Entri Populer

Sabtu, 07 Juli 2012

CONTOH FORMAT ASKEP KELUARGA

ASKEP KELUARGA (contoh format)

A. Pengkajian
I. Data Umum
1.Nama kk : Bapak KR (70 Th)
2.Alamat : Rowoasri , RT 2 , RW 7 , Rowokangkung , Lumajang
3.Pekerjaan kk : Tani
4.Pendidikan kk : SD
5.KOMPOSISI KELUARGA
No
Nama
Jk
Hub dg KK
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Status kes
1
Ny. Ab
P
Istri ke 3
36
Smp
Ibu RT
Sehat
2
Ac
L
Anak
17
Smp
Masih sekolah
Sehat
3
Har
P
Anak
11
Sd
Masih sekolah
Sehat
4
Za
L
Anak
4
Belum sekolah
-
Sehat
Immunisasi
Lengkap +
Genogram (lihat cara membuat genogram )
Aturan : lebih tua sebelah kiri , umur anggota klg ditulis pada simbol laki-laki atau perempuan,tahun dan penyebab kematian ditulis disebelah simbol laki-laki atau perempuan
35
25



LAKI PEREMPUAN SERUMAH
MENIKAH
CERAI
ANAK KANDUNG
PISAH
KLIEN
ANAK KEMBAR
KLIEN
ANAK ANGKAT
MENINGGAL
ABORSI
6. type keluarga : keluarga inti
7.suku : jawa
8. Agama : islam
9.status social : Rp. 500.000,- per bulan . menurut keluaarga tidak cukup
10. rekreasi : menonton televisi, silaturohmi keluarga, kadang rekreasi di tempat terbuka
II. Riwayat Tahap Perkembangan
1. tahap perkemb.klg : keluarga dg anak usia remaja
2. tahap klg yang belum terpenuhi : tidak ada ug belum terpenuhi, namun tugas klg yg belum dapat dicapai saat ini adalah memberi figur yg baik bagi anakl remaja.
3. riwayat kesehatan keluarga : tdk ada peny keturunan, P. KR terkena bronkhitis kronik,
Sering kumat berobat ke dr swasta, bu KR sehat , pak
KR perokok, 1-2 batang perhari, anak tertua perokok
Juga ,
4. Riwayat kesehatan klg sebelumnya : 2 tahun sudah didiagnosis Bronkhitis kronik
III. Keadaan Lingkungan
1. Karakterisitik rumah :
luas rumah lebar 4 M , panjang 12 M , terdiri 2 kamar tidur, 1 musholla
1 km mandi dan wc ( tidak adaSeptik Thank) , ruang tamu, dan dapurnya memanfaatkan pojok
Dari lorong,
- type bangunan : lantai dari plester
- ventilasi : sinar matahari kurang masuk, jendela hanya 1 (0,75 x 1,2 M)
Jendela kamar tak ada karena mepet dg tetangga
- kebersihan ruang : banyak barang numpuk tak teratur , masak dg kayu bakar
- sumber air : dari PAM
- denah rumah
Dapur
Ruang tamu
2. Karakteristik komunitas
Tetangga membantu berobat ke dokter praktik
Tengga dan sekitarnya peduli pada kesehatan pak KR
3. Interaksi dengan komunitas ]
Pengajian aktif, aktif kuimpul di masyarakat
4. Sistem pendukung keluarga
Yg merawat pak KR hanya istrinya saja, biaya minim, jarak rumah dengan puskesmas 500 meter, oleh karena sekarang lebih banyak berobat ke tabib
IV. Struktur Keluarga
1. Pola Komunikasi Keluarga
Musyawaroh, tapi kadang pak KR suka marah pada anaknya jika tidak patuh
2. Struktur Peran
Pak KR merasa tetap sebagai kepala keluarga dan ber TJ, meskipun sekarang sakit , bu KR menjual kerupuk untuk menopang kekurangan kebutuhan 15 .000/ perhari
3. Norma Keluarga
Menyesuaikan dengan nilai agama yg dianut dan norma yg ada, percaya penyakitnya bisa di obati, dan penyakitnya tidak ada hubunganny dengan guna-guna.
V. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Afektif
Pak Kr sering menegur anaknya jika diperingatklan ibunya tidak mau, saling menghormati antar anggota keluarga,
2. Fungsi Sosial
Keluarga mengajarkan agar berperilaku yang baik dengan tetannggga dan lingk. Sekitar , hidu berdampingna dan merasa tentram.
3. Fungsi Keperawatan Kesehatan
Jika sakit mencari bantuan ke pelayanan kesehatan terdekat, yang merawat pak KR saat ini bu KR, pemanfaatan yankes masih kurang karena pak KR tidak emmeiliki penghasilan tetap.
4. Fungsi reproduksi
Tidak ingin punya anak lagi, tidak ikut KB, hubungan suami istri masih, tetapi jarang sekali.
5. Fungsi Ekonomi
Penghasilannya tak menentu apalagi pak KR yang sakit, saat ini keluarga dicukupi dari penghasilan yang lain.
VI. Stress Dan Koping Keluarga
1. Stressor yang dimiliki
Sejak 6bulan yg lalu, sakit bronkhitisnya kumat, dan tidak dapat bekerja lagi, anak-anaknya butuh biaya u/ sekolah
2. Kemampuan keluarga Berespon thd stressor
Pasrah padak ondisiny sekarang, dianggap sebagai cobaaan dan berharap anak tertuanya bekerja lebih giat u/kebut. Keluarga
3. Strategi Koping yang dilakukan
Keluarga menerima ini apa adanya dan selalu melibatkan anak teruanya u/ pengambilan kepeutusan
4. Strategi adaptasi yang disfungsi
Sering marah pada anak tertuanya jika merokok terus dan dianjurkan mencari alternatif pengobatan lain.
VII. Pemeriksaan fisik
Sasaran terutama pada yang mempunyai maslah kesehatan (sakit) dengan metode Head to toe
VIII. Harapan Keluarga
Berharapmendapat bantuan seperti yang dikatakan oleh tetangganya , yaitu kartu sehat sehingga dapat berobat secara rutin di Puskesmas.
B. Diagnosis Keperawatan Keluarga
1. Analisa Data
Data (sign- symptom)
Masalah (P)
Penyebab (E)
Data subyek
- pak KR terkena Bronkhitis kronik sejak 2 tahun
- sejak 6 bulan kumat shg di rumah saja
Data obyektif
- lingkungan rumah kurang sehat : barang bertumpuk-tumpuk ,kotor , ventilasi kurang dll
- Hasilpmx fisik : …………………..
Resiko serangan berulang pada
P. KR
Lingk. Yg tidak adekuat
5 tugas
2. Rumusan Diagnosis Keperawatan
Resiko tinggi serangan berulang yang dialami oleh pak KR b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan atau (eteologi yang lain) ketidakmampuan keluarga merawat pakKR yang sedang saklit.
P (NANDA) yang b/d E (ketidakmampuan keluarga – sesuai 5 TUGAS KELUARGA) ,
sign /symptom takperlu ditulislagi
NO
KRITERIA
SKOR

BOBOT

JUML
1
2
3
4
SIFAT MASALAH
SKALA :
- TIDAK/KURANG SEHAT
- ANCAMAN
- KEADAAN SEJAHTERA
KEMUNGK. MAS DAPAT DIUBAH :
- MUDAH
- SEBAGIAN
- TIDAK DAPAT
POTENSI MAS. U/ DICEGAH
- TINGGI
- CUKUP
- RENDAH
MENONJOLNYA MASALAH
- BERAT, SEGERA
- ADA MASALAH TAPI TAK perlu SEGERA ditangani
- MASALAH TAK DIRASAKAN
3
2
1
2
1
0
3
2
1
2
1
0
1
2
1
1
?
?
?
?
PENENTUAN PRIORITAS SESUAI DENGAN SKALA :
  1. KRITERIA PERTAMA, PRIORITAS UTAMA PADA : TIDAK/ KURANG SEHAT KARENA PERLU TINDAKAN SEGERA
  2. KRITERIA KEDUA, MENGACU PD :
- PENGET DAN TEHNOLOGI U/ MENGATASI MAS KLG
- SUMBER DAYA KLG FISIK , KEUANGAN, TENAGA
- SUMEBR DAYA PERAWAT, : KAP (PENGET, AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR)
- SUMBER DAYA LINGK. : FASILITAS, ORGANISASI, DAN DUKUNGAN
  1. KRITERIA KETIGA
- KEPELIKAN MASALAH
- LAMANYA MASALAH
- TINDAKAN YG SEDANG DIJALANKAN
- KELOMPOK YG BERESIKO U/ DICEGAH AGAR TIDAK AKTUAL DAN PARAH
  1. KRITERIA KEEMPAT, PERSEPSI KLG THD MASALAHNYA
3. skoring penentuan prioritas DX keperawatan keluarga
contoh : RESIKO JATUH LANSIA DI KLG BAPAK Rr BD. KETIDAKMAMP[UAN MENYEDIAKAN LINGK. AMAN
No dx
Kriteria
Skor
Pembenaran
4. prioritas dx keperawatan
Prioritas
Dx kep
Skor
1
RESIKO JATUH LANSIA DI KLG BAPAK Rr BD. KETIDAKMAMP[UAN MENYEDIAKAN LINGK. AMAN
3 1/3
2
2 ½
3 dst
2 , DST
Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga
Nama KK : KR
Alamat : kd. Jajang
NO DX
TUJUAN
KRITERIA
STANDAR
INTERVENSI
1
Setelah dilakukan tindkep. Tidak tjd resiko serangan berulang pada pak KR selama di rumah
(boleh jangka pendek dan jk panjang )
KAP
Pengetahuan
Sikap
Psikomotor
Penget :
keluarga dapat menyebutkan …..
sikap :
klg mampu memutuskan u/menyediakan sarana yg aman …
psikomotor :
keluarga memodifikasi lingkungan sehat
Rencana tindakan (intervensi):
1. mendiskusikan ……..
2. menjelaskan ………
3. mengajarkan ……
4. bersama keluarga ………
5. dll
D. Implementasi dan evaluasi
Implementasi
Tanggal dan waktu
No dx
Implementasi
1 januari 2006
1
…………..
Rencana kegiatan pada askep keluarga yang berhub dg penkes memerlukan SAP
Format evaluasi formatif
Tanggal dan waktu
No dx
Evaluasi
1 januari 2006
1
S. klg mengatakkan bahwa masihkurang mengerti tentang …….
O. klg dapat menjawab pertanyaan ……,belum bisamenjawab pertanyaan tentang ……..
A. implementasi yg dilaks.dg metode cermah belum dimengertioleh klg , perlu metode lain….
P. berikan pendidikan ulang , dg metode lain….
Format evaluasi sumatif
Tanggal dan waktu
No dx
Evaluasi
1 januari 2006
1
S. klg mengatakkan bahwa masihkurang mengerti tentang …….
O. klg dapat menjawab pertanyaan ……,belum bisamenjawab pertanyaan tentang ……..
A. masalah belum teratasi
P. lanjutkan intervensi ,perlu bantuan LSM yang peduli akan kesehatan

Jumat, 06 Juli 2012

BERJALAN DENGAN KRUK

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Teori
Pengertian
Membantu klien berjalan dengan “menggunakan alat bantu kruk” dan “melakukan range of motion” merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan klien dalam mobilisasi.
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak bebas. Pergerakan atau mekanika tubuh merupakan koordinasi dari sistem muskuloskeletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur tubuh, dan kesejajaran tubuh selama beraktivitas sehari-hari. Sedangkan imobilisasi adalah suatu keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik.
Anatomi
Sistem tubuh yang berkoordinasi adalah sistem musculoskeletal dan sistem saraf. Sistem skeletal terdiri dari tulang, sendi, ligament, tendon, dan kartilago.
Otot atau muskul terutama berfungsi mempertahankan postur, berbentuk pendek, dan menyerupai kulit karena membungkus tendon dengan arah miring berkumpul secara tidak langsung pada tendon.
Pergerakan dan postur tubuh diatur oleh sistem saraf. Area motorik yang utama terdapat di korteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur motorik. Serabut motorik turun dari girus prasentral dan bersilangan pada tingkat medulla. Sehingga serabut motorik dari jalur motorik kanan mengawali gerakan volunter dari bagian tubuh kiri, dan serabut dari jalur motorik kiri mengawali gerakan volunteer dari bagian tubuh kanan. Transmisi impuls dari sistem saraf ke sistem musculoskeletal merupakan peristiwa kimia listrik dan membutuhkan neurotransmiter.
Pada dasarnya, neurotransmitter merupakan substansi kimia seperti asetikolin yang memindahkan impuls listrik dari saraf yang bersilangan pada simpul mioneural di otot. Neurotransmitter mencapai otot dan menstimulasinya sehingga menyebabkan gerakan.
Pengaruh Fisiologi gangguan mobilisasi
Perubahan sistem respirasi yang menyebabkan komplikasi paru. Komplikasi yang sering terjadi adalah atelestatik, pneumonia hipostatik, penurunan kemampuan batuk produktif.
Perubahan sistem kardiovaskuler menyebabkan hipotensi ortostatik, peningkatan beban jantung, pembentukan trombus.
Perubahan metabolik menyebabkan terjadi nya gangguan fungsi metabolik, laju metabolik, metabolism karbohidrat, lemak dan protein, ketidakseimbangan cairan elektrolit, kalsium, gangguan pencernaan.
Perubahan pada sistem musculoskeletal, klien dapat mengalami keseimbangan nitrogen negatif dan kehilangan berat badan, penurunan masa otot, dan kelemahan akibat katabolisme jaringan.
Perubahan sistem integument yaitu terjadinya dekubitus karena jaringan tertekan.
B. Membantu klien berjalan menggunakan kruk
Postur jalan normal adalah kepala tegak, vertebra servikal, torakal, lumbal sejajar, pinggul dan lutut berada dalam keadaan fleksi yang sesuai, dan lengan bebas berayun bersama dengan kaki.
Kruk dapat digunakan secara temporer, seperti pada setelah kerusakan ligament di lutut. Kruk dapat digunakan permanen, seperti klien paralis ekstremitas bawah.
Kruk terbuat dari kayu atau logam. Ada dua tipe kruk, kruk lofstrand dengan pengatur ganda atau kruk lengan bawah dan kruk aksila terbuat dari kayu.
Kruk lengan bawah memiliki sebuah pegangan tangan dan pembalut logam yang pas mengelilingi lengan bawah. Pembalut logam dan pegangan tangan diatur agar sesuai dengan ketinggian klien.
Kruk aksila mempunyai garis permukaan yang seperti bantalan pada bagian atas, berada tepat di bawah aksila. Pegangan tangan berbentuk batang yang dipegang setinggi telapak tangan untuk menyokong tubuh. Kruk ini lebih umum digunakan.
Kruk harus diukur panjang yang sesuai, dan klien harus diajarkan menggunakan kruk mereka dengan aman, mencapai kestabilan gaya berjalan, naik turun tangga, dan bangkit dari duduk.
Pengukuran kruk meliputi tiga area: tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila, dan sudut fleksi siku. Pengukuran berikut, dengan klien berada pada posisi supine atau berdiri.
Ketika berjalan dengan kruk, berat badan klien perlu disokong oleh bahu dan lengan, bukan di bawah lengan. Siku harus ditekuk
Tujuan
· Membantu melatih kemampuan gerak klien, melatih dan meningkatkan mobilisasi.
· Mencapai kestabilan klien dalam berjalan.
Manfaat
Klien mampu berjalan dengan menggunakan alat bantu dan meningkatnya kemampuan mobilisasi klien.
Indikasi
· Klien dengan nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan/atau trauma
· Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi
· Klien amputasi kaki: di atas atau di bawah lutut
· Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan nyeri dan kerusakan musculoskeletal
· Klien setelah bedah artroskopis lutut
· Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan ketidaknyamanandan imobilisasi yang diprogramkan.
Kontraindikasi
· Klien dengan nyeri yang berhubungan dengan inflamasi, insisi, dan drainase.
· Klien yang potensial kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan turgor kulit.
Persiapan alat
· Menyediakan kruk yang digunakan (kruk aksila).
· goniometer
· Melakukan pengukuran kruk yang meliputi area tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila, dan sudut fleksi siku.
Pengukuran dilakukan dengan satu dari dua metode berikut, dengan klien berada pada posisi supine atau berdiri.
Pada posisi telentang-ujung kruk berada 15cm di samping tumit klien. Tempatkan ujung pita pungukur dengan lebar tiga sampai empat jari(4-5cm) dari aksila dan ukur sampai tumit klien.
Pada posisi berdiri-posisi kruk dan ujung kruk berada 14-15 cm di samping dan 14-15 cm di depan kaki klien. Dengan motede lain, siku harus direfleksikan 15 sampai 30 derajat. Fleksi siku harus diperiksa dengan goniometer.
· Lebar bantalan kruk harus 3-4 lebar jari di bawah aksila.
· Tempat berjalan, seperti lorong rumah sakit atau taman yang dilengkapi dengan tempat latihan untuk berjalan.


Prosedur
Gaya berjalan empat titik
1. Kaji toleransi aktifitas, kekuatan, nyeri, koordinasi, kemampuan fungsional, dan penyakit serta cedera
2. Menjelaskan prosedur kepada klien dan keluarga
3. Memeriksa lingkungan untuk memastikan tidak rintangan di jalan klien
4. Menentukan tempat istirahat klien setelah latihan
5. Minta klien berdiri dengan posisi tripod, sebelum kruk berjalan
6. Atur kesejajan kaki dan tubuh klien
7. Klien memposisikan kruk pertama kali lalu memposisikan kaki yang berlawanan (mis. Kruk kanan dengan kaki kiri)
8. Klien mengulangi urutan cari ini dengan kruk dan kaki yang lain.
Pada gaya berjalan tiga titik , berat badan di topang pada kaki yang tidak sakit dan kemudian di kedua kruk, dan urutan ini dilakukan berulang-ulang. Kaki yang sakit tidak menyentuh tanah selama berjalan ditahap awal. Secara bertahap klien mulai menyentuh, dan menopang berat badan secara penuh pada kaki yang sakit.
Gaya berjalan dua titik memerlukan sebagian penopang berat disetiap kaki. Setiap kruk digerakkan secara bersamaan dengan kaki yang berlawanan sehingga gerakan kruk sama dengan lengan.
Mengajarkan berjalan menggunakan kruk di tangga
1. Menggunakan modifikasi gaya berjalan tiga titik
2. Klien berdiri didasar tangga dan memindahkan berat badan ke kruk
3. Kaki yang tidak sakit maju di antara kruk dan tangga
4. Kemudian berat dialihkan dari kruk ke kaki yang tidak sakit
5. Klien meluruskan kedua kruk di tangga


Evaluasi
· Penggunaan mobilitas dan persendian klien meningkat
· Menggunakan alat mobilisasi dengan tepat
· Klien memperlihatkan cara yang lebih relaks
· Klien mengatakan dan mendemontrasikan prinsip penggunaan kruk yang aman

C. Rentang Gerak
Rentang gerak adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transversal.
Latihan rentang gerak aktif
Latihan disebut renatang gerak aktif jika pesien melakukan latihan sendiri dengan intruksi dan kemungkian dari perawat dan anggota keluarga.
Latihan rentang gerak pasif
Rentang gerak yang dilakukan perawat kepada pasien, dalam kasus ini perawat melatih sendi untuk pasien. Beberapa pasien mulai dengan latihan rentang gerak pasif dan meningkat pada latihan rentang gerak aktif.
Tujuan
Melakukan rentang gerak bertujuan untuk melatih aktivitas seluruh sendi tubuh sehingga sendi-sendi tersebut tidak kaku, dan tidak terjadi kecelakan saat tubuh di gerakan. Menjamin keadekuatan mobilisasi sendi.
Manfaat
1. Sistem kardiovaskuler
Meningkatkan curah jantung
Memperbaiki kontraksi miokardial, menguatkan otot jantung
Menurunkan tekanan darah istirahat
Memperbaiki aliran balik vena
2. Sistem respiratori
Meningkatkan frekuensi dan kedalam pernafasan
Meningkatkan ventilasi alveolar
Menurunkan kerja pernapasan
Meningkatkan pengembangan diafragma
3. Sistem metabolik
Meningkatkan laju metabolisme basal
Meningkatkan penggunaan glukosa dan asam lemak
Meningkatkan pemecahan trigliserida
Meningkatkan motilitas lambung
Meningkatkan produksi panas tubuh
4. Sistem musculoskeletal
Memperbaiki tonus otot
Meningkatkan mobilisasi sendi
Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
5. Toleransi aktivitas
Meningkatkan toleransi
Mengurangi kelemahan
6. Faktor psikososial
Meningkatkan toleransi terhadap stress
Melaporkan “perasaan lebih baik”
Indikasi
· Klien dengan kerusakan fisik yang berhubungan dengan nyeri persendian dan mobilitas
· klien dengan kerusakan mobilitas yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi.
· klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan edema pada persendian.
· Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan fraktur dan cedera pada jaringan sekitar.
· klien pasca pembedahan.
· Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan prosedur bedah pada sendi yang sakit.
Kontraindikasi
· klien dengan nyeri yang berhubungan dengan inflamsi, insisi, dan drainase.
· klien yang potensial kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan turgor kulit.
· klien dengan potensial terhadap perubahan perfusi: serebral dan/atau kardiopulmonar yang berhungan dengan resiko emboli lemak.
Persiapan peralatan
1. Lokasi tempat klien melakukan latihan
2. Tempat istirahat klien apabila telah selesai melakukan latihan.
Prosedur
1. Kaji status kesehatan klien, kemampuan gerak sendi dan kemampuan aktifitas klien, kemampuan dan kemauan klien untuk bekerja sama dalam latihan, adanya nyeri, kekakuan, kelemahan dan bengkak, serta cek tanda-tanda vital.
2. Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang prosedur yang akan dilakukan
3. Jaga privasi klien
4. Cuci tangan
5. Lepaskan pengaman tempat tidur
6. Lakukan latihan minimal tiga kali pada setiap sendi. Latihan dapat dilakukan dari anggota tubuh bagian atas ke anggota tubuh bagian bawah.
· Leher
a) Fleksi (menggerakkan dengan dagu menempel ke dada)
Ekstensi (mengembalikan kepala ke posisi tegak)
Hiperekstensi (menekukkan kepala ke belakang sejauh mungkin)
b) Fleksi lateral (memiringkan kepala sejauh mungkin ke arah setiap bahu)
c) Rotasi (memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkulasi)

· Bahu
a) Fleksi (mengangkat tangan dari posisi di samping badan sampai posisi di samping telinga)
Ekstensi (mengembalikan tangan ke samping badan)
Hiperekstensi (menggerakkan tangan ke belakang tubuh dengan siku lurus)
b) Abduksi (mengangkat tangan kesamping kepala dengan telapak tangan menghadap membelakangi kepela)
Adduksi (menurunkan tangan ke arah samping, menyilangkan di depan tubuh sejauh mungkin)
c) Rotasi internal (dengan siku di bengkokkan, putar lengan samping ibu jari di bawah dan mengarah ke belakang)
Rotasi eksternal (dengan siku di bengkokkan, angkat tangan sampai ibu jari menghadap ke atas)
d) Sirkumduksi (putar tangan dalam satu lingkaran penuh)

· Siku
Fleksi (membengkokkan siku sehingga lengan bawah bergerak mendekati bahu dan tangan sejajar dengan bahu)
Ekstensi (meluruskan tangan dan menurunkan bahu)
· Lengan bawah
Supinasi (memutar tangan dan lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke atas)
Pronasi (memutar tangan dan lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke bawah)
· Pergelangan tangan
a) Fleksi (menggerakkan telapak tangan ke arah dalam lengan bawah)
Ekstensi (meluruskan kembali)
Hiperekstensi (menggerakkan punggung tangan ke arah belakang sejauh mungkin)
b) Abduksi/ fleksi radial (membengkokkan pergelangan tangan kea rah medial)
c) Adduksi/ fleksi lunar (membengkokkan pergelangan tangan kea rah lateral)
· Jari
a) Fleksi (membentuk tinju)
Ekstensi (meluruskan jari)
Hiperekstensi (membengkokkan jari ke belakang sejauh mungkin)
b) Abduksi (merenggangkan jari)
Adduksi (merapatkan jari)
· Ibu jari
a) Fleksi (menggerakkan ibu jari kearah telapak tangan)
Ekstensi (meluruskan kembali ibu jari)
b) Abduksi (menarik ibu jari ke arah lateral)
Adduksi (menarik kembali ibu jari kea rah tangan)
· Paha
a) Fleksi (mengangkat kaki ke arah depan)
Ekstensi (menurunkan kembali)
b) Hiperekstensi (mengangkat kaki kea rah belakang tubuh)
c) Abduksi (mengangkat kaki kea rah lateral tubuh)
Adduksi (menggerakkan kembali kea rah medial)
d) Rotasi internal (memutar kaki dan paha kea rah kaki lainnya)
Rotasi eksternal (memutar kaki dan paha menjauhi kaki yang lainnya)
e) Sirkumduksi (menggerakkan kaki membentuk putaran)
· Lutut
Fleksi (mengangkat kaki kea rah paha belakang)
Ekstensi (menurunkan kembali ke lantai)
· Pergelangan kaki
Fleksi dorsal (menggerakkan ke arah paha belakang)
Fleksi plantar (menggerakkan kaki sehingga jari menghadap ke bawah)
· Telapak kaki
inversi (memutar telapak kaki ke arah medial)
eversi (memutar telapak kaki)
· Jari kaki
a) Fleksi (menekuk jari kebawah)
Ekstensi (meluruskan jari)
b) Abduksi (merenggakan jari)
Adduksi (merapatkan jari)
7. Kembalikan klien ke kondisi semula
8. Pasang kembali pengaman tempat tidur
9. Cek tanda-tanda vital, respon verbal, dan non verbal klien.

Evalusi
· Klien mampu melakukan latihan rentang gerak secara adekuat pada sendi yang sakit
· Klien mendapatkan mobilitas pada tingkat optimal.
· Penggunaan mobilitas dan persendian meningkat.
· Secara aktif ikut serta dalam rencana perawatan
Dokumentasi
· Mencatat data klien
· Mencatat tanggal dan waktu latihan
· Mencatat semua prosedur yang dilakukan klien
· Mencatat keaktifan klien
· Mencatat hasil pencapaian setelah melakukan latihan

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Rentang gerak adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transversal. Latihan rentang gerak itu sendiri terbagi atas dua, yaitu latihan rentang gerak aktif dan latihan rentang gerak pasif.

Rentang gerak yang dilakukan perawat kepada pasien, dalam kasus ini perawat melatih sendi untuk pasien. Beberapa pasien mulai dengan latihan rentang gerak pasif dan meningkat pada latihan rentang gerak aktif.
Melakukan rentang gerak bertujuan untuk melatih aktivitas seluruh sendi tubuh sehingga sendi-sendi tersebut tidak kaku, dan tidak terjadi kecelakan saat tubuh di gerakan. Menjamin keadekuatan mobilisasi sendi.
Pada klien yang mengalami imobilisasi dan membutuhkan alat bantu untuk bermobilisasi atau berjalan maka perawat dapat memberikan latihan berjalan dengan kruk. Penggunaan kruk harus tepat agar tidak terjadi cedera pada klien.
B. Saran
Setelah mengetahui dan memahami bagaimana prosedur melatih rentang gerak dan mengajarkan berjalan dengan kruk, seorang perawat harus mampu mengajarkan prosedur yang benar dan aman kepada klien. Sehingga klien dapat melakukan secara mandiri.




DAFTAR PUSTAKA

Kusyati, Eni. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium. Jakarta: EGC
Perry, Potter. 2005. Fundamental Keperawatan volume 2. Jakarta: EGC
Perry, Potter Peterson. 2005. Keterampilan dan Prosedur dasar. Jakarta: EGC
Tucker, Susan Martin, dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien volume 1. Jakarta: EGC
. 1998. Standar Perawatan Pasien volume 3. Jakarta: EGC
Wartonah, Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC
Who. 1998. Pedoman perawatan pasien. Terj. Monica ester. Jakarta: EGC
www. Scribd.com