Entri Populer

Sabtu, 31 Maret 2012

askep haemoroid

PENGERTIAN

Hemorrhoid adalah pembengkakan atau distensi vena di daerah anorektal. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Literatur lain menyebutkan bahwa hemorrhoid adalah varices vena eksternal dan / atau internal dari kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena-vena anorektal.

Ò Hemorrhoid adalah pelebaran vena didalam pleksus hemoridalis yang tidak merupakan keadaan patologik

Ò Apabila menyebabkan keluhan atau penyulit perlu diberikan tindakan

ETIOLOGI

    1. Kehamilan
    2. Konstipasi (karena diit rendah serat atau rering menahan buang air besar)
    3. Mengangkat benda berat
    4. Berdiri atau duduk yang lama.

PATHOFISIOLOGI

Distensi vena awalnya merupakan struktur yang normal pada daerah anus, karena vena-vena ini berfungsi sebagai katup yang dapat membantu menahan beban, namun bila distensi terjadi terus menerus akan timbul gangguan.

Salah satu faktor predisposisi yang dapat menimbulkan distensi vena adalah peningkatan tekanan intra abdominal. Kondisi ini menyebabkan peningkatan tekanan vena porta dan tekanan vena sistemik, yang kemudian akan ditransmisi ke daerah anorektal. Elevasi tekanan yang berulang-ulang akan mendorong vena terpisah dari otot disekitarnya sehingga vena mengalami prolaps. Keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya elevasi yang berulang antara lain adalah obstipasi / konstipasi, kehamilan dan hipertensi portal. Hemorrhoid dapat menjadi prolaps, berkembang menjadi trombus atau terjadi perdarahan.

Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke dalam sistem portal. Selain itu sistem portal tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik

Klasifikasi hemorrhoid:

A. Hemorrhoid interna

Tidak dapat dilihat melalui inspeksi perianal, terletak di atas spincter ani.

àadalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa

àMerupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah

àTerdapat pada 3 posisi primer yaitu kanan depan, kanan belakang dan kiri lateral

Derajat hemorrhoid interna

HEMOROID INTERNA
DerajatBerdarahMenonjolReposisi
I+--
II++Spontan
III++Manual
IV+TetapTidak dapat

B. Hemorrhoid externa

Terletak di bawah spincter ani, sehingga dengan jelas dapat dilihat melalui inspeksi pada anus.

àMerupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus

Hemorrhoid ekterna yang mengalami trombosis

Ò Merupakan trombosis vena hemorhoidalis eksterna

Ò Terjadi karena tekanan tinggi di vena tersebut akibat mengangkat barang berat, batuk, bersin, mengedan atau partus

Ò Ditandai dengan adanya benjolan di bawah kulit kanalis analis yang nyeri sekali, tegang, berwarna kebiru – biruan, berukuran beberapa milimeter sampai 1 – 2 cm. dapat unilobular atau bebrapa benjolan. Ruptur dapat erjadi pada dinding vena

Ò Pada awal sangat nyeri kemudian berkurang dalam waktu 2 – 3 hari. Ruptur spontan dapat diikuti dengan perdarahan. Resolusi spontan dapat terjadi tanpa terapi setelah 2 – 4 hari

Faktor predisposisi

Ò Mengedan saat defekasi

Ò Konstipasi menahun

Ò Kehamilan

Ò Obesitas

Ò Beberapa faktor etiologi telah diajukan, termasuk konstipasi atau diare, sering mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran prostat, fibroma uteri, dan tumor rectum.

TANDA DAN GEJALA

Ò Perdarahan; merupakan tanda pertama hemorrhoid interna akibat trauma oleh feces yang keras. Warna darah merah segar dan tak bercampur dengan feces, segaris atau menetes. Akibat perdarahan yang berulang dapat menyebabkan anemia.

Ò Penonjolan/prolaps akibat pembesaran hemorroid secara perlahan, pada awalnya terjadi pada waktu defekasi dan disusul reduksi spontan setelah defekasi. Pada stadium lanjut prolaps perlu didorong agar kembali masuk ke anus.

Ò Pada tahap lanjut prolaps menetap dan tidak dapat didorong lagi

ciri – ciri prolaps menetap:

à keluar mukus dan terdapat feces pada bagian dalam

à terdapat iritasi kulit perianal yg menimbulkan gatal atau pruritus anus, disebabkan oleh karena kelembaban yang terus menerus dan rangsangan mukus

Ò Nyeri timbul apabila terdapat trombosis yang luas dengan udema dan radang

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Ò Colok dubur

Ò Anuskopi/rectoscopy

Ò Proktosigmoidoscopi, untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau keganasan

Ò Pemeriksaan feces terhadap adanya darah samar

DIAGNOSA BANDING

Ò Karsinoma kolorektum

Ò Divertikulum

Ò Polip usus

Ò Colitis ulcerative

PENATALAKSANAAN

Ò Tujuannya untuk menghilangkan keluhan

Ò Hemorhoid derajat I dan II dapat ditolong dengan tindakan lokal sederhana disertai nasehat tentang makan (sebaiknya makanan berserat tinggi)

Ò Suppositoria dan salep anus untuk efek anestetik dan astrigen

Ò Hemorrhoid interna yang mengalami prolaps dapat dimasukkan kembali secara perlahan dan disusul dengan istirahat baring dan kompres lokal untuk mengurangi pembengkakan

Ò Rendam duduk dengan cairan hangat dapat meringankan nyeri

Ò Bila penyakit radang usus yang mendasari terapi medik harus diberikan

Ò Skleroterapi : penyuntikan diberikan submukosa di dalam jaringan alveolar yang longgar dengan tujuan menimbulkan peradangan sterilàfibrotik & parut

Ò Ligasi dengan gelang karet untuk hemorrhoid besar atau prolaps

Ò Bedah beku/cryo surgery: hemorrhoid dibekukan dengan pendinginan suhu rendah

Ò Hemorodektomi: untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan hemoroid derajat III dan IV atau penderita dengan perdarahan berulang dan anemia atau hemorrhoid derajat IV yang mengalami trombosis dan kesakitan hebat

IV. PENGKAJIAN FOKUS

A. Subyektif

1.Batasan karakteristik

1) Pola makan dan minum

a. Kebiasaan

b. Keadaan saat ini

2) Riwayat kehamilan

Kehamilan dengan frekwensi yang sering akan menyebabkan hemorrhoid berkembang cepat

3) Riwayat penyakit hati

Pada hypertensi portal, potensi berkembangnya hemorrhoid lebih besar.

4) Gejala / keluhan yang berhubungan

a. Perasaaan nyeri dan panas pada daerah anus

b. Perdarahan dapat bersama feces atau perdarahan spontan (menetes)

c. Prolaps (tanyakan pasien sudah berapa lama keluhan ini, faktor-faktor yang menyebabkannya dan upaya yang dapat menguranginya serta upaya atau obat-obatan yang sudah digunakan)

d. Gatal dan pengeluaran sekret melalui anus

B.Obyektif

1. Batasan karakteristik

1) Pemeriksaaan daerah anus

a. Tampak prolaps hemorrhoid, atau pada hemorrhoid eksterna dapat dilihat dengan jelas. Rasakan konsistensinya, amati warna dan apakah ada tanda trombus juga amati apakah ada lesi.

b. Pemeriksaan rabaan rektum (rectal toucher)

2) Amati tanda-tanda kemungkinan anemia :

3) Warna kulit

4) Warna konjungtiva

5) Waktu pengisian kembali kapiler

6) Pemeriksaan Hb

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  2. Konstipasi berhubungan dengan menahan bab akibat nyeri selama eliminasi

Ò Berikan dan anjurkan minum kurang lebih 2 liter perhari

Ò Berikan dan anjurkan makanan tinggi serat

Ò Berikan laxative sesuai program dokter

Ò Anjurkan pasien untuk segera BAB bila timbul keinginan untuk BAB

  1. Nyeri anal berhubungan dengan trombus vena hemoroidalis

a. Tujuan: nyeri berkurang sampai dengan hilang dengan kriteria

1) Wajah pasien tampak tenang

2) Tanda-tanda vital normal

3) Pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang

4) Pasien dapat istirahat tidur

b. Intervensi:

1) Berikan posisi yang nyaman

2) Berikan bantalan dibawah bokong saat duduk

3) Berikan kompres dingin

4) Observasi tanda-tanda vital

5) Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti membaca, menonton, menarik nafas panjang, menggosok punggung, dan lain-lain.

6) Pada nyeri awal berikan kompres dingin pada daerah anus 3 – 4 jam dilanjutkan dengan rendam duduk hangat 3 – 4 x/hari

7) Pertahankan rendam duduk (sit bath) dengan larutan hangat, dengan larutan PK 2 x/hari. Sit bath 3 sampai 4 kali sehari

8) Berikan diit tinggi serat dan hidrasi yang cukup

9) Libatkan keluarga dalam memberikan rasa nyaman bagi pasien

10) Jelaskan pada pasien tentang rasa nyeri yang dialaminya dan tentang tindakan dilakukan

11) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik, pelunak feces

c. Evaluasi

Nyeri berkurang sampai dengan hilang sesuai kriteria yang diharapkan.

  1. Resiko tinggi terjadi anemia berhubungan dengan perdarahan vena hemorrhoidalis

a. Tujuan : pasien akan terhindar dari anemia dengan kriteria:

1) Konjungtiva merah muda

2) Hb dalam batas normal

3) Kapilary refill < 3 detik

b. Intervensi

1) Monitor tingkat perdarahan pasien

2) Observasi tanda-tanda vital

3) Berikan diit tinggi kalori tinggi protein dan tinggi serat

4) Ajarkan pasien teknik relaksasi pernafasan pada saat buang air besar

5) Monitor tanda-tanda anemia: tampak lelah, tidak bersemangat, kulit pucat

6) Bila anemia berat kolaborasi pemberian cairan dan transfusi

c. Evaluasi

Anemia tidak terjadi sesuai dengan kriteria yang diharapkan.

  1. Cemas berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan tentang tindakan operasi

a. Tujuan: cemas berkurang sampai dengan hilang dengan kriteria :

1) Pasien terlihat tenang

2) Pasien dapat mengulang kembali informasi yang diberikan

b. Intervensi :

1) Kaji tingkat kecemasan yang dialami pasien

2) Beri waktu buat pasien untuk mengungkapkan secara verbal kecemasannya

3) Jelaskan pada pasien tentang tujuan dari tindakan operasi yang dialami

4) Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan

5) Dampingi pasien untuk pasrah dan berdoa kepada Tuhan

c. Evaluasi :

Kecemasan pasien berkurang sampai dengan hilang sesuai dengan kriteria yang diharapkan.

  1. Retensi urine berhubungan dengan reflek spasme post operasi dan keakutan akan nyeri

Ò Berikan metode agar pasien mau BAK seperti berikan banyak minum, mendengarkan air mengalir, mengalirkan air pada meatus urinarius

Ò Monitor urine output

  1. Resiko ketidakefektifan managemen regimen terapeutik

Ò Monitor terhadap indikator sistemik dari perdarahan berlebih seperti tachycardia, hypotensi, kelelahan, rasa haus, atau adanya darah pada kassa

Ò Berikan tekanan pada area jika terjadi perdarahan dan laporkan segera pada dokter

Ò Hindarkan pemberian kompres lembab hangat

(Keterangan: beberapa gambar diambil dari internet)

Jumat, 30 Maret 2012

Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Kronik (CKD)



A.     Pengertian
Berikut ini ada beberapa pengertian gagal ginjal kronik menurut beberapa literatur yang penulis gunakan, yaitu :
Gagal ginjal kronik adalah penurunan semua fungsi yang bertahap diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (Mary E. Doengoes, 2000).

Gagal ginjal kronik adalah suatu proses penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya pada suatu derajat memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis dan transplantasi ginjal (Aru A. Sudoyo, 2006).

Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan reversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia (Suzanne C.Smeltzer, 2001).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible, diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia.

B.     Patofisiologi
Penyebab dari gagal ginjal kronik biasanya dipengaruhi oleh penyakit sistemik seperti diabetes melitus, glumerulonefritis, pielonefritis, hipertensi yang tidak dikontrol, obtruksi traktus urinarius, penyakit ginjal polikistik, infeksi dan agen toksik. fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya dieksresikan kedalam urine) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh, semakin banyak yang timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berarti dan akan membaik setelah dialisis. Banyak permasalahan yang muncul pada ginjal sebagai akibat dari penurunan glomeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan clearens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal.

Perjalanan penyakitnya dapat dibagi menjadi tiga stadium, yaitu :
- Stadium I (Penurunan cadangan ginjal).
Fungsi ginjal antara 40 % - 75 %, pada stadiusm ini kreatinin serum dan kadar urea dalam darah (BUN) normal, pasien asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal hanya dapat terdeteksi dengan memberi kerja yang berat pda ginjal tersebut, seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes Glomerolus Filtrasi Rate (GFR) yang teliti.

- Stadium II (Insufisiensi ginjal)
Fungsi ginjal antara 20 – 50 %, pada tahap ini kadar BUN baru mulai meningkat melebihi kadar normal. Timbul gejala – gejala nokturia (pengeluaran urine pada waktu malam hari yang menetap samapai sebanyak 700 ml, dan poliuria (peningkatan volume urine yang terus menerus). Poliuria pada gagal ginjal lebih besar pada penyakit terutama menyerang tubulus, meskipun poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3 liter/hari.
- Stadium III (Uremi gagal ginjal).
Fungsi ginjal kurang dari 10 %, pada stadium akhir sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur, taua hanya sekitar 200.000 nefron yang masih utuh. Nilai GFR hanya 10 % dari keadaan normal, kreatinin sebesar 5 – 10 ml per menit atau kurang. Gejala – gejala yang timbul cukup parah anatara lain mual, muntah, nafsu makan berkurang, sesak nafas, pusing atau sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang – kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Penderita akan mengalami oliguria (pengeluaran urine kurang dari 500 ml) karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula – mula menyerang tubulus ginjal.

Manifestasi klinis dari gagal ginjal kronik adalah pada sistem gastrointestinal yaitu anoreksia, nausea, vomitus, nafas bau amonia, stomatitis, parotitis, cegukan, gastritis erosif, ulkus peptik dan kolitis uremik. Sistem kardiovaskuler : hipertensi, myeri dada, dysritmia, udem, sesak nafas, bibir cyanosis. Sistem neuromuskuler : rasa pegal pada tungkai bawah, rasa semutan dan seperti terbakar terutama pada telapak kaki, gangguan tidur, tremor, kejang – kejang. Sistem endokrin : gangguan seksual seperti libido, fertilitas, dan ereksi menurun, amenorea, gagguan toleransi glukosa, gangguan metabolisme lemak dan Vit. D. Sistem hematologik : anemia, gangguan trombosit, gagguan fungsi leukosit. Sistem pernafasan : dsypneu, kusmaul. Komplikasi yang sering terjadi pada klien dengan gagal ginjal kronis adalah hiperkalemia, hipertensi, anemis, asidosis metabolik, malnutrisi, uremia, gagal jantung dan penyakit tulang.

C.     Penatalaksanaan
Untuk mendukung pemulihan dan kesembuhan pada klien yang mengalami CKD maka penatalaksanaan pada klien CKD terdiri dari penatalaksanan medis/farmakologi, penatalaksanan keperawatan dan penatalaksanaan diet. Dimana tujuan penatalaksaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin.
1.      Penatalaksanaan medis
a.       Cairan yang diperbolehkan adalah 500 samapai 600 ml untuk 24 jam atau dengan menjumlahkan urine yang keluar dalam 24 jam ditamnbah dengan IWL 500ml, maka air yang masuk harus sesuai dengan penjumlahan tersebut.
b.      Pemberian vitamin untuk klien penting karena diet rendah protein tidak  cukup memberikan komplemen vitamin yang diperlukan.
c.       Hiperfosfatemia dan hipokalemia ditangani dengan antasida mengandung alumunium atau kalsium karbonat, keduanya harus diberikan dengan makanan.
d.      Hipertensi ditangani dengan berbagai medikasi antihipertensif dan control volume intravaskuler.
e.       Asidosis metabolik pada gagal ginjal kronik biasanya tampa gejala dan tidak memerlukan penanganan, namun demikian suplemen makanan karbonat atau dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis metabolic jika kondisi ini memerlukan gejala.
f.        Hiperkalemia biasanya dicegah dengan penanganan dialisis yang adekuat disertai pengambilan kalium dan pemantauan yang cermat terhadap kandungan kalium pada seluruh medikasi oral maupun intravena. Pasien harus diet rendah kalium kadang – kadang kayexelate sesuai kebutuhan.
g.       Anemia pada gagal ginjal kronis ditangani dengan epogen (eritropoetin manusia rekombinan). Epogen diberikan secara intravena atau subkutan tiga kali seminggu.
h.       Dialisis.
i.         Transplantasi ginjal.

2.      Penatalaksanaan Keperawatan
a.         Hitung intake dan output yaitu cairan : 500 cc ditambah urine dan hilangnya cairan dengan cara lain (kasat mata) dalam waktu 24 jam sebelumnya.
b.         Elektrolit yang perlu diperhatikan yaitu natrium dan kalium. Natrium dapat diberikan sampai 500 mg dalam waktu 24 jam.

3.      Penatalaksanaan Diet
a.       Kalori harus cukup : 2000 – 3000 kalori dalam waktu 24 jam.
b.      Karbohidrat minimal 200 gr/hari untuk mencegah terjadinya katabolisme protein
c.       Lemak diberikan bebas.
d.      Diet uremia dengan memberikan vitamin : tiamin, riboflavin, niasin dan asam folat.
e.       Diet rendah protein karena urea, asam urat dan asam organik, hasil pemecahan makanan dan protein jaringan akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gagguan pada klirens ginjal. Protein yang diberikan harus yang bernilai biologis tinggi seperti telur, daging sebanyak 0,3 – 0,5 mg/kg/hari.

D.    Pengkajian
Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada klien dengan CKD perlu dilakukan pengkajian yang lebih menyeluruh dan mendalam dari berbagai aspek yang ada sehingga dapat ditemukan masalah-masalah yang ada pada klien dengan CKD.
Pengkajian pada klien CKD menurut Suzanne C. Smeltzer, Doenges (1999) dan Susan Martin Tucker (1998).
1.      Sistem Kardiovakuler
Tanda dan gejala : Hipertensi, pitting edema (kaki, tangan, sacrum). Edema periorbital, fiction rub pericardial, dan pembesaran vena jugularis, gagal jantung, perikardtis takikardia dan disritmia.

2.      Sistem Integument
Tanda dan gejala : Warna kulit abu – abu mengkilat, kulit kering bersisik, pruritus, echimosis, kulit tipis dan rapuh, rambut tipis dan kasar, turgor kulit buruk, dan gatal – gatal pada kulit.

3.      Sistem Pulmoner
Tanda dan gejala : Sputum kental , nafas dangkal, pernafasan  kusmaul, udem paru, gangguan pernafasan, asidosis metabolic, pneumonia, nafas berbau amoniak, sesak nafas.

4.      Sistem Gastrointestinal
Tanda dan gejala : Nafas berbau amoniak, ulserasi dan perdarahan pada mulut,
anoreksia, mual, muntah, konstipasi dan diare, perdarahan dari saluran gastrointestinal, sto,atitis dan pankreatitis.

5.      Sistem Neurologi
Tanda dan gejala : Kelemahan dan keletihan, konfusi, disorientasi, kejang, penurunan konsentrasi, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki, dan perubahan perilaku, malaise serta penurunan kesadaran.

6.      Sistem Muskuloskletal
Tanda dan gejala : Kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur tulang, foot drop, osteosklerosis, dan osteomalasia.

7.      Sisem Urinaria
Tanda dan gejala : Oliguria, hiperkalemia, distropi renl, hematuria, proteinuria, anuria, abdomen kembung, hipokalsemia, hiperfosfatemia, dan asidosis metabolik.

8.      Sistem Reproduktif
Tanda dan gejala : Amenore, atropi testikuler, penurunan libido, infertilitas.

9.      Penyuluhan dan pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis herediter, kalkulus urinaria, malignasi, riwayat terpajan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan, penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini/berulang.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien CKD untuk mengetahui penyebab dan daerah yang terkena menurut Doenges (1999), Suzanne C. Smeltzer (2001) adalah sebagai berikut :
1.      Urine : Volume kurang dari 40 ml / 24 jam ( oliguria ), warna keruh, berat jenis kurang dari 1.015, osmolalitas kurang dari 350 m.osn/kg, klirens kreatinin agak menurun kurang 10 ml / menit, natrium lebih dari 40 mEq/L, proteinuria.
2.      Darah : BUN/kreatinin meningkat lebih dari 10 mg/dl, Ht menurun, Hb kurang dari  7 – 8 gr/dl, SDM waktu hidup menurun, AGD (pH menurun dan terjadi asidosis metabolic (kurang dari 7.2), natrium serum rendah, kalium meningkat 6,5 mEq atau lebih besar, magnesium/fosfat meningkat, kalsium menurun, protein khususnya albumin menurun.
3.      Osmolalitas serum : Lebih besar dari 285 nOsm/kg, sering sama dengan urine.
4.      KUB Foto : Menunjukkan ukuran finjal/ureter/kandung kemih dan adanya obstruksi (batu).
5.      Elektrokardiografi (ECG) : Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda – tanda perikarditis, aritmia dan gangguan elektrolit (hiperkalemia dan hipokalsemia).
6.      Ultrasonografi (USG) : Menilai bentuk dan besar ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan paremkim ginjal, ureter proximal, kandung kemih serta prostat. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversibel, juga menilai apakah proses sudah lanjut.
7.      Foto polos abdomen : Sebaiknya tampa puasa, karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal, menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain.
8.      Pielografi Intravena (PIV) : Pada PIV, untuk CKD tak bermanfaat lagi olah karena ginjal tidak dapat mengeluarkan kontras, saat ini sudah jarang dilakukan.
9.      Pemeriksaan Pielografi Retrograd : Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversibel.
10.  Pemeriksaan Foto Dada : Dapat terlihat tanda – tanda bendungan paru akibat kelebihan air (fluid overload), efusi pleura, kardiomegali dan efusi perikardial.
11.  Pemerikasaan Kardiologi tulang : Mencari osteoditrofi (terutama tulang atau jari) dan klasifikasi metastatik.

E.     Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian yang telah didapat atau terkaji, kemudian data dikumpulkan maka dilanjutkan dengan analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan yang ada pada klien dengan CKD. Menurut Doenges (1999), Lynda Juall (1999), dan Suzanne C. Smeltzer (2001) diagnosa keperawatan pada klien CKD adalah sebagai berikut :
1.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake kurang atau pembatasan nutrisi.
3.      Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan volume cairan.
4.      Perubahan proses pikir berhubungan dengan akumulasi toksin.
5.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolisme.
6.      Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan penekanan produksi/sekresi eritropoetin.
7.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan, anemia, penurunan fungsi ginjal.
8.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan tidak mengenal sumber informasi.

F.      Perencanaan Keperawatan
Setelah diagnosa keperawatan pada klien dengan CKD ditemukan, maka dilanjutkan dengan menyusun perencanaan untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas diagnosa keperawatan, penetapan tujuan dan kriteria evaluasi sebagai berikut :
1.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.
Tujuan :  Mempertahankan berat tubuh ideal tampa kelebihan cairan.
Kriteria Evaluasi :
a)      Haluaran urine tepat dengan berat jenis/hasil lab mendekati normal.
b)      BB stabil.
c)      TTV dalam batas normal.
d)      Tidak ada edema.
Intervensi :
a)      Awasi denyut jantung TD dan CVP.
b)      Catat pemasukan dan pengeluaran akurat..
c)      Awasi berat jenis urine.
d)      Timbang BB tiap hari dengan alat ukur dan pakaian yang sama.
e)      Batasi pemasukan cairan.
f)        Kaji kulit, area tergantung edema, evaluasi derajat edema.
g)      Kaji tingkat kesadaran, selidiki perubahan mental, adanya gelisah.
h)      Kolaborasi pemeriksaan laboratorium : Kreatinin, ureum HB/Ht, kalium dan natrium
     serum.
i)        Kolaborasi foto dada, berikan/batasi cairan sesuai indikasi.
j)        Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik, anti hipertensif
k)      Kolaborasi untuk dialisis sesuai indikasi.

2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembatasan nutrisi.
Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat.
Kriteria Evaluasi :
a)      Mempertahankan/meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu.
b)      Bebas edema.
Intervensi :
a)      Kaji/catat pemasukan diet.
b)      Beri makan sedikit tapi sering.
c)      Berikan pasien daftar makanan tatau cairan yang diizinkan dan dorong terlibat pada pemilihan menu.
d)      Timbang BB tiap hari.
e)      Kolaborasi pemeriksaan lab BUN, albumin serum, transferin, natrium, kalium.
f)        Kolaborasi dengan ahli gizi, berikan kalori tinggi rendah protein.
g)      Batasi kalsium, natrium dan pemasukan fosfat sesuai indikasi.
h)      Berikan obat sesuai indikasi, seperti zat besi, kalsium, Vit D, Vit B Komplek, anti emetik.

3.      Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan volume cairan.
Tujuan : Curah jantung adekuat.
Kriteria evaluasi :
a)      TD dan frekuensi dalam batas normal.
b)      Nadi perifer kuat dan waktu pengisian kapiler vaskuler.
c)      Dispneu tidak ada.
Intervensi :
a)      Auskultasi bunyi jantung dan paru, evaluasi adanya edema perifer/kongesti vaskuler dan keluhan dyspneu.
b)      Kaji adanya/derajat hipertensi : awasi TD, perhatikan perubahan posturat.
c)      Selidiki keluhan nyeri dada, beratnya (skala 1- 10) dan apakah tidak mantap dengan inspirasi dalam posisi terlentang.
d)      Evaluasi bunyi jantung, TD, nadi perifer, pengisian kapiler, kongesti kapiler, suhu dan sensori atau mental.
e)      Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas.
f)        Kolaborasi pemeriksaan lab : Elektrolit, BUN, Foto dada.
g)      Berikan obat antihipertensif, contoh : Prozin (minipres), captopirl (capoten), klonodin (catapres), hidralazin (apresolinie).


4.      Perubahan proses fikir berhubungan dengan akumulasi toksin.
Tujuan : Tingkat mental meningkat
Kriteria evaluasi : Dapat mengeidentifikasi cara untuk mengkompensasi gangguan kognitif/deficit memori.
Intervensi :
a)      Kaji luarnya gangguan kemampuan berfikir, memori, dan orientasi.
b)      Pastikan dari orang terdekat tingkat mental pasien biasanya.
c)      Berikan orang terdekat informasi tentang status pasien.
d)      Berikan lingkungan tenang dan izinkan menggunakan televise, radio, dan kunjungan.
e)      Orientasikan kembali terhadap lingkungan, orang dan sebagainya.
f)        Hadirkan kenyataan secara singkat, ringkas, dan jarang menantang dan pemikiran tidak logis.
g)      Komunikasikan informasi/instruksi dalam kalimat pendek dan sederhana. Tanyakan pertanyaan ya/tidak, ulangi penjelasan sesuai kebutuhan.
h)      Buat jadwal teratur untuk aktivitas yang diharapkan.
i)        Kolaborasi : awasi pemeriksaan lab BUN/kreatinin, elektrolit serum, kadar glukosa, AGD.
j)        Hindari penggunaan barbiturate dan opiad.

5.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolik.
Tujuan : Mempertahankan kulit utuh.
Kriteria Evaluasi : Menunjukkan prilaku/teknik untuk mencegah erusakan atau cedera
kulit.
Intervensi :
a)      Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler.
b)      Pertahankan kemerahan, eskoriasi, observasi terhadap ekimosis, purpura.
c)      Pantau masukan cairan dan hidrasi kuli dan membran mukosa.
d)      Inspeksi area tergantung terhadap edema.
e)      Ubah posisi sering, gerakan pasiaen dengan berlahan, beri bantalan pada tonjolan tulang dengan kulit domba, pelindung siku tumit.
f)        Berikan perawatan kulit.
g)      Barikan salap atau krim(analin, aquaphor).
h)      Pertahanan linen kering dan bebas keriput.
i)        Selidiki keluhan gatal.
j)        Anjurkan pasienm menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritus, pertahankan kuku pendek.
k)      Anjurkan menggunakan pakaian katun dan longgar

6.      Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan penekanan produksi atau sekresi eritropoetin.
Tujuan : Cedera tidak terjadi.
Kriteria Evaluasi :
a)      Tidak mengalami tanda atau gejala perdarahan.
b)      Mempertahankan atau menunjukkan perbaikan nilai laboratorium.
Intervensi :
a)      Perhatikan keluhan peningkatan kelelahan, kelemahan.
b)      Observasi takikardia, kulit atau membrane mukosa pucat, dispneu dan nyeri dada.
c)      Awasi tingkat kesadaran klien.
d)      Evaluasi respon terhadap aktivitas, kemampuan untuk melakukan tugas.
e)      Batasi contoh vaskuler, kombinasikan tes laboratorium bila mungkin.
f)        Observasi perdarahan terus menerus dari tempat penusukan, perdarahan area ekimosis karena trauma kecil, ptechie, pembengkakan sendi atau membran mukosa.
g)      Hematemesis sekresi Gastrointestinal atau darah feses.
h)      Berikan sikat gigi halus, pencukur elektrik, gunakan jarum kecil bila mungkin dan lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan atau penusukan vaskuler.
i)        Kolaborasi : awasi pemeriksaan laboratorium : jumlah trombosit, faktor pembekuan darah.
j)        Kolaborasi: berikan obat sesuai indikasi contoh sediaan besi, asam fosfat (folvite), sianokobalamin (betaun), simetidin (tegamert), ranitidine (zartoc), anatasiad, pelunak feses, laxative bulk (metamucit).

Jumat, 16 Maret 2012

SOP INHALASI MANUAL


Download Askep Kapuk Online Update Standar Operasional Prosedur (SOP) Keperawatan INHALASI MANUAL persiapan OSCA Jateng (Jawa Tengah)





STANDARD OPERSIONAL PROSEDUR


PENGERTIAN
Pemberian inhalasi uap dengan obat/tanpa obat
TUJUAN
1.      Mengencerkan sekret agar mudah keluar
2.      Melonggarkan jalan nafas
KEBIJAKAN
1.      Pasien yang mengalami kesulitan mengeluarkan sekret
2.      Pasien yang mengalami penyempitan jalan nafas
PETUGAS
Perawat
PERALATAN
1.      Baskom berisi air mendidih
2.      Obat: menthol, vicks
3.      Handuk 1 buah
4.      Bengkok 1 buah
5.      Peniti 2 buah
6.      Tissue
7.      Kain pengalas untuk baskom air panas
PROSEDUR PELAKSANAAN
A.    Tahap PraInteraksi
1.      Mengecek program terapi
2.      Mencuci tangan
3.      Menyiapkan alat
B.     Tahap Orientasi
1.      Memberikan salam dan sapa nama pasien
2.      Menjelaskan tujuan  dan prosedur pelaksanaan
3.      Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien
C.     Tahap Kerja
1.      Menjaga privacy pasien
2.      Mengatur pasien dalam posisi duduk
3.      Menempatkan meja/troly di depan pasien
4.      Meletakkan baskom berisi air panas di atas meja pasien yang diberi pengalas
5.      Memasukkan obat ke dalam baskom
6.      Menutup handuk menyerupai corong, menghirup uap dari baskom selama 10 – 15  menit
7.      Membersihkan mulut dan hidung dengan tissue
8.      Merapikan pasien
D.    Tahap Terminasi
1.      Melakukan evaluasi tindakan
2.      Berpamitan dengan pasien/keluarga
3.      Membereskan alat
4.      Mencuci tangan
5.      Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI ASPEK KETRAMPILAN 
INHALASI MANUAL

No
ASPEK YANG DINILAI
BOBOT
NILAI
0
1
2
A
ALAT




1
Baskom berisi air mendidih
2



2
Vaselin/krim
2



3
Obat: menthol, inhaler
1



4
Handuk 1 buah
2



5
Bengkok 1 buah
1



6
Peniti 2 buah
1



7
Tissue
1



8
Kain pengalas untuk baskom air panas
1



B
Tahap Pra Interaksi




1
Melakukan verifikasi program pengobatan klien
2



2
Mencuci tangan
1



3
Menempatkan  alat di dekat pasien
1



C
Tahap Orientasi




1
Memberikan salam dan menyapa nama pasien
1



2
Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
2



3
Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
1



D
Tahap kerja




1
Menjaga privacy pasien
1



2
Mengatur pasien dalam posisi duduk
3



3
Menempatkan meja/troly di depan pasien
1



4
Meletakkan baskom berisi air panas (dan obat) di atas meja pasien yang diberi pengalas
3



5
Mengoleskan vaseline/krim disekitar mulut dan hidung
3



6
Menutup baskom dengan handuk menyerupai corong
5



7
Menghirup uap dari corong melalui hidung, mengeluarkan lewat mulut. Lakukan berulang-ulang selama 10-15 menit
7



8
Membersihkan mulut dan hidung dengan tissue
2



9
Merapikan pasien
2



E
Tahap Terminasi




1
Melakukan evaluasi tindakan
1



2
Berpamitan dengan klien
1



3
Membereskan  alat-alat
1



4
Mencuci tangan
1



5
Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
1




TOTAL
50