Entri Populer

Kamis, 11 Oktober 2012

CIRCUMSISI TEKNIK DORSUMSISI (Teknis Melakukan Sunat)


TEKNIK KONVENSIONAL DORSUMSISI ( Dorsal Slit Operation )

Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan kekanan sejajar sulcus coronarius.

Keuntungan :
  1. Kelebihan kulit mukosa bisa diatur
  2. Resiko menyayat/memotong penis lebih kecil
  3. Mudah mengatur panjang pendek pemotongan mukopsa
  4. Tidak melukai glan dan frenulum
  5. Pendarahan bisa cepat diatasi
  6. Baik untuk penderita fimosis/paraphimosis.
  7. Baik untuk pemula.(tehnik yang paling aman)

Kerugian :
  1. Pendarahan relative lebih banyak.
  2. Teknik sulit dan lebih rumit
  3. Insisi sering tidak rata, tidak simetris.
  4. Waktu lebih lama.
Indikasi medis sirkumsisi antara lain :
  • Phimosis atau paraphimosis
  • Infeksi glans penis (balanitis) rekurens
  • Adanya smegma
  • Kondiloma akuminata
Kontraindikasi
Sirkumsisi tidak boleh dilakukan pada :
  • Hipospadia, karena kulit preputium akan dipergunakan dalam membuat uretra
  • Epispadia
  • Chorde
  • Webbed penis, yaitu adanya jaringan antara penis dan skrotum
Bila menemui penderita dengan kelainan seperti tersebut diatas, konsulkan kepada ahli bedah. Tentu saja bila ada infeksi pada kulit penis dan sekitarnya lebih baik disembuhkan dulu, dan bila keadaan umum kurang baik harus diperbaiki.





Persiapan
Setelah fisik dan mental dipersiapkan, informed consent didapat dari penderita atau keluarganya, disiapkan alat-alat :
  1. Sarung tangan steril 2 pasang
  2. Kasa steril
  3. Disinfektan, seperti povidone iodine
  4. Klem untuk disinfeksi
  5. Doek lubang steril
  6. Spuit 2.5 atau 5 cc steril
  7. Lidokain untuk anestesi infiltrasi
  8. 2 atau 3 klem lurus
  9. 2 atau klem arteri kecil
  10. Sonde
  11. Gunting jaringan
  12. Gunting benang
  13. Benang bedah yang cepat diserap, misalnya plain catgut 3/0 secukupnya
  14. Jarum jahit cutting lengkungan ½ , atau lebih baik bila ada dengan jarum jahit a-traumatic cutting
  15. Needle holder
  16. Pinset
Prosedur
  1. Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi
  2. Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril
  3. Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis melingkar. Bila perlu tambahkan juga pada daerah preputium yang akan dipotong dan daerah ventral
  4. Tunggu 3 – 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan mencubitkan pinset
  5. Bila didapati phimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang preputium, lepaskan perlengketannya dengan glans memakai sonde atau klem sampai seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.
  6. Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang pada garis tengah ventral. (Prepusium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal)
  7. clip_image002clip_image004Gunting preputium dorsal tepat digaris tengah (diantara dua klem) kira-kira ½ sampai 1 sentimeter dari sulkus koronarius (dorsumsisi),buat tali kendali. kulit Preputium dijepit dengan klem bengkok dan frenulum dijepit dengan kocher
  1. clip_image006clip_image008Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11 ) ke ujung distal sayatan (jam 12 dan 12’)
    Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong menuju frenulum di distal penis (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing (huruf V), buat tali kendali )
  1. Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang disiapkan.
  2. Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang banyak ada di frenulum) siap untuk dijahit.Penjahitan dimulai dari dorsal (jam 12), dengan patokan klem yang terpasang dan jahitan kedua pada bagian ventral (jam 6). Tergantung banyaknya jahitan yang diperlukan, selanjutnya jahitan dibuat melingkar pada jam 3,6, 9,12 dan seterusnya





clip_image011
clip_image012
  1. Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan diplester. Lubang uretra harus bebas dan sedapat mungkin tidak terkena urin.
HEMOSTASIS
Perawatan perdarahan di lakukan dengan mencari sumber perdarahan dengan menghapus daerah luka dengan menggunakan kasa, bila di dapatkan sumber perdarahan segera di jepit dengan klem/pean arteri kecil. Tarik klem, ligasi dengan mengikat jaringan sumber perdarahan dengan catgut. Potong ikatan sependek mungkin. Cari seluruh sumber perdarahan lain dan lakukan hal yang serupa.
Jika mempergunakan flashcutter, cukup menyentuh pendarahan dengan probe bipolar, seketika langsung terhenti.
WOUND SUTURE
Jahitan Frenulum
Frenulum biasanya dijahit dengan matras horizontal atau boleh dengan matras 8 (cross) ataupun matras horizontal. Setelah dijahit sisakan benang untuk digunakan sebagai kendali.·
Jahitan Dorsal
Jahitan pada dorsal penis mengunakan jahitan simpul. Sisakan benang untuk dibuat tali kendali. (Gambar 18 Simpul pada jam 12)·
Jahitan bagian kulit mukosa yang lain
Dengan menggunakan kendali untuk mengarahkan posisi penis jahit sekeliling luka dengan jahitan simpul (jam 12). Jahitan simpul bisa dilakukan pada jam 3 dan 9 atau jam 2,4, 8 dan 10. Tidak diianjurkan Mengikatnya terlalu erat. Tidak dianjurkan menggunakan jahitan jelujur (Continuous Suture). Bila telah dijahit semua maka lihat apakah ada bagian yang renggang yang memerlukan jahitan.
WOUND CARE

Setelah selesai di jahit olesi tepi luka dengan betadine, bila perlu beri dan olesi dengan salep antibiotik.Perawatan luka bisa dilakukan dengan metode tertutup atau terbuka.

Metode terbuka (Open Care )
Perawatan ini bisa dilakukan bila ada jaminan penderita mampu menjaga kebersihan luka. Setelah diolesi betadine dan salep antibiotika biarkan secara terbuka (dianjurkan urologi).

Metode tertutup (Close Care)
Setelah diberi betadine dan salep antibiotika, berikan sufratule secara melingkar. Tutup denga kasa steril, ujung kain kasa dipilin sebagai tempat fiksasi supra pubic dengan menggunakan plester (Balutan Suspensorium) atau biarkan berbentuk cincin (Balutan Ring).
POST OPERATION CARE
Medikamentosa :
1. Analgetika : Antalgin 500mg PO 3dd1,Asam Mefenamat 500mg PO 3dd1
2. Antibiotika : Amoksisilin 500mg PO 3dd1,Eritromisin 500mg 3dd1
3. Roboransia : Vitamin B Complex,Vitamin C


Edukasi
1. Luka dalam 3 hari jangan kena air.
2. Hati hati dengan perdarahan post circumsisi, bila ada segera kontrol
3. Perbanyak istirahat
4. Bila selesai kencing hapus sisa air kencing dengan tisue atau kasa
5. Perbanyak dengan makan dan minum yang bergizi
6. Setelah 3-5 hari post circumsisi buka perban di rumah segera kontrol.
Komplikasi

  1. Penderita alergi terhadap obat anestesi lokal. Lebih sering pada prokain dan jarang didapati pada lidokain. Seharusnya disiapkan pula obat untuk mengatasi shock anaphilaktik
  2. Perdarahan. Terutama pada frenulum, karenanya untuk mencegah perdarahan, jahitan pada frenulum diyakinkan cukup adekwat. Perdarahan juga dapat terjadi pada pada penderita dengan kelainan pembekuan darah.
  3. Infeksi. Bila asepsis-antisepsis kurang diperhatikan, atau terkena urin.
  4. Pengangkatan kulit preputium kurang adekwat, sehingga glans masih tertutup kulit.
  5. Pengangkatan kulit terlalu banyak, yang dapat menyebabkan kesulitan dalam menjahit, tegang dan mempengaruhi penis sewaktu ereksi nantinya
  6. Glans ikut terpotong atau amputasi glans. Dengan dorsumsisi lebih dahulu, hampir tidak pernah terjadi. Glans terpotong paling banyak didapati pada teknik guoletin, karena tanpa membuka preputium terlebih dahulu

femosis

KONSEP DASAR

I.Definisi

Fimosis adalah suatu perkerutan atau penciutan kulit depan penis, Fimosis merupakan suatu keadaan normal yang sering dijumpai pada bayi baru lahir atau anak kecil dan biasanya pada masa pubertas akan menghilang dengan sendirinya.

II.Etiologi

Fimosis dapat disebabkan oleh balanopostis. Balolopostis merupakan peradangan menyeluruh pada kepala penis (glans penis) dan kulitnya. Peradangan biasanya terjadi akiabat infeksi jamur atau bakteri dibawah kulit pada penis yang tidak disunat. Penis menjadi nyeri, gatal-gatal kemerahan dan membengkak serta bisa menybabkan penyempitan uretra.

III.Manifestasi klinik

Bayi atau anak sering menangis keras sebekum urine keluar. Keadaan demikian sebaiknya anak segera disunat, tapi kadang orang tua tidak tega karena anak masih kecil.

IV.Pemeriksaan penunjang

Pada klien dengan fimosis pemeriksaan yang perlu dilaksanakan sebagai penunjang dalam pengumpulan data adalah :

Pemeriksaan darah lengkap.
USG penis
Pemeriksaan kadar TSH

V.Pengobatan dan terapi

Untuk menolongnya dapat dicoba dengan melebarkan lubang prepusium dengan cara mendorong kebelakang kulit prepusium tersebut dan biasanya akan terjadi perlukaan, untuk menghindari infeksi luka tersebut diberikan salep antibiotic. Tindakan ini mula-mula dilakukan oleh dokter (pada orang barat sunat dilakukan pada saat bayi baru lahir, tindakan ini dilakukan untuk menjaga kebersihan atau mencegah infeksi karena adanya smegma, bukan karena keagamaan).
Adnaya smegma pada ujung prepusium juga menyulitkan bayi berkemih maka setiap memandikan bayi sebaiknya prepusium didorong kebelakang dan kemudian dibersihkan dengan kapas yang diolesi air matang.
Pada anak dengan fimosis penatalaksanaan dilaksakan dengan :

I.Pengkajian
pada pasien fimosis, penis memiliki ukuran yang jauh dibawah rata-rata, anak susuah berkemih kadang-kadang sampai kulit prepusium menggelembung seperti balon. Bayi atau anak sering menangis keras sebelum urine keluar, apabila sudah terjadi infeksi dibawah kulit pada penis yang tidak disunat penis menjadi nyeri, gatal-gatal, kemerahan dan membengkak serta bisa menyebabkan penyempitan uretra.

II.Diagnosa keperawatan

1.Nyeri b.d kesulitan berkemih karena terjadi penyempitan prepusium.
2.Resiko tinggi infeksi b.d penyempitan lubang prepusium.



III.Intervensi

I.Diagnosa 1.
Nyeri b.d kesulitan berkemih karena terjadi penyempitan prepusium.

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan selama 2 x 24 jam nyeri berkurang atau hilang.

KH :
nyeri berkurang atau hilang
mengidentifikasi sumber nyeri
mengidentifikasi aktifitas yag meningkatkan dan menurunkan nyeri.
Menggambarkan rasa nyaman dari orang lain selama mengalami nyeri.

Intervensi

1.a. kaji pengalaman nyeri anak.
b. tentukan konsep anak tentang penyebab nyeri.
c. minta anak untuk menunjukan area yang sakit.
2.tingkatkan rasa nyaman.
3.alihkan perhatian anak dg cerita maupun mainan.
4.Bantu anak mengatasi akibat nyeri dengan cara :
a.Katakan pada anak kapan prosedur yang menyakitkan akan segera berakhir.
b.Gendong anak kecil untuk menunjukan prosedur telah selesai.
c.Berikan dorongan pada anak untuk menggambarkan nyerinya.

II.Diagnosa II
Resiko tinggi infeksi b.d penyempitan lubang prepusium.

Tujuan : setelah dilkukan perawatan 2x24 jam tidak ada tanda-tanda infeksi.

KH : bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di RS.

Intervensi :
a.pantau terhadap tanda2 infeksi ( misi letargi, kesulitan makan, muntah, kestabilan suhu, dan perubahan warna tersembunyi)
b.ajarkan tanda infeksi pada daerah sirkumsisi (misi perdarahan, peningkatan kememerahan, atau bengkak yang tidak biasanya)
c.kurangi kerentanan individu terhadap infeksi.