suatu bentuk kekeruhan dalam bilik mata depan yang menuju kornea sehingga memperlihatkan bentuk kekeruhan seperti pyramid, dan berjalan progesif.Pengobatannya tergantung keadaan kelainan. Bila tidak terlihatnya fundus pada pemeriksaan oftalmoskopi maka dilakukan pembedahan.

d. Katarak inti (Nuclear )

Kekeruhan didaerah nucleus lensa,bentuk kekeruhan seperti bintik-bintik yang terlihat bilateral dan berjalan tidak progesif serta tidak mengganggu penglihatan . bersifat herediter atau dominan.

e. Katarak sutural

Kekeruhan lensa didaerah sutura fetal,terjadi bilateral,bersifat statis,dan familial, tidak mengganggu penglihtan karena tidak mengenai media penglihatan.

2. Katarak senile

Katarak ini berhubungan dengan bertambahnya umur dan berkaitan dengan proses penuaan yang terjadi didalam lensa. Perubahan yang tampak adalah bertambah tebalnya nucleus dengan berkembangnya lapisan korteks lensa. Katarak ini sudah tamapak sejak terjadi pengurangan kekuatan akomodasi lensa akibat mulai terjadi skleosis lensa yang timbul pada usia decade 4 dalam bentuk presbiopia. Macamnya

a. Katarak Nuclear

Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik. Inti yag putih kekuning-kuningan menjadi coklat dan kemudian menjadi hitam disebut katarak Brunesen / nigra.

b. Katarak kortikal

Terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. Penderita merasa mendapat kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang bertambah.

2. Katarak Kupuliforit

Terlihat pada stadium dini katarak kortikal / nuclear. Kekeruhan terletak dilapisan korteks posterior dan dapat memberikan gambaran piring. Makin dekat letaknya terhadap kapsul makin cepat bertambahnya katarak.

3. Katarak komplikata

Suatu bentuk kekeruhan lensa akibat penyakit lain tapi bisa pula penyakit intraokuler ( Iridosiklitis,gloukoma,ablasi retina,myopia tinggi ) dan biasanya mengenai suatu mata.

Katarak yang berhubungan dengan penyakit umum akan mengenai kedua mata walau tidak bersamaan. Katarak ini timbul pada usia yang lebih muda. Kelainan umum yang dapat menimbulkan katarak adalah Diabetes Melitus,Hipoparatyroid, Miotonia distrofi dan Titani Infantile. Pengilahan dilakukan bila sudah mengganggu pekerjaan sehari-hari.

4. Katarak Sekunder

Terjadi setelah beberapa bulan setelah ekstraksi katarak ekstra kapsuler atau setelah emulsifikasi. Berupa penebalan kapsul posterior akibat ploriferasi sel-sel radang pada sisa-sisa korteks yang tertinggal. Bila mengganggu tajam penglihatan,penepalan tersebut dibuka dengan sayatan sinar laser ( photo desruption) memakai alat.

5. Katarak Suvenil

Terjadi pada anak-anak sesudah lahir yaitu kekeruhan lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft carahast. Pembedahan dilakukan apabila diperkirakan akan menimbulkan anbliopia.

6. Katarak trauma

Terjadi akibat rudapaksa tumpul atau tajam ( Ilyas,2000 ) cukup untuk mendorong tumor vitreus masuk kekapsul lensa ( Nettina,2002;43 ) pengobatan bila tidak terdapat penyulit dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Penyulit yang dapat terjadi dalam bentuk gloukoma akibat lensa yang mencembung atau uveitis akibat masa lensa

2. ETIOLOGI

Penyebab dari katarak adalah usia lanjut ( senile ) tapi dapat terjadi secara congenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin, genetic, dan gangguan perkembangan, kelainan sistemik, atau metabolic, seperti diabetes melitus, galaktosemi, atau distrofi mekanik, taumatik: terapi kortikosteroid, sistemik, rokok, dan konsumsi alcohol meningkatkan resiko katarak. ( Mansjoer,2000;62 )

Penyebab utama katarak adalah penuaan. Anak dapat menerima katarak yang biasanya merupakan penyakit yang sedang diturunkan, peradangan dalam kehamilan. Faktor lain yaitu diabetes mellitus dan obat tertentu, sinar UVB dari cahaya matahari, efek racun, rokok, dan alkohol,gizi kurang vitamin E dan radang menahun didalam bola mata, serta adanya cidera mata. ( Ilyas,1997;10 )

Katarak biasanya proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran ( katarak congenital ) dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam / tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemis,seperti dibetes mellitus atau hiperparatiroidisme, pemajanan radiasi, pemajanan yang lam sinar matahari ( sinar ultraviolet ) atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior. ( Smeltzer,2002;1996 )

3. MANIFESTASI KLINIS

Keluhan yang timbul adalah penurunan tajam penglihatan secara progesif dan penglihatan seperti berasap, pupil dilatasi, retina sulit dilihat, refleks fundus tidak ada, pupil berwarna putih.

( Mansjoer,2000;62 )

Tanda dan gejala katarak yang muncul adalah penglihatan tidak akan terjadi jernih, penurunan tajam penglihatan, membaca menjadi sukar dan mengendarai kendaraan dimalam hari akan silau terhadap sinar yang datang, penghalang seperti terhalang tabir yang makin lama makin tebal, melihat ganda sebuah benda dan tidak terasa sakit. ( Ilyas,1997; 11-12 )

Keluhan–keluhan pasien katarak adalah:

1. Kemunduran ketajaman penglihatan secara perlahan-lahan, mata silau, penglihatan seperti terhalang asap yang makin lama makin tebal. Suatu saat hanya mampu membedakan gelap dan terang.

2. Mata tidak merah dan tidak ada keluhan sakit

3. Pasien lebih senang berada ditempat dengan penerangan yang kurang.

4. PATOFISIOLOGI

Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan berbentuk seperti kancing baju, meempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nucleus, diperifer terdapat korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya trnsparasi. Perubahan pada serabut halus multiple ( zonula ) yang memajang dari badan silier kesekitar daerah diluar lensa misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi.

Perubahan kimia dalam perubahan lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya keretina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air kedalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu tranmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalm melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda, dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes. Namun sebenarnya katarak merupakan konsekwensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang kronik dan “ matang “. Ketika orang memasuki dekade ketujuh katarak bersifat kongenital dan harus diindentifikasi awal karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alkohol, merokok, diabetes dan asupan antitoksin dan yang kurang dalam jangka waktu yang lama. ( Brunner & Suddarth,2002;1997)

5. PEMERIKSAAN FISIK

1. Kartu nama snellen / mesin telebinokuler ( tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan ) mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akvesus atau vitreus humor, kesalahan refraksi atau penyakit sistem saraf atau penglihatan keretina atau jalan optik.

2. Lapang penglihatan. Penurnan mungkin disebabkan oleh cairan cerebro vaskuler, massa tumor pada hipofisis otak, karotis atau patologis arteri serebral, gloukoma.

3. Pengukuran tonografi. Mengkaji tekanan intraokuler ( TIO ) normalnya 12-25 mmHg.

4. Pemeriksaan oftalmoskopi. Mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma, dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnosa katarak.

5. Darah lengkap, laju sedimentasi ( LED ). Menunjukkan anemia sistemik atau infeksi.

6. EKG, kolesterol serum dan pemeriksaan lipid. Dilakukan untuk memastikan aterosklerosis.

7. Tes toleransi glukosa ( FBS ). Menunjukkan adanya atau kontrol diabetes. ( Marilyn E. Doenges,2000 )

Selain uji mata yang biasa, keratometri dan pemeriksaan lampu slit, dan oftalmoskopis, maka A-scan ultrasound ( Echograpy ) dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel / mm3, pasien ini merupakan kandidat untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi IOL. ( Brunner & Suddarth, 2002 )

6. KOMPLIKASI

Meskipun terjadi perbaikan pengembalian kepandangan penuh yang sempurna pada ekstraksi katarak dan implantasi, ada juga yang komplikasinya. Kerusakan endotel kornea, sumbatan pupil, gloukoma,perdarahan, fistula luka operasi, edema makula sistoid, pelepasan koroid, uveitis dan endoftalmitis. Dapat diubah posisinya kembali dengan pemberian tetes mata dilator, diikuti dengan pemberian posisi kepala dan diakhiri dengan tetes mata konstriktor, atau pasien memerlukan pembedahan lagi untuk mereposisi atau mengangkat IOL.

Komplikasi yang umum terjadi pada pembedahan adalah pembentukan membran sekunder, yang terjadi sekitar 25 %pasien dalam 3 sampai 36 bulan setelah pembedahan. Membran yang terbentuk sering disalah artikan dengan opafikasi kapsul posterior atau katarak sekunder. Membran ini dibentuk sebagai akibat proliferasi sisa epitel lensa. Dapat mempengaruhi penglihatan dengan mengganggu masuknya cahaya dan meningkatkan terjadinya disabilitas silau. Dapat dibuat lubang melalui membran ( kapsulotomi ) dengan jarum atau laser ( laser yag ) untuk mengembalikan penglihatan. ( Brunner & Suddarth,2002 )

7. PENATALAKSANAAN

Tak ada terapi obat untuk katarak, dan tak dapat diambil dengan laser. Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik dicapai 20 / 50 atau lebih buruk lagi. Pembedahan katarak paling sering dilakukan pada orang berusia lebih dari 65 tahun. Dengan menggunakan anesthesia lokal. Macam pembedahannya ada 2 macam yaitu Ekstraksi Katarak Intra Kapsuler dan Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler.

Fakoemulsifikasi merupakan penemuan terbaru pada EKEK, tehnik ini memerlukan penyembuhan yang paling pendek dan penurunan insidensi astigmatisme pasca operasi. Kedua tehnik irigasi-aspirasi dan fakoemulsifikasi dapat mempertahankan kapsula posterior yang nantinya digunakan untuk penyangga IOL. Pengangkatan lensa dapat dilakukan dengan salah satu dari 3 metode; kacamata apakia, lensa kontak, implant IOL. ( Brunner & Suddarth, 2002 )

Penanganan tindakan pembedahan dengan mengangkat lensa merupakan penanganan katarak yang sering dilakukan, biasanya disertai dengan pemasangan lensa intraokuler. Jika pemasangan lensa intraokuler tidak dilakukan, pasien perlu menggunakan kacamata dengan lensa yang tebal untuk menggantikan fungsi lensa yang sudah diangkat tersebut. Perkembangan dramatis telah terjadi dalam tindakan operasi pengangkatan lensa pada saat sekarang ini. Karena tindakan ini merupakan prosedur bedah untuk pasien rawat jalan dan dapat dikerjakan selama 3-4 jam. Ada 2 jenis ekstraksi lensa yaitu intracapsuler extraction adalah pengangkatan keseluruhan lensa dan exstracapsuler extraction adalah pengangkatan lensa tanpa kapsul. ( Charlene J. Reeves,1999;7 )

B. PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian

Riwayat kesehatan pendahuluan diambil untuk menentukan masalah primer pasien. Seperti kesulitan membaca, pandangan mata kabur, rasa terbakar pada mata, mata basah, pandangan ganda, bercak dibelakang mata, atau hilangnya derah penglihatan soliter ( Skotoma, myopia, hiperopia ). Perawat harus menentukan apakah masalahnya hanya mengenai satu atau dua mata dan berapa lama pasien sudah menderita kelainan ini.

Juga penting untuk mengekplorasi keadaan atau status okuler umum pasien: Apakah ia mengenakan kacamata atau lensa kontak? Dimana mereka terakhir dikaji? Apakah pasien sedang mendapat asuhan teratur seorang oftalmologi? Kapan pemeriksaan mata terakhir? Apakah tekanan mata diukur? Apakah pasien mengalami kesulitan melihat ( focus ) pada jarak dekat atau jauh? Apakah ada keluhan dalam membaca atau menonton televisi? Bagaimana dengan masalah membedakan warna, atau masalah dengan penglihatan lateral atau perifer? Apakah pasien pernah mengalami cidera mata atau infeksi mata? Bila ya, kapan? Masalah mata apa yang terdapat dalam keluarga pasien?.

Riwayat mata yang sangat penting. Penyakit apa yang terakhir diderita pasien?

- Masa kanak-kanak – strabismus, ambliopia, cedera ?

- Dewasa- gloukoma, katarak, cedera atau trauma mata, kesalahan refraksi yang dikoreksi, dan bagaimana bentuk koreksinya? Adakah pembedahan mata sebelumnya? Apakah ada diabetes? Hipertensi, gangguan tiroid, gangguan menular seksual, alergi,

- Penyakit kardiovaskuler dan kolagen, kondisi neurologik?

- Penyakit keluarga- adakah riwayat kelainan mata pada family derajat pertama atau kakek-nenek?

Pemahaman pasien mengenai perawatan dan penatalaksanaan mata harus digali untuk mengindentifikasi kesalahan konsepsi atau kesalahan informasi yang dapat dikoreksi sejak awal. ( Brunner & Suddarth,2002;2020 )

Pola fungsional yang digunakan yaitu pola fungsional menurut Virginia Henderson karena teori keperawatan Virginia Henderson ( Harmer & Henderson,1995 ) mencakup seluruh kebutuhan dasar manusia Henderson ( 1964 ) mendefinisikan keperawatan sebagai:

Membantu individu yang sakit dan yang sehat dalam melaksanakan aktivitas yang memiliki kontribusi terhadap kesehatan dan penyembuhannya dimana indivividu tersebut akan mampu mengerjakannya tanpa bantuan bila ia memiliki kekuatan, kemauan dan pengetahuan yang dibutuhkan dan hal ini dilakukan dengan cara membantu mendapatkan kemandiriannya secepat mungkin.

14 kebutuhan dasar Henderson memberikan kerangka kerja dalam melakukan asuhan keperawatan ( Henderson, 1996 )

1. Bernafas dengan normal

Bantuan yang dapat diberikan kepada klien oleh perawat adalah membantu memilih tempat tidur, kursi yang cocok, serta menggunakan bantal, alas dan sejenisnya sebagai alat bantu klien agar dapat bernafas dengan normal dan kemampuan mendemonstrasikan dan menjelaskan pengaruhnya kepada klien. Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda obstruksi jalan nafas dan siap memberikan bantuan dalam keadaan tertentu.

2. Kebutuhan akan nutrisi ( makan dan minum cukup )

Perawat harus mampu memberikan penjelasan mengenai tinggi dan berat badan yang normal. Kebutuhan nutrisi yang diperlukan pemilihan dan penyediaan makanan. Pendidikan kesehatannya akan berhasil apabila diperhatikan latar belakang cultural dan sosial klien. Untuk itu perawat harus mengetahui kebiasaan, kepercayaan klien tentang nutrisi. Disamping perawat harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang nutrisi dan tumbuh kembang.

3. Kebutuhan Eliminasi

Perawatan dasarnya meliputi semua pengeluaran tubuh, perawat harus mengetahui semua saluran pengeluaran dan keadaan normalnya, jarak waktu pengeluaran dan frekuensi pengeluaran, yang meliputi keringat, udara yang keluar saat bernafas.

4. Gerak dan Keseimbangan Tubuh

Perawat harus mengetahui tentang prinsip- prinsip keseimbangan tubuh, miring dan bersandar. Artinya perawat harus bisa memberikan rasa nyaman dalam semua posisi dan tidak membiarkan berbaring terlalu lama pada satu posisi. Perawat harus bisa melindungi pasiennya selama sakit dengan berhati-hati saat memindahkan dan mengangkat.

5. Kebutuhan Istirahat dan Tidur

Istirahat dan tidur sebagian tergantung pada relaksasi otot, untuk itu perawat harus mengetahui tentang pergerakan badan yang baik. Disamping itu juga dipengaruhi oleh emosi ( stress ) dimana stress merupakan keadaan normal dari aktivitas kreativitas.

Dianggap patologis apabila ketegangan dapat diatasi atau tidak terkontrol dengan istirahat atau dengan secukupnya.

6. Kebutuhan Berpakaian: Berpakaian dan Melepas Pakaian

Perawatan dasarnya meliputi membantu klien memilihkan pakaian yang tepat dari pakaian yang tersedia dan membantu untuk memakainya. Perawat tidak boleh memaksakan kepada klien pakaian yang tidak ia sukai karena hal itu dapat menghilangkan rasa kebebasan klien.

7. Mempertahankan Temperatur Tubuh Dalam Rentang Normal

Perawat harus mengetahui fisiologis panas dan bisa mendorong kearah tercapainya keadan panas maupun dingin dengan mengubah temperaturkelembaban atau pergerakan udara atau dengan memotivasi klien untuk meningkatkan atau mengurangi aktivitasnya. Menu makan dan pakaian yang dikenakan ikut mempengaruhi dalam hal ini.

8. Kebutuhan Akan Personal Hygiene ( Menjaga tubuh agar tetap bersih dan rapi )

Klien harus disediakan fasilitas-fasilitas perawatan dan bantuan perawat sangat dibutuhkan untuk membersihkan kulit, rambut, kuku, hidung, mulut dan giginya. Konsep-konsep mengenai kebersihan berbeda tiap klien tetapi tidak perlu menurunkan hanya karena sakit. Sebaliknya standar yang rendah harur ditingkatkan, perawat harus bisa menjaga pasiennya tetap bersih terlepas dari besarnya badan klien, kedudukan, keadaan fisik dan jiwanya.

9. Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman ( Menghindari bahaya dari lingkungan )

Dalam keadaan sehat seseorang bebas mengontrol keadaan sekelilingnya, mengubah keadaan itu bila beranggapan sudah tidak cocok lagi. Jika sakit sikap tersebut tidak dilakukannya. Ketidaktahuan dpat menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Seorang klien mungkin mempunyai pantangan-pantangan yang tidak diketahui petugas kesehatan, kasta, adat istiadat, kepercayaan dan agama mempengaruhi perawat pada dasarnya melindungi klien dari trauma dan bahaya yang timbul oleh organisme patogen.

10. Berkomunikasi Dengan Orang Lain dan Mengekpresikan Rasa Takut dan Pendapat

Keinginan, rasa takut dan pendapat dalam keadaan sehat tiap gerakan emosi nampak pada ekspresi fisik. Bertambah cepatnya denyut jantung atau pernafasan atau muka yang mendadak merah diintrepetasikan sebagai pernyataan jiwa atau emosi. Perawat mempunyai tugas yang kompleks baik yang bersifat pribadi maupun yang menyangkut keseluruhan personalitas dalam hubungan klien dengan tim kesehatan lain dalam memajukan kesehatannya. Tugas terberat perawat adalah membuat klien mengerti dirinya sendiri. Mengerti perlunya perubahan sikap yang memperburuk kesehatannya dan menerima keadaan yang tidak dapat diubah. Penciptaan lingkungan terapeutik sangat membantu dalam hal ini.

11. Kebutuhan Spiritual ( Beribadah Menurut Keyakinan )

Dalam memberikan perawatan dalam situasi apapun kebutuhan spiritual klien harus dihormati dan perawat hrus membantu dalam pemenuhan kebutuhan itu apabila sewaktu sehat melakukan ibadah agama merupakan faktor yang penting bagi seseorang. Maka saat sakit hal itu menjadi lebih penting. Perawat dan petugas kesehatan lainnya harus menyadari bahwa keyakinan, kepercayaan dan agama sangat berpengaruh terhadap upaya penyembuhan.

12. Kebutuhan Bekerja

Dalam perawatan dasar maka penilaian terhadap interpetasi terhadap kebutuhan klien adalah sangat penting. Sakit akan lebih ringan apabila seseorang dapat terus bekerja. Rasa keberatan terhadap terapi bedrest berdasarkan pada meningkatnya perasaan tidak berguna karena tidak efektif. Rehabilitasi pada klien berarti menempatkan kembali pada pekerjaannya yang diproduktif. Makin singkat waktu tidak bekerja, makin mudah dilaksanakan.

13 Kebutuhan Bermain dan Rekreasi

Sering kali keadaan sakit menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan menikmati variasi dan kurang segar serta rekreasi. Untuk itu perlu dipilihkan beberapa aktivitas yang sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kecerdasan, pengalaman, dan selera klien, kondisi serta keadaan penyakitnya.

14. Kebutuhan Belajar, Menggali atau Memuaskan Rasa Keingintahuan Yang Mengacu Pada Perkembangan Kesehatan

Bimbingan, latiahan atau pendidikan merupakan bagian dari pelayanan dasar. Fungsi perawat adalan membantu klien belajar dalam mendorong usaha penyembuhan dan meningkatkan kesehatan, serta memperkuat dan mengikuti rencana terapi yang diberikan. Fungsi perawat sebagai pendidik nampak dalam pemberian bimbingan dengan memberikan contoh-contoh dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Ini dapat dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar, berencana maupun tidak, secara kreatif maupun serampangan. Pembimbingan dapat dilakukan setiap saat ketika perawat memberikan asuhan. ( Perry Potter,2005 )

Riwayat Keperawatan Untuk Pengkajian Mata

Kategori Pengkajian:

a. Tentukan apakah klien memiliki riwayat penyakit mata, trauma mata, diabetes, hipertensi, atau bedah mata. Rasional beberapa penyakit atau trauma dapat menyebabkan resiko kehilangan penglihatan sebagian atau seluruhnya . pembedahan sudah banyak dilakukan untuk mengatasi gangguan penglihatan.

b. Tentukan masalah yang membuat klien mencari layanan kesehatan. Tanyakan pada klien tentang nyeri mata, fotofobia ( sensitive terhadap cahaya ), rasa terbakar, gatal, air mata, atau krusta yang berlebihan, diplopia ( penglihatan ganda ), penglihatan kabur, kesadaran adanya “ film “ dilapang pandang, floater ( bercak hitam kecil, yang terlihat mengambang melintasi lapang pandang ) kilatan cahaya, atau halo sekitar cahaya. Rasional gejala umum penyakit mata mengindikasiakn rujukan ke dokter.

c. Tentukan apakah terdapat riwayt gangguan atau penyakit mata dalam keluarga. Rasional masalah mata tertentu seperti gloukoma atau retinitis pigmentosa bersifat diturunkan.

d. Kaji riwayat pekerjaan dan hobi rekreasi klien apakah ia menggunakan kacamata pelindung? Rasional melakukan pekerjaan dekat dan mengiritasi dapat menyebabkan mata letih. Bekerja dengan komputer dapat menyebabkan ketegangan mata. Tugas pekerjaan tertentu ( misal bekerja dengan zat kimia ) dan aktivitas rekreasi ( misal anggar atau balap motor ) menempatkan seseorang pada resiko cedera mata kecuali jika sudah dilakukan tindakan kewaspadaan.

e. Tanyakan pada klien apakah ia memakai kacamata atau lensa kontak: jika ya seberapa sering ia memakainya? Rasional kacamata atau lensa kontak harus dipakai pada bagian tertentu pemeriksaan untuk mendapatkan pengkajian yang akurat.

f. Tentukan apakah klien terakhir kalinya berkunjung kedokter mata atau optometris. Rasional tanggal pemeriksaan terakhir menunjukkan tingkat perawatan preventif yang dilakukan klien

g. Kaji obat-obatan yang digunakan klien termasuk tetes mata atau salep mata. Rasional menentukan kebutuhan untuk mengkaji pengetahuan klien tentang obat. Obat tertentu dapat menyebabkan gejala penglihatan. ( Perry Potter,2005)

Fokus Pengkajian

1. Aktivitas dan istirahat

Gejala : Perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.

2. Makanan dan Cairan

Gejala : Mual / muntah

3. Neurosensori

Gejala : - Gangguan penglihatan ( kabur / tidak jelas ), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat / merasa diruang gelap.

- Perubahan kacamata atau pengobatan untuk tidak memperbaiki penglihatan.

Tanda : - Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil

- Peningkatan air mata

4. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Ketidaknyamanan ringan / mata berair

5. Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : Riwayat keluarga gloukoma, diabetes, gangguan sistem vaskuler,terpajan pada radiasi, steroid atau toksisitas fetotiazin. ( doenges,2000 )

b. Fokus Intervensi

1. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan peningkatan TIO ( Doenges,2000 )

Hasil yang diharapkan klien akan:

a. Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cidera

b. Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk melindungi diri dari cidera.

c. Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.

Intervensi

a. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri,pembatasan aktivitas, penampilan dan balutan mata.

b. Batasi aktivitas seperti menggerakkan mata tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk.

d. Ajarkan penggunaan tehnik manajemen stress, missal: nafas dalam dan latihan relaksasi.

e. Observasi pembengkakan luka

f. Beri obat sesuai indikasi, missal antiemetic,asetazolamid, silklopegis, analgetic.

2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive bedah pengangangkatan katarak. ( Doenges,2000 )

Hasil yang diharapkan klien akan

a. Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu

b. Mengindentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.

Intervensi

a. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh atau mengobati mata.

b. Ajarkan tehnik yang tepat untuk membersihkan mata

c. Tekankan untuk tidak menyentuh atau menggaruk mata yang dioperasi

d. Observasi tanda terjadinya infeksi

e. Beri obat sesuai indikasi misal antibiotik

3. Gangguan sensori perceptual, penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori. ( Doenges,2000 )

Intervensi:

a. Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain yang ada dilingkungannya

b. Observasi tanda dan gejala disorientasi

c. Perhatikan tentang curam atau penglihatan kabur dan iritasi mata.

d. Anjurkan pasien menggunakan kacamata katarak

e. Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan pada sisi yang tidak dioperasi

4. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler ( Carpenito,2000 )

Intervensi:

a. Jelaskan sebab-sebab nyeri kepada individu jika diketahui

b. Hubungkan penerimaan anda tentang respon individu terhadap nyeri, mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai nyeri

c. Anjurkan keluarga untuk tetap memberikan perhatian walaupun nyeri tidak diperlihatkan.

d. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

e. Ajarkan strategi relaksasi khusus.

f. Berikan individu pereda rasa sakit yang optimal dengan analgetik.

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tdak mengenal sumber informasi. ( Doenges,2000 )

Hasil yang diharapkan:

a. Mengatakan pemahaman kondisi atau proses penyakit dan pengobatan.

b. Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi

a. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin.

b. Informasikan pasien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas

c. Ajarkan metode yang tepat untuk memasukkan obat tetes mata untuk meminimalkan efek sistemik.

d. Anjurkan pasien tidur terlentang, mengatur intensitas lampu, dan menggunakan kacamata gelap bila keluar atau dalam ruangan terang

e. Dorong pemasukan air adekuat, makanan berserat.

2. Clinical Pathways dan Fokus Intervensi

a. Clinical Pathways

Usia lanjut, Fx genetic Kongenital akibat penggunaan kelainan sistem

Gangguan pertumbuhan infeksi virus dimasa kartikostero- metabolic (DM)

Konsumsi rokok & al- pertumbuhan janin id jangka kekurangan

Kohol, traumatik (contoh : virus jer- panjang insulin penim-

Bunan sorbitol & fruktosa di

Dalam lensa

Perubahan nekleus &

Kortek lensa

Lensa keruh

KATARAK

Kurang informasi Operasi

MK5

Kurang Pengetahuan Lensa pengganti Sayatan selaput

bening

Tanpa pembedahan

Tekanan vena-vena

mengadakan drainase jahitan banyak

Kapsul lensa humor Aquos

Semi permiabel

Penyembuhan lama

Peningkatan TIO

Ruptur kapsul Gangguan penerimaan

Sensori

Kerusakan lensa

Ruang anterior MK1 MK2

Resiko Cidera Resti Infeksi MK3

Gangguan sensori

Perseptual peng-

Buta MK4 lihatan

Nyeri