Entri Populer

Minggu, 14 Juni 2020

SKILL CHECK LIST RJP (RESUSITASI JANTUNG PARU)

Nama ASESI   : ………………………………..     TGL:
Nama ASESOR: ………………………………..

SKILL CHECK LIST RJP (RESUSITASI JANTUNG PARU)
NO
LANGKAH-LANGKAH
KOMPETENSI
TIDAK
(0)
YA
(1)
1
Amankan diri, amankan pasien dan lingkungan. Pakai alat pelindung diri (jika ada)


2
Kaji respon (panggil, goncangan lembut), Sambil melihat napas korban, bila tidak ada napas segera panggil bantuan.


3
Cek nadi Carotis (nadi leher) tidak lebih dari 10 detik.


4
Bila nadi tidak teraba, atau ragu-ragu. Segera mencari titik kompresi (tengah dada)


5
Tempatkan 1 tangan pada titik tersebut, tangan yang lain letakkan diatasnya dengan posisi jari-jari saling bertautan.


6
Lakukan kompresi 30 kali, kecepatan 100-120 x/mnt atau sekitar 18 detik


7
Buka jalan napas, head tilt chin lift (tekan dahi angkat dagu) dan Jaw thrust (dorong rahang)


8
Keluarkan benda asing yang ada dalam mulut (cros finger/ silang jari, finger sweap/ sapuan jari)


9
Berikan 2 kali bantuan napas (1detik/napas) kaji adanya pengembangan dada


10
Lanjutkan RJP sampai 5 siklus ( 30 kompresi : 2 ventilasi)


11
Setelah 5 siklus RJP, periksa nadi carotis (nadi leher)


12
Bila nadi belum ada, lanjutkan RJP 5 siklus lagi. Bila nadi teraba , lihat pernapasan (bila belum ada  upaya napas), lakukan resque breathing dan cek nadi setiap 2 menit.


13
Bila nadi dan napas ada, lakukan head toe examination (cek adanya luka, perdarahan dan patah tulang).


14
Berikan posisi recovery (pemulihan), bila tidak ada kontra indikasi



REKOMENDASI
KOMPETEN…………
BELUM KOMPETEN……….


(                         )


NILAI =
 
X 100%  =


14



Minggu, 12 Februari 2017

RUANG PACU / RR

Setelah selesai tindakan pembedahan, paseien harus dirawat sementara di ruang pulih sadar (recovery room : RR) sampai kondisi pasien stabil, tidak mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal perawatan).

PACU atau RR biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Hal ini disebabkan untuk mempermudah akses bagi pasien untuk
(1) perawat yang disiapkan dalam merawat pasca operatif (perawat anastesi) 
(2) ahli anastesi dan ahli bedah 
(3) alat monitoring dan peralatan khusus penunjang lainnya.

Alat monitoring yang terdapat di ruang ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kondisi pasien. Jenis peralatan yang ada diantaranya adalah alat bantu pernafasan : oksigen, laringoskop, set trakheostomi, peralatan bronkhial, kateter nasal, ventilator mekanik dan peralatan suction. Selain itu di ruang ini juga harus terdapat alat yang digunakan untuk memantau status hemodinamika dan alat-alat untuk mengatasi permasalahan hemodinamika, seperti : apparatus tekanan darah, peralatan parenteral, plasma ekspander, set intravena, set pembuka jahitan, defibrilator, kateter vena, torniquet. Bahan-bahan balutan bedah, narkotika dan medikasi kegawatdaruratan, set kateterisasi dan peralatan drainase.

Selain alat-alat tersebut diatas, pasien post operasi juga harus ditempatkan pada tempat tidur khusus yang nyaman dan aman serta memudahkan akses bagi pasien, seperti : pemindahan darurat. Dan dilengkapi dengan kelengkapan yang digunakan untuk mempermudah perawatan. Seperti tiang infus, side rail, tempat tidur beroda, dan rak penyimpanan catatan medis dan perawatan. Pasien tetap berada dalam PACU sampai pulih sepenuhnya dari pegaruh anastesi, yaitu tekanan darah stabil, fungsi pernafasan adekuat, saturasi oksigen minimal 95% dan tingkat kesadaran yang baik. 

Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien untuk dikeluarkan dari PACU adalah :
  1. • Fungsi pulmonal yang tidak terganggu
  2. • Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat
  3. • Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah
  4. • Orientasi pasien terhadap tempat, waktu dan orang
  5. • Haluaran urine tidak kurang dari 30 ml/jam/kg BB
  6. • Mual dan muntah dalam kontrol
  7. • Nyeri minimal
Berikut di bawah adalah form pengkajian post anasteshia
RUANG PEMULIHAN POST ANASTESI
PENILAIAN
Nama pasien ;                                     :                                                  Nilai Akhir :
Ruangan       :                                   :                     Ahli bedah/Anasteshia              :         Tanggal    :
Perawat R.R :

Area pengkajian Score Saat penerimaan Setelah
1 jam —–2 jam —–3 jam

Respirasi : 
  • Kemampuan nafas dalam dan batuk      nilai 2
  • Upaya bernafas terbatas (dispneu)        nilai 1
  • Tidak ada upaya nafas spontan             nilai 0
Sirkulasi (tekanan sistolik) 
  • 80 % dari pre anastesi         nilai 2
  • 50 % dari pre anastesi         nilai 1 
  • < 50 % dari pre anastesi       nilai 0
Tingkat Kesadaran : 
  • Orientasi baik dan respon verbal positif          nilai 2
  • Terbangun ketika dipanggil namanya              nilai 1
  • Tidak ada respon                                         nilai 0

Warna kulit : 
  • Warna dan penampilan kulit normal                 nilai 2
  • Pucat, agak kehitaman, keputihan,kterik          nilai 1
  • Sianosis                                                        nilai 0
Aktivitas : 2
  • Mampu menggerakkan semua ekstrimitas        nilai 2
  • Mampu menggerakkan hanya 2 ekstrimitas      nilai 1
  • Tak mampu mengontrol ektrimitas                 nilai 0
Total
Keterangan :
Pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan dari ruang PACU/RR jika nilai pengkajian post anastesi > 7-8.

Tujuan Perawatan Pasien Di Pacu adalah :
1. Mempertahankan jalan nafas
Dengan mengatur posisi, memasang suction dan pemasangan mayo/gudel.
2. Mempertahankan ventilasi/oksigenasi
Ventilasi dan oksigenasi dapat dipertahankan dengan pemberian bantuan nafas melalui ventilaot mekanik atau nasal kanul.
3. Mempertahakan sirkulasi darah
Mempertahankan sirkulasi darah dapat dilakukan dengan pemberian cairan plasma ekspander.
4. Observasi keadaan umum, observasi vomitus dan drainase
Keadaan umum dari pasien harus diobservasi untuk mengetahui keadaan pasien, seperti kesadaran dan sebagainya. Vomitus atau muntahan mungkin saja terjadi akibat penagaruh anastesi sehingga perlu dipantau kondisi vomitusnya. Selain itu drainase sangat penting untuk dilakukan obeservasi terkait dengan kondisi perdarahan yang dialami pasien.
5. Balance cairan
Harus diperhatikan untuk mengetahui input dan output caiaran klien. Cairan harus balance untuk mencegah komplikasi lanjutan, seperti dehidrasi akibat perdarahan atau justru kelebihan cairan yang justru menjadi beban bagi jantung dan juga mungkin terkait dengan fungsi eleminasi pasien.
6. Mempertahanakn kenyamanan dan mencegah resiko injuri
Pasien post anastesi biasanya akan mengalami kecemasan, disorientasi dan beresiko besar untuk jatuh. Tempatkan pasien pada tempat tidur yang nyaman dan pasang side railnya. Nyeri biasanya sangat dirasakan pasien, diperlukan intervensi keperawatan yang tepat juga kolaborasi dengan medis terkait dengan agen pemblok nyerinya.

Hal-hal yang harus diketahui oleh perawat anastesi di ruang PACU adalah :
1. Jenis pembedahan
Jenis pembedahan yang berbeda tentunya akan berakibat pada jenis perawatan post anastesi yang berbeda pula. Hal ini sangat terkait dengan jenis posisi yang akan diberikan pada pasien.
2. Jenis anastesi
Perlu diperhatikan tentang jenis anastesi yang diberikan, karena hal ini penting untuk pemberian posisi kepada pasien post operasi. Pada pasien dengan anastesi spinal maka posisi kepala harus agak ditinggikan untuk mencegah depresi otot-otot pernafasan oleh obat-obatan anastesi, sedangkan untuk pasien dengan anastesi umum, maka pasien diposisika supine dengan posisi kepala sejajar dengan tubuh.
3. Kondisi patologis klien
Kondisi patologis klien sebelum operasi harus diperhatikan dengan baik untuk memberikan informasi awal terkait dengan perawatan post anastesi. Misalnya: pasien mempunyai riwayat hipertensi, maka jika pasca operasi tekanan darahnya tinggi, tidak masalah jika pasien dipindahkan ke ruang perawatan asalkan kondisinya stabil. Tidak perlu menunggu terlalu lama.
4. Jumlah perdarahan intra operatif
Penting bagi perawata RR untuk mengetahui apa yang terjadi selama operasi (dengan melihat laporan operasi) terutama jumlah perdarahan yang terjadi. Karena dengan mengetahui jumlah perdarahan akan menentukan transfusi yang diberikan.
5. Pemberian tranfusi selama operasi
Apakah selama operasi pasien telah diberikan transfusi atau belum, jumlahnya berapa dan sebagainya. Hal ini diperlukan untuk menentukan apakah pasien masih layak untuk diberikan transfusi ulangan atau tidak.
6. Jumlah dan jenis terapi cairan selama operasi
Jumlah dan jenis cairan operasi harus diperhatikan dan dihitung dibandingkan dengan keluarannya. Keluaran urine yang terbatas < 30 ml/jam kemungkinan menunjukkan gangguan pada fungsi ginjalnya.
7. Komplikasi selama pembedahan
Komplikasi yang paling sering muncul adalah hipotensi, hipotermi dan hipertermi malignan. Apakah ada faktor penyulit dan sebagainya.

Kamis, 18 Februari 2016

Survei Primer (Primary Survey)

Technorati Tags: ,,

Pengertian : Deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancam
Tujuan : Untuk mengetahui kondisi pasien yang mengancam jiwa dan kemudian dilakukan tindakan life saving.
Cara pelaksanaan (harus berurutan dan simultan)
Jalan nafas (airway)
  • Lihat, dengar, raba (Look, Listen, Feel)
  • Buka jalan nafas, yakinkan adekuat
  • Bebaskan jalan nafas dengan proteksi tulang cervical dengan menggunakan teknik Head Tilt/Chin Lift/Jaw Trust, hati-hati pada korban trauma
  • Cross finger untuk mendeteksi sumbatan pada daerah mulut
  • Finger sweep untuk membersihkan sumbatan di daerah mulut
  • Suctioning bila perlu
Pernafasan (breathing)
  • Lihat, dengar, rasakan udara yang keluar dari hidung/mulut, apakah ada pertukaran hawa panas yang adekuat, frekuensi nafas, kualitas nafas, keteraturan nafas atau tidak
Perdarahan (circulation)
  • Lihat adanya perdarahan eksterna/interna
  • Hentikan perdarahan eksterna dengan Rest, Ice, Compress, Elevation (istirahatkan lokasi luka, kompres es, tekan/bebat, tinggikan)
  • Perhatikan tanda-tanda syok/ gangguan sirkulasi : capillary refill time, nadi, sianosis, pulsus arteri distal
Susunan Saraf Pusat (disability)
  • cek kesadaran
  • Adakah cedera kepala?
  • Adakah cedera leher?
  • perhatikan cedera pada tulang belakang
Kontrol Lingkungan (Exposure/ environmental )
Buka baju penderita lihat kemungkinan cedera yang timbul tetapi cegah hipotermi/kedinginan

Survei Sekunder (Secondary Survey)

Technorati Tags: ,,


Pengertian : Mencari perubahan-perubahan yang dapat berkembang menjadi lebih gawat dan mengancam jiwa apabila tidak segera diatasi dengan pemeriksaan dari kepala sampai kaki (head to toe)
Tujuan : Untuk mendeteksi penyakit atau trauma yang diderita pasien sehingga dapat ditangani lebih lanjut
Peralatan : Stetoskop, tensi meter, jam, lampu pemeriksaan/senter, gunting, thermometer, catatan, alat tulis
Prosedur :

Anamnesis :
Riwayat “AMPE” yang harus diingat yaitu :
A : Alergi
M : Medikasi (obat yang diminum sebelumnya)
P : Past illness (penyakit sebelumnya)/Pregnancy (hamil)
E : Event/environment (lingkungan yang berhubungan dengan kegawatan)

Pemeriksaan fisik :
1. Pemeriksaan kondisi umum menyeluruh
   a. Posisi saat ditemukan
   b. Tingkat kesadaran
   c. Sikap umum, keluhan
   d. Trauma, kelainan
   e. Keadaan kulit 

2. Periksa kepala dan leher
    a. Rambut dan kulit kepala
        Perdarahan, pengelupasan, perlukaan, penekanan
    b. Telinga
         Perlukaan, darah, cairan
    c. Mata
      Perlukaan, pembengkakan, perdarahan, reflek pupil, kondisi kelopak mata, adanya benda asing,    pergerakan abnormal
    d. Hidung
        Perlukaan, darah, cairan, nafas cuping hidung, kelainan anatomi akibat trauma
     e. Mulut
         Perlukaan, darah, muntahan, benda asing, gigi, bau, dapat buka mulut/ tidak
     f. Bibir
        Perlukaan, perdarahan, sianosis, kering
     g. Rahang
         Perlukaan, stabilitas, krepitasi
     h. Kulit
          Perlukaan, basah/kering, darah, suhu, warna
     i. Leher
         Perlukaan, bendungan vena, deviasi trakea, spasme otot, stoma, stabilitas tulang leher

3. Periksa dada
Flail chest, nafas diafragma, kelainan bentuk, tarikan antar iga, nyeri tekan, perlukaan (luka terbuka, luka mengisap), suara ketuk/perkusi, suara nafas

4. Periksa perut
Perlukaan, distensi, tegang, kendor, nyeri tekan, undulasi

5. Periksa tulang belakang
Kelainan bentuk, nyeri tekan, spasme otot

6. Periksa pelvis/genetalia
Perlukaan, nyeri, pembengkakan, krepitasi, inkontinensia

7. Periksa ekstremitas atas dan bawah
Perlukaan, angulasi, hambatan pergerakan, gangguan rasa, bengkak, denyut nadi, warna luka

Perhatian !

1. Perhatikan tanda-tanda vital (sesuai dengan survei primer)

2. Pada kasus trauma, pemeriksaan setiap tahap selalu dimulai dengan pertanyaan adakah :  
D-E-C-A-P-B-L-S
D : Deformitas
E : Ekskoriasi
C : Contusio
A : Abrasi
P : Penetrasi
B : Bullae/Burn
L : Laserasi
S : Swelling/Sembab

3. Pada dugaan patah tulang selalu dimulai dengan pertanyaan adakah : P-I-C
P : Pain
I : Instabilitas
C : Crepitasi

R J P

RJP dilakukan bila terjadi henti napas dan atau henti jantung. Henti napas terjadi bila korban tidak bernapas, ditandai dengan tidak adanya pergerakan dada dan aliran udara napas. Henti jantung terjadi bila jantung berhenti berdenyut dan memompakan darah, ditandai dengan tidak terabanya denyut nadi pada arteri-arteri besar, seperti arteri karotis, arteri brakialis dan arteri femoralis.
Resusitasi jantung paru tidak perlu dilakukan bila telah terdapat tanda-tanda pasti kematian pada korban, yaitu lebam mayat (livor mortis), kaku mayat (rigor mortis), dan pembusukan. Lebam mayat dapat dikenali sebagai warna merah sampai dengan kebiruan pada bagian terendah dari tubuh korban saat korban ditemukan. Pada korban yang ditemukan dalam keadaan terlentang lebam mayat dapat ditemukan di daerah punggung korban. Kaku mayat terjadi mulai 4 jam setelah kematian, dan menghilang setelah 10 jam. kekakuan ini dapat ditemukan pada batang tubuh dan anggota tubuh korban. Pada mayat yang membusuk korban sulit untuk dikenali dan bau busuk akan tercium dari mayat.
Pada cedera yang tidak memungkinkan korban hidup seperti terpisahnya kepala dari badan maka penolong tidak perlu lagi melakukan RJP. Pada bayi yang lahir sudah dalam keadaan mati atau mati didalam kandungan maka RJP tidak diperlukan lagi.
Persiapan RJP
Sebelum melakukan RJP penolong perlu melakukan persiapan-persiapan untuk menjamin RJP dan pertolongan lain yang dibutuhkan korban dapat dilakukan dengan baik. Hal yang pertama dan utama yang harus dilakukan adalah memastikan keamanan tempat kejadian. Pastikan keamanan diri penolong dan gunakan alat pelindung diri (APD). Setelah memastikan keamanan maka lakukan langkah-langkah:
1. Lakukan penilaian kesan umum.
Goyangkan bahu korban. Ajak korban bicara dan pancing jawaban verbal untuk mengetahui kesadaran dan keadaan airway korban. Bila ternyata korban tidak memberikan respon terhadap panggilan segera minta bantuan, dengan berteriak “tolong”, dan segera aktifkan SPGDT.
Bila korban memberikan respon positif, posisikan korban pada posisi pulih atau seperti saat ditemukan. Pertolongan dari tenaga medis tetap diperlukan karena keadaan korban bisa saja memburuk dalam hitungan menit.
Lakukan evaluasi berkala pada korban sampai korban ditangani oleh yang lebih ahli.
2. Minta tolong. Aktifkan SPGDT.
3. Perbaiki posisi korban dan buka pakaian yang menutupi dada (ekspos dada korban). Resusitasi akan lebih efektif bila posisi korban tidur telentang, dengan alas yang rata dan keras. Posisikan korban pada posisi telentang dengan kedua lengan di sisi kanan dan kiri korban (posisi anatomis). Ketika melakukan perubahan posisi selalu perhatikan kesatuan/kesegarisan antara kepala, leher, dan tubuh, termasuk bahu dan tulang belakang. Ingat untuk selalu melindungi leher korban terutama bila dicurigai adanya cedera leher. Bebaskan dada korban dari pakaian yang menutupi untuk mempermudah tindakan dan penilaian korban.
4. Atur posisi penolong.
Segera berlutut di samping korban sejajar dengan bahunya, agar saat melakukan bantuan napas dan sirkulasi penolong tidak perlu banyak bergerak, sehingga akan menghemat waktu.
Langkah-langkah RJP
Setelah melakukan prosedur dasar sebagai persiapan sebelum melakukan RJP, teruskan dengan:
1. Airway control dan cervical control, penguasaan jalan napas.
a. Buka jalan napas. Cara membuka jalan napas akan dijelaskan secara rinci pada pembahasan bantuan hidup dasar.
b. Nilai derajat dan jenis sumbatan.
Lakukan dengan pedoman look, feel, listen. Untuk mempermudah berlututlah di samping korban di dekat kepalanya. Miringkan kepala penolong dekat mulut dan hidung korban dengan mata melihat ke arah dada korban, sambil buka jalan napasnya. Dengan cara seperti ini penolong dapat melakukan penilaian airway sekaligus breathing. Telinga penolong mendengarkan (listen), pipi penolong bisa digunakan untuk merasakan (feel), dan mata penolong melihat (look) pergerakan dada dan adanya penggunaan otot-otot pernapasan tambahan.
c. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas dari sumbatan. Langkah-langkah dalam membebaskan jalan napas ini juga akan dijelaskan pada pembahasan bantuan hidup dasar.
2. Breathing support; ventilasi buatan dan oksigenasi paru darurat.
a. Sambil mempertahankan jalan napas bebas, pastikan korban bernapas. Periksa pernapasan korban dengan look, feel, listen.
b. Jika pernapasan memadai, dan tidak ada dan tidak dicurigai adanya cedera leher posisikan korban pada posisi pulih. Lakukan evaluasi A dan B berkala.
c. Bila korban tidak bernapas, berikan napas buatan 2 kali. Kemudian periksa tanda-tanda sirkulasi. Bila korban hanya memerlukan napas buatan maka lakukan napas buatan dengan frekuensi 12-15 kali/ menit. Lanjutkan dengan evaluasi ulang A dan B secara berkala.
3. Circulation support; pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung.
a. Pastikan ada tidaknya denyut jantung korban dengan melakukan perabaan pada arteri karotis.
b. Jika teraba arteri karotis, maka lanjutkan pengelolaan korban dengan melakukan evaluasi ulang A dan B berkala.
c. Jika tidak teraba arteri karotis, lakukan kompresi/ pijat jantung luar. langkah-langkah melakukan kompresi jantung luar akan dterangkan di bawah.
4. Lakukan reevaluasi/ penilaian ulang A-B-C.
a. Bila masih tidak teraba nadi lanjutkan kompresi jantung luar dan lakukan evaluasi ulang setiap 4 siklus.
b. Bila teraba nadi, namun tidak bernapas, berikan bantuan napas saja dengan kecepatan 12-15 kali/menit.
c. Bila korban bernapas spontan dan teraba nadi, posisikan pada posisi pulih, dengan catatan tidak ada atau tidak dicurigai cedera leher.
Langkah-langkah kompresi jantung luar
1) Tentukan ujung tulang xifoid. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah menelusuri lengkung tulang iga kanan atau kiri sampai bertemu bagian tulang dada atau sternum, dikenal sebagai xifoid, bagian menyerupai ujung pedang.
2) Dari ujung xifoid, letakkan jari telunjuk dan jari tengah di tulang dada, satu jari di atas xifoid dan satu lagi di sebelahnya, ke arah kepala. Tepat di samping jari yang lebih dekat ke kepala merupakan titik kompresi.
3) Letakkan tumit salah satu tangan di posisi yang sudah ditentukan tadi. Tangan yang lain ditempatkan di atas tangan pertama. Dianjurkan jari-jemari kedua tangan saling mengait. Tekanan hanya diberikan melalui tumit tangan tersebut, usahakan agar jari-jari penolong tidak menyentuh bahkan menekan tulang-tulang iga korban.
4) Saat melakukan penekanan dinding dada, posisi badan penolong tegak lurus bidang datar, dengan kedua lengan lurus. Penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya. Lakukan 15 kali kompresi secara berkala, dengan kedalaman 3,8 – 5 cm. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit.
5) Setiap kali setelah kompresi biarkan dada korban mengembang, kembali ke posisi semula. Jangan lepaskan tangan penolong dari dada korban atau merubah posisi tangan.
6) Waktu untuk menekan dan melepas adalah sama, yaitu 1 : 1.
Satu siklus pernapasan buatan dan kompresi jantung luar terdiri dari 15 kompresi dan 2 napas buatan (15:2). Perbandingan ini berlaku baik untuk 1 penolong maupun 2 penolong. Lakukan 4 siklus secara lengkap. Setelah lengkap 4 siklus, lakukan evaluasi ulang mulai dari A, B, dan C.
Bagaimana tanda-tanda RJP yang dilakukan berhasil?
Keberhasilan RJP tidak lepas dari keberhasilan setiap langkah RJP yang dilakukan. Apabila RJP yang dilakukan berhasil maka pada korban didapati tanda-tanda kembali berfungsinya sistem pernapasan dan sistem sirkulas. Korban dapat bernapas spontan, tampak dada korban bergerak naik turun dan adanya aliran udara napas. Denyut nadi kembali teraba dan denyut jantung kembali terdengar melalui stetoskop. Kulit korban yang semula pucat berangsur normal. Korban dapat melakukan gerakan terarah dan korban berusaha menelan. Pupil akan mengecil bila terkena cahaya yang menandakan adanya reaksi pupil yang positif.
Kapan RJP dihentikan?
Penolong yang kelelahan dan tidak sanggup melanjutkan tindakan resusitasi boleh menghentikan upaya RJP yang sedang dilakukannya. Apabila bantuan dan petugas lain yang lebih ahli sudah datang, penolong boleh menghentikan tindakan resusitasi dan mengalihkan pada petugas tersebut. Kadang kala korban ditemukan dalam keadaan tidak sadar tanpa penolong tahu apakah korban sudah lama meninggal atau baru saja terjadi henti napas dan henti jantung. Apabila kemudian didapatkan informasi bahwa korban sudah lama meninggal maka RJP boleh dihentikan. Tindakan RJP dihentikan bila sirkulasi (denyut nadi) dan pernapasan sudah kembali pulih, yaitu korban sudah dapat bernapas spontan dan nadi kembali berdenyut spontan. Pada korban dengan sengatan listrik atau tenggelam, biasanya jantung merespon lebih lama terhadap tindakan RJP.
Kapan RJP boleh dihentikan untuk sementara ?
Resusitasi jantung paru boleh dihentikan untuk sementara apabila korban perlu dipindahkan. Pemindahan korban dapat terjadi pada berbagai keadaan, seperti korban dipindahkan ke tandu, keluar atau masuk ambulan, melalui tangga, melalui lorong yang sempit, ketika korban dinaikan atau diturunkan dari pesawat. Pada tindakan bantuan hidup yang lebih lanjut kadang dilakukan tindakan defibrilasi (memberikan kejutan pada jantung dengan alat khusus), saat melakukan defibrilasi ini RJP harus dihentikan sementara