Entri Populer

Jumat, 27 Mei 2011

persalinan normal


PERSALINAN NORMAL


OBSTETRI GINEKOLOGI


OLEH
NECEL
2009
FKUNMUL ♥♥♥
BAB I
PENDAHULUAN
Kehamilan dan persalinan merupakan hal yang wajar terjadi pada seorang
perempuan. Kedua hal tersebut berperan penting dalam proses reproduksi guna
mempertahankan kelestarian spesies manusia. Meskipun merupakan suatu hal
yang fisiologis, kehamilan dan persalinan memiliki banyak resiko yang dapat
membahayakan nyawa ibu dan janinnya.
Seorang ibu ketika akan mendekati waktu kelahiran bayi perlu untuk
mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Persiapan yang perlu
dilakukan adalah memilih tempat bersalin yang memadai dan nyaman, dan
memilih tenaga kesehatan yang akan menolong proses bersalin. Tenaga kesehatan
yang dianjurkan pemerintah dalam menolong persalinan misalnya dukun beranak
terlatih, bidan dan dokter. Permasalahan ketersediaan tenaga kesehatan tersebut
tidak menjadi masalah pada daerah kota atau desa yang mudah terjangkau tetapi
menjadi masalah bagi desa-desa yang terpencil atau terisolir dimana tenaga
penolong persalinan tidak memiliki pengetahuan persalinan yang cukup baik
dalam hal teknik persalinan maupun kebersihan proses persalinan. Pada masa
sekarang pemerintah mengusahakan seiring dengan semakin banyaknya lulusan
tenaga terlatih menyebarkan secara merata ke daerah-daerah terpencil para tenaga
penolong persalinan tersebut.
Angka kematian ibu di Indonesia pada saat persalinan tergolong tinggi
diantara negara berkembang. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena angka
kematian ibu adalah satu parameter yang menunjukkan kualitas pelayanan
kesehatan suatu negara. Hal ini mengakibatkan pentingnya bagi seorang tenaga
kesehatan khususnya dokter dalam memandu suatu pimpinan persalinan. Seorang
dokter dituntut memiliki kompetensi untuk mendiagnosis dan melakukan tindakan
penanganan suatu persalinan normal.
Dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran khususnya ilmu
mengenai obstetri dan ginekologi maka semakin berkembang pula teknik-teknik
dalam persalinan untuk mencegah kematian dan komplikasi akibat persalinan.
A. Pengenalan Persalinan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pimpinan Persalinan Normal
Persalinan normal adalah persalinan lewat vagina. Pada persalinan
normal, proses persalinan diawali dengan rasa mulas dan keluarnya lendir
bercampur darah dari vagina. Rasa mulas dan nyeri (his) biasanya datang
secara teratur, semakin lama semakin kuat dan semakin nyeri, sampai anak
berhasil dilahirkan. Proses kelahiran anak diikuti oleh kelahiran ari-ari.
Seringkali jalan lahir mengalami robekan (ruptur perineum) dan butuh
beberapa jahitan untuk memperbaikinya. (Paisal, 2007)
Suatu pimpinan persalinan normal dilakukan dengan syarat-syarat:
1. Adanya Penolong Yang Terampil
a. Seorang pemberi asuhan yang profesional
b. Memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk:
- Menatalaksana persalinan, kelahiran dan masa nifas
- Dapat mengenali komplikasi-komplikasi
- Mendiagnosis, menatalaksana atau merujuk ibu atau bayi ke tingkat
asuhan yang lebih tinggi jika terjadi komplikasi yang memerlukan
intervensi di luar kompetensi pemberi asuhan
c. Dapat melakukan semua intervensi dasar kebidanan
2. Kesiapan Menghadapi Persalinan dan Kesiapan Menghadapi
Komplikasi Bagi Pemberi Asuhan
a. Mendiagnosis dan menatalaksana masalah dan komplikasi dengan sesuai
dan tepat waktu
b. Mengatur rujukan ke tingkat yang lebih tinggi bila diperlukan
c. Memberikan konseling yang berpusat pada ibu tentang kesiapan
menghadapi persalinan dan kelahiran serta kesiapan menghadapi
komplikasinya
d. Mendidik masyarakat mengenai kesiapan menghadapi persalinan dan
kelahiran serta kesiapan menghadapi komplikasinya
3. Kesiapan Menghadapi Komplikasi Bagi Pemberi Asuhan
a. Mengenali dan merespon tanda-tanda bahaya
b. Menyusun rencana serta menentukan siapa yang berwenang untuk
mengambil keputusan di saat keadaan darurat
c. Membuat rencana untuk segera dapat mengakses dana (tabungan atau dana
masyarakat)
d. Mengidentifikasi dan merencanakan upaya yang harus dilakukan untuk
mendapatkan darah atau donor darah dengan segera bila diperlukan.
(Anonim, 2005)
Pengenalan Persalinan
Wanita hamil yang telah mendekati hari perkiraan pelahiran bayi wajib
untuk mengetahui tanda-tanda persalinan. Wanita hamil harus segera melapor
pada awal persalinan daripada menunda-nunda sampai waktu kelahiran telah
dekat karena kekhawatiran mengalami persalinan palsu. Penting bagi seorang
tenaga kesehatan untuk mendiagnosa apakah yang terjadi adalah persalinan
sejati (sebenarnya) ataukah persalinan palsu. Persalinan sejati didiagnosis
apabila kontraksi yang menimbulkan nyeri (his) disertai oleh pendataran
lengkap serviks, bloody show (darah lendir), atau pecahnya keruban. Wanita
dengan tanda-tanda ini diharuskan melahirkan bayi dalam waktu 12 jam.
(Cunningham, et.al 2006)
Tabel perbedaan persalinan sejati dan sebenarnya
Yang diamati Persalinan sejati Persalinan palsu
Interval kontraksi
teratur Tidak teratur
Secara bertahap memendek Tetap dan lama
Intensitas kontraksi Secara bertahap meningkat Tetap tidak berubah
Letak nyeri Punggung dan abdomen Perut bawah
Pembukaan serviks ada Tidak ada
Nyeri hilang dengan
sedasi
tidak Ya
Jika dari hasil pemeriksaan di atas belum dapat dipastikan apakah persalinan
sejati atau palsu maka dilakukan observasi ibu tersebut sambil memeriksa
keadaan umum ibu dan janin melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik
(tekanan darah, suhu, dan denyut nadi). Setiap ibu yang masuk ke unit bersalin
dilakukan suatu surveillans janin (pemeriksaan janin waktu masuk) meliputi:
- uji nonstress (NST): penilaian ada tidaknya akselerasi denyut jantung janin
dengan gerakan janin
- uji stress kontraksi (CST): penilaian frekuensi denyut jantung janin
sebelum, selama, dan setelah kontraksi uterus jika psaien telah in partu
Dengan pemeriksaan di atas dapat ditentukan apakah terdapat gawat janin atau
tidak. Pada kasus persalinan palsu dan telah dilakukan tes di atas dan hasilnya
normal maka ibu dapat dipulangkan dari unit bersalin. Jika terdapat hasil yang
tidak normal maka ibu harus dirawat untuk memperbaiki keadaan ibu dan
janinnya. (Cunningham, et.al, 2006)
Persalinan normal terbagi dalam 4 fase (kala), yaitu:
Kala 1 : waktu untuk pembukaan serviks sampai pada pembukaan lengkap
10 cm. Mengawasi wanita in-partu sebaik-baiknya. Serta menanamkan
semangat diri kepada wanita ini bahwa proses persalinan adalah fisiologis.
Tanamkan rasa percaya diri dan percaya pada penolong
Kala 2 : kala pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan his
ditambah kekuatan mengedan mendorong janin keluar hingga lahir. Pada
umumnya kepala janin telah masuk ruang panggul. Ketuban yang menonjol
biasanya akan pecah sendiri. Bila belum pecah, harus dipecahkan. His
datang lebih sering dan lebih kuat, lalu timbullah his mengedan. Penolong
harus telah siap untuk memimpin persalinan
Kala 3 : waktu untuk pelepasan dan pengeluaran uri. Pengawasan pada
kala pelepasan dan pengeluaran ini cukup penting, karena kelalaian dapat
mengakibatkan resiko pendarahan yang dapat engakibatkan kematian.
Biasanya, uri akan lahir spontan dalam 15-30 menit, dapat ditunggu hingga
1 jam, tetapi tidak boleh ditunggu bila terjadi banyak pendarahan
Kala 4 : mulai dari lahirnya uri selama 1-2 jam. Merupakan kala
pengawasan seteah uri lahir 1-2 jam. Darah yang keluar harus ditakar
sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan adalah biasa disebabkan
oleh luka karena pelepasan uri dan perobekan pada serviks dan perinium.
Rata-rata dalam batas normal jumlah pendarahan adalah 250cc. Biasanya
100-300cc. Bila pendarahan sudah lebih dari 500cc, ini sudah dianggap
abnormal. Harus dicari sebabnya (Cunningham, et. al, 2006)
B. Pemeriksaan per Vaginam
Paling sering, kecuali kalau sudah ada perdarahan yg lebih dari darah lendir,
pemeriksaan vagina dgn kondisi aseptik dilakukan untuk mengetahui hal2
berikut:
a. Penipisan servix
b. Dilatasi servix
c. Posisi servix
d. Bagian presentasi
e. Stasi
f. Deteksi pecahnya selaput ketuban
Pemeriksaan Vagina
Pemeriksaan ini harus dilakukan secara halus dan hati-hati serta
menyeluruh dalam keadaan aseptis menggunakan sarung tangan. Sementara
pasien berada dalam posisi lithotomi atau posisi dorsal oleh karena dengan
posisi tersebut pemeriksaan dan orientasi akan lebih mudah dilakukan. Selain
itu pula, posisi ini juga merupakan posisi terbaik untuk menentukan imbangan
antara bagian terendah janin dengan panggul. Dalam pemeriksaan vagina ada
beberapa hal yang dapat diperiksa diantaranya :
1. Palpasi Cervix,
Dengan melakukan palpasi cervix kita dapat menentukan
 Apakah cervix lunak / kenyal?
 Apakah cervix tipis dan mendatar atau tebal dan panjang?
 Apakah cervix mudah di dilatasikan / tidak?
 Apakah cervix tertutup atau terbuka? Kalau terbuka, perkirakan lebarnya
diameter cincin cervix.
2. Presentasi, yaitu dapat ditentukan :
 Apakah presentasinya – kepala, bokong, atau bahu?
 Apakah ada caput succendaneum? Dan apakah kecil atau besar?
 Sampai dimana turunnya bagian terendah janin? Dimanakah kedudukan
bgaian terendah janin (bukan caput succendaneum) terhadap garis spina
ischiadica kanan – kiri ?
Kalau di atas garis, maka stasiunnya : -1, -2, atau -3 cm. Kalau di
bawahnya : +1, +2, atau +3 cm.
3. Kedudukan, dapat diketahui :
 Kalau presentasinya bokong, dimanakah sacrumnya? Dan kaki dalam
keadaan fleksi atau extensi?
 Pada presentasi kepala carilah sutura sagitalisnya. Bagaimanakah
arahnya? Pada diameter panggul anteroposterior, oblique atau transversa?
 Apakah sutura sagitalis ada di tengah antara pubis dengan sacrum
(synclitismus) ; dekat promontorium (asynclitismus anterior) ; atau dekat
symphysis pubis (asynclitismus posterior)?
 Apakah bregma di kanan ata kiri ? anterior atau posterior ? (bregma
berbentuk baji dan merupakan pertemuan empat buah suture).
 Dimanakah fontanella posterior ? (fontanella berbentuk huruf Y dan
mempunyai tiga suturae).
 Apakah kepala dalam keadaan fleksi (occiput lebih rendah daripada
sinciput) atau ekstensi (sinciput lebih rendah dari occiput) ?
 Pada kasus-kasus kesulitan dalam mencari suturae, palpasi telinga dapat
membantu menetapkan arah sutura sagitalis dan dengan demikian juga
diameter anteroposterior sumbu panjang kepala. Tragus menunjuk ke
arah muka.
4. Ketuban
Terabanya kantung ketuban merupakan bukti bahwa ketuban masih utuh.
Keluarnya cairan, meconium, dan rambut janin yang dapat dijepit dengan
sebuah klem, semua itu menunjukkan bahwa ketuban telah pecah.
5. Penilaian panggul secara umum, adalah untuk menilai :
 Dapatkah promontorium diraba? Conjugata diagonalis dapat diukur
secara klinis. Conjugata diagonalis adalah jarak antara tepi bawah
symphysis pubis dengan promontorium dan panjang rata-ratanya adalah
12,5 cm. Pada pemeriksaan vaginal diraba promontorium. Setelah ujung
jari distal jari-jari mencapai promontorium maka titik tempat bagian
proksimal jari-jari bersentuhan dengan angulus subpubicus diberi tanda.
Kemudian jari-jari dikeluarkan dari vagina dan kemudian kedua titik
tersebut diukur. Dengan mengurangi panjang conjugata diagonalis 1,5
cm, maka diperoleh ukuran conjugata obstetrica. Umumnya
promontorium tidak dapat diraba dan ini diterima sebagai bukti bahwa
diameter anteroposterior PAP adekuat. Apabila promontorium teraba dan
conjugata obstetrica diduga pendek maka harus dilakukan pelvimetri
dengan sinar tembus.
 Apakah bentuk PAP simetris?
 Apakah spina ischiadica menonjol dan posterior?
 Apakah sacrum panjang dan lurus atau pendek dan cekung?
 Apakah dinding samping sejajar atau konvergen?
 Apakah incisura ischiadica lebar / sempit?
 Apakah ada penonjolan tulang atau jaringan lunak ke dalam cavum
pelvis?
 Bagaimana lebarnya angulus subpubicus ? Jarak antara tuber ischiadicum
(rata-rata 10, 5 cm) secara kasar dapat diukur dengan meletakkan tinju
diantara tuber ischiadicum kanan dan kiri. Kalau ini dapat dikerjakan
maka diameter transversa PBP dianggap adekuat.
 Apakah jaringan-jaringan lunak dan perineum lemas dan elastis atau
keras dan kaku?
6. Hubungan Fetopelvik
 Bagaimana persesuaian antara bagian terendah dan panggul?
 Apabila engagement belum terjadi, maka dapatkah bagian terendah
didorong masuk panggul dengan tekanan pada fundus dan suprapubis?
 Apakah bagian terendah menonjol diatas symphysis?
(Hakimi, 1996)

C. Penatalaksanaan Partus Kala 1
Pemeriksaan fisik umum yang belum dilakukan harus diselesaikan
sesegera mungkin setelah pasien masuk rawat inap. Yang paling baik,
seorang dokter dapat membuat kesimpulan tentang normalnya kehamilan
tersebut apabila semua pemeriksaan, termasuk tinjauan ulang rekan medis
dan laboratium, sudah dilaksanakan. Sebuah rencana yang rasional untuk
memantau persalinan kemudian dapat ditegakkan berdasarkan kepentingan
janin dan ibunya. Bila tidak ada kelainan yang ditemukan atau diduga, si ibu
harus diyakinkan bahwa semuanya beres. Meskipun durasi rata-rata
persalinan kala satu pada wanita nulipara adalah sekitar 7 jam dan wanita
para sekitar 4 jam, terdapat variasi individual yang besar. Oleh karena itu,
pernyataan pasti lamanya persalinan tidaklah bijaksana
Pemantauan kesejahteraan janin selama persalinan. Untuk mendapatkan
hasil akhir kehamilan yang optimal, harus dibuat program yang tersusun rapi
untuk memberikan surveilans ketat tentang kesejahteraan ibu dan janin
selama persalanin. Semua observasi harus dicatat secara tepat. Frekuensi,
intesitas, dan lamanya kontraksi uterus, serta respons denyut jantung janin
terhadap kontraksi tersebut harus diperhatikan benar. Aspek-aspek ini dapat
dievaluasi dengan tepat dalam urutan yang logis.
Frekuensi Denyut Jantung Janin. Frekuensi denyut jantung janin dapat
diketahui dengan stetoskop yang sesuai atau salah satu di antara berbagai
macam alat ultrasonik Doppler. Perubahan frekuensi denyut jantung janin
yang kemungkinan besar berbahaya bagi janin hampir selalu dapat ditemukan
setelah kontraksi uterus. Karena itu, jantung janin wajib diperiksa dengan
auskultasi segera setalah terjadi kontraksi. Untuk menghindari kebingungan
antara kerja jantung ibu dan janinnya, denyut nadi ibunya hendaknya dihitung
pada saat menghitung frekuensi denyut jantung janin. Bila tidak, takikardia
ibu mungkin disalahartikan sebagai frekuensi denyut jantung janin normal.
Resiko, bahaya, atau gawat janin-yaitu hilangnya kesejahteraan janin-dicugai
apabila frekuensi denyut jantung janin yang diukur segera setelah kontraksi
berulang kali berada di bawah 110 denyut per menit. Gawat janin sangat
mungkin terjadi apabila denyut jantung terdengar kurang dari 100 denyut per
menit sekalipun ada perbaikan hitung detak jantung menjadi 110 sampai 160
denyut per menit sebelum kontraksi berikutnya. Apabila setelah kontraksi
ditemukan deselerasi semacam ini, persalinan tahap selanjutnya, jika
dimungkinkan, paling baik dimonitor secara elektronik
America Academy of Pediatrics dan America College of Obstetricians and
Gynecologists (1997) merekomendasikan bahwa selama persalainan kala I,
bila tidak ditemukan adanya kelainan, jantung janin harus diperikasa segera
setelah kontraksi setidaknya setiap 30 menit, kemudian setiap 15 menit pada
persalinan kala II. Jika digunakan pemantauan elektronik kontinu, grafik
dinilai sekurangnya setiap 30 menit selama persalinan kala I dan setidaknya
setiap 15 menit selama persalinan kala II. Untuk ibu hamil yang beresiko,
auskultasi dilakukan setiap 15 menit selama persalinan kala I dan setiap 5
menit selama persalinan kala II. Pemantauan elektronik kontinu dapat
digunakan dengan penilaian grafik setiap 15 menit selama persalinan kala II.
KONTRAKSI UTERUS. Dengan melakukan penekanan ringan oleh telapak
tangan diatas uterus, pemeriksa dapat menentukan waktu dimulainya
kontraksi. Intensitas kontraksi diukur berdasarkan derajat ketegangan yang
dicapai uterus. Pada puncak kontraksi efektif, jari atau ibu jari tangan tidak
dapat menekan uterus. Selanjutnya, dicatat waktu ketika kontraksi tersebut
menghilang. Urutan ini diulangi untuk mengevaluasi frekuensi, durasi, dan
intensitas kontraksi uterus. Yang paling baik adalah mengukur kontraksi
uterus dengan menyebut derajat ketegangan atau resistensi terhadap indentasi.
Pemantauan Dan Penatalaksanaan Ibu Dan Selama Persalinan
TANDA VITAL IBU. Suhu, denyut nadi, tekanan darah ibu dievaluasi
setidaknya setiap 4 jam (Tabel13-3). Jika selaput ketuban telah pecah lama
sebelum awitan persalinan, atau jika terjadi kenaikan suhu ambang, suhu
diperiksa tiap jam. Selain itu, bila terjadi pecah ketuban yang lama-lebih dari
18 jam-disarankan untuk memberikan antibiotik profilaksis terhadap infeksi
steptokokus grup B. (American College of Obstetricians and
Gynecologists,1996).
PEMERIKSAAN VAGINA SELANJUTNYA. Pada persalinan kala satu,
perlunya pemeriksaan vagina selanjutnya untuk mengetahui status serviks dan
station serta posisi bagian terbawah akan sangat bervariasi (Tabel13-3). Bila
selaput ketuban pecah, pemeriksaan hendaknya diulangi secara cepat jika
pada pemeriksaan sebelumnya kepal janin belum cakap (engaged). Frekuensi
denyut jantung janin harus diperiksa segera dan pada kontrasi uterus
berikutnya untuk mendeteksi kompresi tali pusat yang tidak diketahui. Di
Parkland Hospital, pemeriksaan panggul sering dilakukan secara periodik
dengan interval 2-3 jam untuk menilai kemajuan persalinan
ASUPAN ORAL. Makanan harus ditunda pemberiannya selama proses
persalainan aktif. Waktu pengosongan lambung memanjang secara nyata saat
proses persalinan berlangsung dan diberikan obat analgesik. Sebagai
akibatnya, makanan dan sebagian besar obat yang dimakan tetap berada di
lambung dan tidak diabsorpsi; melainkan, dapat dimuntahkan dan teraspirasi
Terdapat kecenderungan memberikan cairan dengan jumlah yang terbatas
untuk wanita in partu (Tabel13-3). Guyton dan Gibbs (1994) mengadakan
suatu penelitian mengenai pemberian cairan sebanyak 150 mL per oral 2 jam
sebelum pembedahan elektif. Insiden aspirasi tidak terpengaruh. Belum jelas
apakah penelitian ini dapat diterapkan pada wanita in partu, yang berisiko
menjalani seksio sesarea segera setiap saat.
CAIRAN INTRAVENA. Meskipun telah menjadi kebiasaan di banyak rumah
sakit untuk memasang sistem infus intravena secara rutin pada awal
persalinan, jarang ada ibu hamil normal yang benar-benar memerlukannya,
setidaknya sampai analgesia diberikan. Sistem infus intravena
menguntungkan selama masa nifas dini untuk memberikan oksitosin
profilaksis dan seringkali bersifat terapeutikketika terjadi atonia uteri. Selain
itu, persalinan yang lebih lama, pemberian glukosa, natrium dan air untuk
wanita yang sedang berpuasa dengan kecepatan 60 sampai 120 ml per jam,
efektif untuk mencegah dehidrasi dan asidosis (Tabel13-3).
Tabel 13-3. Rekomendasi Pimpinan Persalinan Kala I dan II Normal pada
Wanita tanpa Faktor Risiko Anestetik, Medis atau Obstetris
1. Tanda vital ibu diperiksa sekurang-kurangnya setiap 4 jam.
2. Pemeriksaan vagina periodik menggunakan pelumas larut-air dan steril;
hindari antiseptik povidon-iodin dan heksaklorofen.
3. Diizinkan untuk minim cairan jernih, kadang-kadang potongan es batu,
sedikit demi sedikit dan memakai pelembab bibir. Hidrasi intravena
diindikasikan bila persalinan memanjang.
4. Si ibu harus mempunyai pilihan untuk dapat berjalan-jalan selama
persalinan kala I.
5. Pereda nyeri harus bergantung pada kebutuhan dan keinginan si ibu.
Dari American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and
Gynecologists, 1997, dengan izin.
POSISI IBU SELAMA PERSALINAN. Ibu yang dalam proses bersalin tidak
perlu berbaring di tempat tidur pada awal persalinan. Sebuah kursi yang
nyaman mungkin lebih bermanfaat secara psikologis. Di tempat tidur, ibu
hendaknya diperolehkan mengambil posisi yang rasanya enak, paling sering
adalah berbaring miring. Ibu tidak harus ditahan pada posisi terlentang.
Bloom dkk. (1998) melakukan percobaan acak untuk berjalan selama
persalinan pada 1000 wanita dengan kehamilan risiko rendah. Mereka
menemukan bahwa berjalan tidak mempercepat atau mengganggu persalinan
aktif dan tidak berbahaya.
ANALGESIA. Seperti tercantum pada Tabel13-3, analgesi paling sering
mulai diberikan berdasarkan rasa nyeri pada wanita yang bersangkutan. Jenis
analgesia, jumlahnya, dan frekuensi pemberian hendaknya didasarkan pada
kebutuhan untuk menghilangkan nyeri di satu pihak, dan kemungkinan
melahirkan bayi yang sakit di lain pihak
Penetapan waktu, metoda pemberian, dan ukuran dosis awal serta lanjutan
obat-obat analgesik yang bekerja secara sistemik sangat didasarkan pada
interval waktu yang diharapkan sampai pelahiran. Oleh karenanya,
pemeriksaan vagina berulang sebelum memberikan analgetik lebih banyak
sering kali dapat diterima. Dengan munculnya gelaja-gejala khas persalinan
kala dua, yaitu dorongan untuk mengejan, status serviks dan bagian terbawah
janin harus dievaluasi kembali.
AMNIOTOMI. Bila selaput ketuban masih utuh, ada dorongan yang besarbahkan

pada persalinan normal sekalipun-untuk melakukan amniotomi.
Manfaat yang diperkirakan adalah persalinan bertambah cepat, deteksi dini
kasus pencemaran mekonium pada cairan amnion, dan kesempatan untuk
memasang elektroda ke janin serta memasukkan pressure catheter ke dalam
rongga uterus. Jika amniotomi dilakukan, harus diupayakan menggunakan
teknik aseptik. Yang penting, kepala janin harus tetap berada di serviks dan
tidak dikeluarkan dari panggul selama prosedur; karena tindakan seperti itu
akan menyebabkan prolaps tali pusat.
FUNGSI KANDUNG KEMIH. Distensi kandung kemih harus dihindarkan
karena dapat mengakibatkan persalinan macet dan selanjutnya menimbulkan
hipotonia serta infeksi kandung kemih. Setiap melakukan pemeriksaan
abdomen, daerah suprapubik hendaknya diinspeksi dan dipalpasi untuk
mendeteksi pengisian kandung kemih. Jika kandung kemih dengan mudah
dapat dilihat dan dipalpasi di atas simfisis, wanita tersebut dianjurkan untuk
berkemih. Sewaktu-waktu ibu diperbolehkan untuk berjalan dengan bantuan
ke toilet dan berhasil berkemih, sekalipun ibu tidak dapat berkemih di tempat
tidur. Jika kandung kencing terdistensi dan tidak dapat berkemih,
diindikasikan kateterisasi intermiten
(Cunningham et. al, 2006)

D. Kala II
Kala II mulai bila pembukaan serviks lengkap. Umumnya pada akhir
kala I atau permulaan kala II dengan kepala janin sudah masuk dalam ruang
panggul, ketuban pecah sendiri. Bila ketuban belum pecah spontan, ketuban
harus dipecahkan (amniotomi). Kadang-kadang pada permulaan kala II ini
wanita tersebut ingin muntah disertai rasa ingin mengedan kuat. His akan
timbul lebih sering dan merupakan tenaga pendorong janin. Disamping his,
wanita tersebut harus dipimpin meneran (untuk membuat kontraksi dinding
abdomen dan diafragma menekan uterus) pada waktu his. Di luar his denyut
jantung janin harus sering diawasi. Ada 2 cara mengedan :
1. Wanita tersebut dalam letak berbaring merangkul kedua pahanya sampai
batas siku. Kepala sedikit diangkat, sehingga dagu mendekati dada dan ia
dapat melihat perutnya.
2. Sikap seperti di atas, tetapi badan dalam posisi miring ke kanan atau kiri
tergantung pada letak punggung anak. Hanya satu kaki dirangkul, yakni
kaki yang berada di atas. Posisi yang menggulung ini memang fisiologis.
Posisi ini baik dilakukan bila putaran paksi dalam belum sempurna. Dokter
atau penolong persalinan berdiri pada sisi kanan wanita tersebut.
Bila kepala janin telah sampai pada dasar panggung, vulva mulai
membuka. Rambut kepala janin mulai tampak. Perineum dan anus tampak
mulai meregang. Perineum mulai lebih tinggi, sedangkan anus mulai
membuka. Anus pada mulanya bulat berubah berbentuk "D" dan tampak
dinding depan rektum. Perineum ditahan dengan tangan kanan sebaiknya
dengan kassa steril, bila tidak ditahan akan robek (Ruptura perinei)
(Winkjosastro, 2006)
Dianjurkan untuk melakukan episiotomi (insisi pada perineum dengan
gunting) pada primigravida dan pada perineum kaku. Episiotomi dilakukan
pada saat perineum tipis dan kepala tidak masuk kembali ke dalam vagina.
Ketika kepala janin akan mengadakan defleksi dengan suboksiput di bawah
simfisis sebagai hipomoklion, sebaiknya tangan kiri menahan bagian belakang
kepala dengan maksud agar gerakan defleksi tidak terlalu cepat. Dengan
demikian, ruptura perinei dapat dihindarkan. Untuk mengawasi ruptura
perineum ini posisi miring (Sims position) lebih menguntungkan dibandingkan
posisi biasa. Akan tetapi, bila perineum jelas telah tipis dan menunjukkan
akan timbul ruptura perinei, maka sebaiknya dilakukan epistotomi,. Dikenal :
a). epistotomi mediana (pada garis tengah, baik dilakukan pada multipara), b).
epistotomi mediolateralis (pada garis tengah dan diperluas ke lateral saat
mendekati anus, baik dilakukan pada primi), dan c). epistotomi lateralis
(langsung miring terhadap sumbu perineum, dapat memberikan pembukaan
yang terbesar, kadang dilakukan pada keadaan direncanakan ekstraksi forceps
atau ekstraksi vakum) (Winkjosastro, 2006)
Gambar: Berbagai Jenis Epistotomi
Keuntungan epistotomi mediana ialah tidak menimbulkan perdarahan
banyak dan penjahitan kembali lebih mudah, sehingga sembuh per primam
dan hampir tidak berbekas. Bahayanya ialah dapat menimbulkan ruptura
perinei totalis (robekan perineum tembus sampai m.sfingter ani, bahkan
kadang sampai mukosa rektum).Perawatan ruptura perinei totalis harus
dikerjakan serapi-rapinya, agar jangan sampai gagal dan timbul inkontinensia
alvi. Untuk menghindarkan robekan perineum dapat dilakukan perasat Ritgen
: bila perinuem meregang dan menipis, tangan kiri menahan dan menekan
bagiana belakang kepala janin ke arah anus. Tangan kanan pada perineum,
dengan ujung-ujung jari tangan kanan tersebut melalui kulit perineum dicoba
menggait dagu janin dan ditekan ke arah simfisis dengan hati-hati. Dengan
demikian, kepala janin dilahirkan perlahan-lahan ke luar. Setelah kepala lahir
diperhatikan apakah tali pusat melilit leher janin. Lilitan dapat dilonggarkan
dan bila sukar dapat dilepaskan dengan menjepit tali pusat dengan 2 cunam
Kocher kemudian dipotong diantaranya dengan gunting yang tumpul ujungnya
(Winkjosastro, 2006).
Gambar: Manuver Ritgen
E. Kelahiran spontan
Pada waktu kepala meregangkan vulva dan perineum pada saat
kontraksi sehingga cukup untuk membuka introitus vagina menjadi
berdiameter sekitar 5 cm, perlu memasang duk steril dengan satu tangan untuk
melindungi introitus dari anus dan kemudian menekan ke depan pada dagu
janin melalui perineum tepat di depan coccygis, sementara tangan lainnya
memberikan tekanan di atas pada occiput. Kepala dilahirkan secara berlahan
dengan basis occiput berputar di tepi bawah symphisis pubis sebagai titik
tumpu, sementara bregma (fontanela anterior), dahi dan wajah berturut-turut
terlihat di perineum. Setelah kepala lahir, kepala mengadakan putaran paksi
luar ke arah letak punggung janin. Usaha selanjutnya melahirkan bahu janin.
Mula-mula lahirkan bahu depan, dengan kedua telapak tangan pada samping
kiri dan kanan kepala janin. Kepala janin ditarik perlahan kearah anus
sehingga lahir bahu depan, tarikan tidak boleh terlalu keras dan kasar oleh
karena dapat menimbulkan robekan pada muskulus sternokleidomastoidues.
Kemudian, kepala janin diangkat kearah simfisis untuk melahirkan bahu
belakang.
Setelah kedua bahu janin dapat dilahirkan, maka usaha selanjutnya ialah
melahirkan badan janin, trokanter anterior dan disusul trokanter posterior.
Dengan kedua tangan di bawah ketiak janin dan sebagaian di atas dipunggung
atas berturut-turut dilahirkan badan janin, trokanter anterior dan trokanter
posterior.
Setelah janin lahir, bayi sehat dan normal akan segera menarik napas
dan langsung menangis keras. Kemudian bayi diletakkan dengan kepala ke
bawah kira-kira membentuk sudut 30 derajat dengan bidang datar.
Lendir pada jalan napas segera dibersihkan atau diisap dengan
pengisap lendir. Tali pusat dipotong 5-10 cm dari umbilikus diantara 2 cunam
Kocher. Bila kemungkinan akan melakukan exchange transfusion pada bayi
maka pemotongan tali pusat diperpanjang sampai antara 10-15cm. Ujung tali
pusat bagian bayi didesinfeksi dan diikat kuat. Hal ini harus diperhatikan
benar karena bila ikatan kurang kuat, ikatan dapat terlepas dan perdarahan dari
tali pusat masih dapat terjadi yang membahayakan bayi tersebut. Kemudian
diperhatikan kandung kencing ibu. Bila penuh, dilakukan pengosongan
kandung kencing, sedapat-dapatnya wanita bersangkutan disuruh kencing
sendiri. Kandung kencing yang penuh dapat menimbulkan atonia uteri dan
mengganggu pelepasan plasenta yang berarti menimbulkan perdarahan
postpartum. (Winkjosastro, 2006)
F. Janin terlilit tali pusat
Tali pusat yang melilit janin bisa memicu kematian. Tetapi ternyata
lilitan tali pusat tidaklah terlalu membahayakan. Lilitan tali pusat menjadi
bahaya ketika memasuki proses persalinan dan terjadi kontraksi rahim
(mulas) dan kepala janin mulai turun memasuki saluran persalinan. Lilitan tali
pusat menjadi semakin erat dan menyebabkan penekanan atau kompresi pada
pembuluh-pembuluh darah tali pusat. Akibatnya, suplai darah yang
mengandung oksigen dan zat makanan ke bayi akan berkurang,
mengakibatkan bayi menjadi sesak atau hipoksia.
Sebab Janin terlilit tali pusat
Pada usia kehamilan sebelum 8 bulan umumnya kepala janin belum
memasuki bagian atas panggul. Pada saat itu ukuran bayi relatif masih kecil
dan jumlah air ketuban banyak sehingga memungkinkan bayi terlilit tali pusat.
Pada kehamilan kembar dan air ketuban berlebihan atau polihidramnion
kemungkinan bayi terlilit tali pusat meningkat. Tali pusat yang panjang dapat
menyebabkan bayi terlilit. Panjang tali pusat bayi rata-rata 50 sampai 60 cm.
Namun tiap bayi mempunyai panjang tali pusat berbeda-beda. Dikatakan
panjang jika melebihi 100 cm dan dikatakan pendek jika panjangnya kurang
dari 30 cm.
Penyebab bayi meninggal karena tali pusat
Puntiran tali pusat secara berulang-ulang ke satu arah. Biasanya terjadi
pada trimester pertama atau kedua. Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke
janin melalui tali pusat tersumbat total. Karena dalam usia kehamilan tersebut
umumnya bayi masih bergerak dengan bebas. Lilitan tali pusat pada bayi
terlalu erat sampai dua atau tiga lilitan. Hal tersebut menyebabkan kompresi
tali pusat sehingga janin mengalami kekurangan oksigen
Penanganan
Memberikan oksigen pada ibu dalam posisi miring. Namun, bila
persalinan masih akan berlangsung lama dan detak jantung janin semakin
lambat (bradikardia), persalinan harus segera diakhiri dengan tindakan
operasi caesar. Melalui pemeriksaan teratur dengan bantuan USG untukk
melihat apakah ada gambaran tali pusat di sekitar leher. Namun, tidak dapat
dipastikan sepenuhnya bahwa tali pusat tersebut melilit leher janin atau tidak.
Apalagi untuk menilai erat atau tidaknya lilitan. Namun, dengan USG
berwarna (collor dopper) atau USG 3 dimensi, Anda dapat lebih memastikan
tali pusat tersebut melilit atau tidak di leher janin, serta menilai erat tidaknya
lilitan tersebut.
Tanda tanda bayi terlilit tali pusat
Pada bayi dengan usia kehamilan lebih dari 34 minggu, namun bagian
terendah janin (kepala atau bokong) belum memasuki bagian atas rongga
panggul. Pada janin letak sungsang atau lintang yang menetap meskipun telah
dilakukan usaha untuk memutar janin (Versi luar/knee chest position) perlu
dicurigai pula adanya lilitan tali pusat. Tanda penurunan detak jantung janin di
bawah normal, terutama pada saat kontraksi rahim. (Conectique, 2008)
G. Pelahiran Bahu
Setelah lahir, kepala jatuh ke posterior, sehingga wajah hampir
menempel ke anus. Oksiput segera memutar kearah salah satu paha ibunya
sehingga kepala mengambil posisi melintang. Gerakan-gerakan restitusi
selanjutnya (rotasi eksterna) menunjukkan bahwa diameter biakromion
(diameter transversal dada) telah memutar menyesuaikan dengan diameter
anteroposterior panggul. Paling sering, bahu terlihat di vulva tepat setelah
rotasi eksternal dan lahir spontan. Kadangkala, terjadi pelambatan dan
tampaknya perlu dianjurkan ekstraksi segera. Pada keadaan itu, sisi kepala
dipegang dengan kedua tangan dan lakukan traksi kearah bawah secara
perlahan, dilakukan sampai bahu anterior terlihat dibawah arkus pubis.
Beberapa praktisi lebih memilih melahirkan bahu anterior sebelum menghisap
nasofaring atau memeriksa tali pusat untuk menghindari distosia bahu. Lalu,
dengan gerakan keatas bahu posterior dilahirkan. (Cunningham, et.al, 2006)
Sisa badan hampir selalu mengikuti bahu tanpa kesulitan, tetapi pada
kasus persalinan yang berkepanjangan, pelahiran badan dapat dipercepat
dengan tarikan sedang pada kepala dan tekanan sedang pada fundus uteri.
Mengaitkan jari-jari di aksila hendaknya dihindari, karena akan mencederai
saraf ekstremitas superior sehingga menimbulkan paralisis sementara atau
mungkin permanen. Selanjutnya, traksi hendaknya hanya dikerjakan searah
sumbu panjang bayi karena kalau ditarik miring dapat menyebabkan
tertekuknya leher dan peregangan belebihan pleksus brakialis. (Cunningham,
et.al, 2006)
H.Membersihkan nasofaring
Membersihkan nasofaring dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan
aspirasi debris cairan amnion dan darah yang mungkin terjadi setelah dada
lahir dan bayi menarik nafas, wajah cepat-cepat diusap dan lubang hidung
serta mulut bayi diaspirasi. (Cunningham, et.al, 2006)
Teknik Intubasi
Kepala janin dalam posisi menghadap ke atas. Laringoskop dimasukkan
ke dalam sisi dalam mulut, kemudian diarahkan ke posterior ke arah orofaring
kemudian laringoskop digerakkan secara perlahan ke dalam ruangan di antara
dasar lidah dan epiglottis. Elevasi perlahan ujung laaringoskop akan
mengangkat ujung epiglotis serta memajankan glottis dan pita suara. Pipa
endotrakeal dimasukkan melaui sisi kanan mulut dan dimasukkan melalui pita
suara sampai bahu pipa mencapai glotis. Ukuran pipa endutrakeal harus sesuai
dengan janin. Langkah yang diambil untuk memastikan pipa berada dalam
trakea dan bukan di esofagus adalah dengan mendengarkan bunyi napas atau
suara gurgling jika udara dimasukkan ke dalam lambung. Setiap benda asing
yang menghalangi pipa endotrakea harus segera disingkirkan dengan cara
pengisapan. Mekonium, darah, mucus dan debris tertentu pada cairan amnion
atau pada jalan lahir mungkin telah dihisap in utero atau saat melalui jalan
lahir. (Cunningham, et.al, 2006)
I. Pemotongan Tali Pusat
Tali pusat dipotong di antara dua klem seperti yang dipasang 4 atau 5 cm
dari abdomen janin dan kemudian satu klem tali pusat dipasang 2 atau 3 cm
dari abdomen janin. Sebaiknya dalam memilih klem, gunakan klem plastik
yang aman, efisien, mudah disterilkan dan tidak terlalu mahal. (Cunningham,
et.al, 2006)
Saat yang tepat mengklem tali pusat
Jika setelah lahir, bayi ditempatkan setinggi introitus vagina atau di
bawahnya selama 3 menit dan sirkulasi fetoplasenta tidak segera disumbat
dengan klem tali pusat, sekitar 80 ml darah dapat berpindah dari plasenta ke
janin. Satu keuntungan dari transfusi plasenta tersebut adalah fakta bahwa
hemoglobin pada 80 ml darah plasenta yang berpindah ke bayi tersebut,
memberikan 50 mg besi sebagai simpanan bayi dan tentu saja mengurangi
frekuensi anemia gizi besi pada masa bayi.
Pada percepatan perusakan eritrosit, seperti yang terjadi pada alloimunisasi
ibu, bilirubin yang terbentuk dari eritrosit tambahan tersebut ikut memperberat
bahaya hiperbilirubinemi. Meskipun secara teori risiko beban sirkulasi yang
berlebihan akibat hipervolemia berat mengkhawatirkan, terutama pada bayi
prematur dan pertumbuhan terhambat, tambahan darah plasenta ke dalam
sirkulasi bayi tersebut biasanya tidak menimbulkan kesulitan. Oleh karena itu
mengklem tali pusat setelah pembersihan saluran nafas bayi pertama kali
selesai biasanya memerlukan waktu 30 detik. Bayi tidak dinaikkan di atas
introitus pada persalinan pervaginam, juga tidak terlalu tinggi di atas dinding
abdomen ibu pada seksio sesarea. (Cunningham, et. al, 2006)
J. Penatalaksanaan Kala III Persalinan
Partus kala III disebut kala uri. Kelalaian dalam memimpin kala III dapat
mengakibatkan kematian karena perdarahan. Kala uri dimulai sejak bayi lahir
lengkap sampai plasenta lahir lengkap. Ada 2 tingkat pada kelahiran plasenta,
yaitu :
1. melepasnya plasenta dari implantasinya pada dinding uterus
2. pengeluaran plasenta dari dalam kavum uteri
(Winkjosastro, 2006)
Seperti telah dikemukakan, setelah janin lahir, uterus masih mengadakan
kontraksi yang mengakibatkan penciutan permukaan kavum uteri. Akibatnya
plasenta akan lepas dari tempat implantasinya. Pelepasan ini dapat dimulai dari
tengah (sentral menurut Schultze) atau dari pinggir plasenta (marginal menurut
Mahews-Duncan) atau serempak dari tengah dan dari pinggir plasenta. Cara
yang pertama ditandai oleh makin panjang keluarnya tali pusat dari vagina
(tanda ini dikemukakan oleh Ahlfeld) tanpa adanya perdarahan per vaginam,
sedangkan cara yang kedua ditandai adanya perdarahan dari vagina apabila
plasenta mulai terlepas. Umumnya perdarahan tidak melebihi 400 ml, bila lebih
maka hal ini patologis. (Winkjosastro, 2006)
Segera setelah bayi lahir, tinggi fundus uteri dan konsistensinya
hendaknya dipastikan. Selama uterus tetap kencang dan tidak ada perdarahan
yang luar biasa, menunggu dengan waspada sampai plasenta terlepas biasa
dilakukan. Jangan dilakukan masase; tangan hanya diletakkan di atas fundus,
untuk memastikan bahwa organ tersebut tidak menjadi atonik dan terisi darah
dibelakang plasenta yang terlepas (Cunningham, et.al , 2006)
Tanda-tanda pelepasan plasenta
Karena usaha-usaha untuk mengeluarkan plasenta sebelum terlepas sia-sia
saja dan mungkin berbahaya, yang paling penting adalah mengenali tandatanda
pelepasan
plasenta
sebagai
berikut:

1. Uterus menjadi globular, dan biasanya lebih kencang. Tanda ini terlihat
paling awal.
2. Sering ada pancaran darah mendadak
3. Uterus naik di abomen karena plasenta yang telah terlepas, berjalan turun
masuk ke segmen bawah uterus dan vagina, serta massanya mendorong
uterus ke atas.
4. Tali pusat keluar lebih panjang dari vagina, yang menunjukkan bahwa
plasenta telah turun. (Cunningham & et, 2006)
Tanda-tanda ini kadang-kadang terlihat dalam waktu 1 menit setelah bayi
lahir dan biasanya dalam 5 menit. Kalau plasenta sudah lepas, dokter harus
memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi kuat. Ibu boleh diminta untuk
mengejan dan tekanan intraabdominal yang ditimbulkan mungkin cukup untuk
mendorong plasenta. Kalau upaya ini gagal atau kalau pengeluaran spontan
tidak mungkin karena anestesi, dan setelah memastikan bahwa uterus
berkontraksi kuat, tekan fundus uteri dengan tangan untuk mendorong plasenta
yang sudah terlepas ke dalam vagina (Cunningham, et. al, 2006)
Kelahiran plasenta
Pengeluaran plasenta jangan dipaksakan sebelum pelepasan plasenta karena
ditakutkan menyebabkan inversio uteri. Pada saat uterus ditekan, tali pusat
tetap tegang. Uterus diangkat ke arah atas dengan tangan diatas abdomen.
Manuver ini diulangi beberapa kali sampai plasenta mencapai introitus. Saat
plasenta melewati introitus, penekanan pada uterus dihentikan. Plasenta
kemudian secara perlahan dikeluarkan dari introitus. Traksi pada tali pusat
tidak dibenarkan untuk menarik plasenta keluar dari uterus. Membran yang
melekat dilepaskan dari perlekatannya untuk mencegah terjadi robek atau
tertahan di jalan lahir. Apabila membran mulai robek, pegang robekan tersebut
dengan klem dan tarik perlahan. Permukaan maternal plasenta harus diperiksa
dengan hati-hati untuk memastikan bahwa tidak ada bagian plasenta yang
tertinggal di uterus. (Cunningham, et.al, 2006)
K. Kala IV
Plasenta, selaput ketuban, dan tali pusat hendaknya diperiksa
kelengkapannya dan kelainan – kelainan yang ada. Satu jam segera setelah
kelahiran plasenta adalah masa kritis dan disebut oleh beberapa ahli obstetri
sebagai persalinan “kala empat”. (Cunningham, et. al, 2006)
Hal ini dimasudkan agar dokter, bidan, atau penolong persalinan masih
mendampingi wanita selesainya bersalin, sekurang – kurangnya 1 jam
postpartum. Dengan cara ini diharapkan kecelakaan – kecelakaan karena
perdarahan postpartum dapat dikurangi atau dihindarkan. Sebelum
meninggalkan wanita postpartum, harus diperhatikan 7 pokok penting:
1. Kontraksi uterus harus baik
2. Tidak ada perdarahan dari vagina atau perdarahan – perdarahan dalam alat
genitalia lainnya
3. Plasenta dan selaput ketuban harus telah lahir lengkap
4. Kandung kencing harus kosong
5. Luka –luka pada perineum terawat dengan baik dan tidak ada hematoma
6. Bayi dalam keadaan baik
7. Ibu dalam keadaan baik. Nadi dan tekanan darah normal, tidak ada
pengaduan sakit kepala atau enek. Adanya frekuensi nadi yang menurun
dengan volume yang baik adalah suatu gejala baik. (Winkjosastro, 2006)
Sekalipun diberikan oksitosin, perdarahan postpartum akibat atonia uterus
paling mungkin terjadi pada saat ini (satu jam setelah plasenta lahir lengkap).
Uterus harus sering diperiksa selama masa ini. Demikian pula, daerah
perineum harus sering diperiksa untuk mendeteksi perdarahan yang banyak.
American Academy of Pediatrics dan American College of Obsetricians and
Gynecologist (1997) merekomendasikan untuk mencatat tekanan darah dan
denyut nadi segera setelah melahirkan dan setiap 15 menit selama satu jam
pertama setelah melahirkan. (Cunningham, et. al, 2006)
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2005). Pelatihan APN. Retrieved October 18, 2008, from Instalasi
Kesehatan Reproduksi Pemalang: http://kesehatanreproduksi.tripod.com/apn.html
Conectique. (2008). Pregnancy-Waspadai, Janin Terlilit Tali Pusat. Retrieved
October 19, 2008, from Conectique-connecting women:
http://www.conectique.com
Cunningham, et. al. (2006). Obstetri Williams. Jakarta. Jakarta: EGC.
Hakimi, M. (1996). Harry Oxon Ilmu Kebidanan: Patologi dan Fisiologi
Persalinan Human Labor and Birth. Jakarta: Yayasan Essentia Medica.
Paisal. (2007, October 20). Persalinan: Operasi Sesar atau Normal. Retrieved
Oktober 19, 2008, from Warta Medika:
http://www.wartamedika.com/2007/10/persalinan-operasi-sesar-ataunormal.html>Persalinan
:
Operasi
Sesar
atau
Normal?

Winkjosastro, H. (2006). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Trims 4 downloading.
See the next chapter of necel publication

Made under authority of Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman`s student

For further information please visit:
necel.wordpress.com
Copyright © necel 2009
Free to distributed and copied as if nothing of part of this document isn`t deleted
or changed.

Perdarahan pada kehamilan muda

Perdarahan pada kehamilan muda

Posted on Juli 27, 2008 by kuliahbidan

Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 22 minggu.

Penanganan umum perdarahan pada kehamilan muda :
- Lakukan penilaian secara cepat mengenaii keadaan umum pasien, termasuk
tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, dan suhu).
- Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkerringat banyak, pingsan, tekanan sistolik
kurang 90 mmHg, nadi lebih 112 kali per menit).
- Jika dicurigai terjadi syok, segera mullai penanganan syok. Jika tidak terlihat tanda-
tanda syok, tetap pikirkan kemungkinan tersebut saat penolong melakukan
evaluasi mengenai kondisi wanita karena kondisinya dapat memburuk dengan
cepat. Jika terjadi syok, sangat penting untuk memulai penanganan syok dengan
segera.
- Jika pasien dalam keadaan syok, pikirkaan kemungkinan kehamilan ektopik
terganggu.
- Pasang infus dengan jarum infus besar ((16 G atau lebih), berikan larutan garam
fisiologik atau ringer laktat dengan tetesan cepat (500 cc dalam 2 jam pertama).

Diagnosis perdarahan pada kehamilan muda :
1. Pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita dengan anemia, penyakit
radang panggul (pelvic inflammatory disease- PID), gejala abortus atau keluhan
nyeri yang tidak biasa.
Catatan : Jika dicurigai adanya kehamilan ektopik, lakukan pemeriksaan
bimanual secara hati-hati karena kehamilan ektopik awal bisa sampai mudah
pecah.
2. Pikirkan kemungkinan abortus pada wanita usia reproduktif yang mengalami
terlambat haid (lebih 1 bulan sejak haid terakhir) dan mempunyai 1 atau lebih
tanda berikut : perdarahan, kaku perut, pengeluaran sebagian produk konsepsi,
serviks yang berdilatasi atau uterus yang lebih kecil dari seharusnya.
3. Jika abortus merupakan kemungkinan diagnosis, kenali dan segera tangani
komplikasi yang ada.

1. Diagnosis abortus imminens :
- Bercak perdarahan hingga perdarahan sedang. Perdarahan ringan
membutuhkan waktu lebih 5 menit untuk membasahi pembalut atau kain
bersih.
- Serviks tertutup.
- Uterus sesuai dengan usia kehamilan.
- Gejala / tanda : kram perut bawah dan uterus lunak.
2. Diagnosis kehamilan ektopik terganggu :
- Bercak perdarahan hingga perdarahan sedang.
- Serviks tertutup.
- Uterus sedikit membesar dari usia kehamilan normal
- Gejala / tanda : limbung atau pingsan, nyeri perut bawah, nyeri goyang porsio,
massa adneksa, dan cairan bebas intra abdomen.
3. Diagnosis abortus komplit :
- Bercak perdarahan hingga perdarahan sedang.
- Serviks tertutup atau terbuka.
- Uterus lebih kecil dari usia kehamilan normal
- Gejala / tanda : sedikit atau tanpa nyeri perut bawah, dan riwayat ekspulsi hasil
konsepsi.
4. Diagnosis abortus insipiens :
- Perdarahan sedang hingga masif (banyak). Perdarahan berat membutuhkan
waktu kurang 5 menit untuk membasahi pembalut atau kain bersih.
- Serviks terbuka.
- Uterus sesuai usia kehamilan.
- Gejala / tanda : kram / nyeri perut bawah, dan belum terjadi ekspulsi hasil
konsepsi.
5. Diagnosis abortus inkomplit :
- Perdarahan sedang hingga masif (banyak).
- Serviks terbuka.
- Uterus sesuai usia kehamilan.
- Gejala / tanda : kram / nyeri perut bawah, dan ekspulsi sebagian hasil konsepsi.
6. Diagnosis abortus mola :
- Perdarahan sedang hingga masif (banyak).
- Serviks terbuka.
- Uterus lunak dan lebih besar dari usia kehamilan
- Gejala / tanda : mual / muntah, kram perut bawah, sindrom mirip pre
eklampsia, tidak ada janin, dan keluar jaringan seperti anggur.

Tanda dan gejala abortus antara lain nyeri abdomen bawah, nyeri lepas, uterus terasa lemas, perdarahan berlanjut, lemah, lesu, demam, sekret vagina berbau, sekret & pus dari serviks, dan nyeri goyang serviks. Komplikasinya adalah infeksi / sepsis. Penanganannya adalah mulai memberikan antibiotik sesegera mungkin sebelum melakukan aspirasi vakum manual. Antibiotiknya berupa ampisilin 2 gr IV tiap 6 jam ditambah gentamisin 5 mg/kgbb IV tiap 24 jam ditambah metronidazol 500 mg IV tiap 8 jam sampai ibu bebas demam 48 jam.

Tanda dan gejala lainnya adalah nyeri / kaku pada abdomen, nyeri lepas, distensi abdomen, abdomen terasa tegang & keras, nyeri bahu, mual-muntah, dan demam. Komplikasinya adalah perlukaan uterus, vagina atau usus. Penanganannya yaitu lakukan laparotomi untuk memperbaiki perlukaan dan lakukan aspirasi vakum manual secara berurutan. Mintalah bantuan lebih lanjut jika dibutuhkan.

Jenis-Jenis Abortus
___________________

Jenis-jenis abortus :
1. Abortus spontan
2. Abortus yang disengaja
3. Abortus tidak aman
4. Abortus septik

Abortus spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas (usia kehamilan 22 minggu). Tahapan abortus spontan meliputi :
1. Abortus imminens (kehamilan dapat berlanjut).
2. Abortus insipiens (kehamilan tidak akan berlanjut dan akan berkembang menjadi
abortus inkomplit atau abortus komplit).
3. Abortus inkomplit (sebagian hasil konsepsi telah dikeluarkan).
4. Abortus komplit (seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan).

Abortus yang disengaja adalah suatu proses dihentikannya kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas.

Abortus tidak aman adalah suatu prosedur yang dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman atau dalam lingkungan yang tidak memenuhi standar medis minimal atau keduanya.

Abortus septik adalah abortus yang mengalami komplikasi berupa infeksi-sepsis dapat berasal dari infeksi jika organisme penyebab naik dari saluran kemih bawah setelah abortus spontan atau abortus tidak aman. Sepsis cenderung akan terjadi jika terdapat sisa hasil konsepsi atau terjadi penundaan dalam pengeluaran hasil konsepsi. Sepsis merupakan komplikasi yang sering terjadi pada abortus tidak aman dengan menggunakan peralatan.

Penanganan
____________

Jika dicurigai suatu abortus tidak aman terjadi, periksalah adanya tanda-tanda infeksi atau adanya perlukaan uterus, vagina dan usus, lakukan irigasi vagina untuk mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, obat-obat lokal atau bahan lainnya.

Penanganan abortus imminens :
1. Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total.
2. Jangan melakukan aktifitas fisik berlebihan atau hubungan seksual.
3. Jika perdarahan :
- Berhenti : lakukan asuhan antenatal seperti biasa, lakukan penilaian jika
perdarahan terjadi lagi.
- Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG). Lakukan
konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain. Perdarahan berlanjut,
khususnya jika ditemukan uterus yang lebih besar dari yang diharapkan,
mungkin menunjukkan kehamilan ganda atau mola.
4. Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau progestin) atau tokolitik (misalnya
salbutamol atau indometasin) karena obat-obat ini tidak dapat mencegah
abortus.

Penanganan abortus insipiens :
1. Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi
vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan :
- Berikan ergometrin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila
perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila
perlu).
- Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.
2. Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :
- Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi.
- Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena
(garam fisiologik atau larutan ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per
menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.
3. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

Penanganan abortus inkomplit :
1. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu,
evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk
mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan
berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler atau misoprostol 400 mcg per
oral.
2. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16
minggu, evaluasi sisa hasil konsepsi dengan :
- Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi
dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual
tidak tersedia.
- Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg
intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg
per oral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu).
3. Jika kehamilan lebih 16 minggu :
- Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik
atau ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit sampai terjadi
ekspulsi hasil konsepsi.
- Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai
terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg).
- Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.
4. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

Penanganan abortus komplit :
1. Tidak perlu evaluasi lagi.
2. Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak.
3. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.
4. Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg per hari
selama 2 minggu. Jika anemia berat berikan transfusi darah.
5. Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan lanjut.

Pemantauan Pasca Abortus
__________________________

Insidens abortus spontan kurang lebih 15% (1 dari 7 kehamilan) dari seluruh kehamilan.

Syarat-syarat memulai metode kontrasepsi dalam waktu 7 hari pada kehamilan yang tidak diinginkan :
1. Tidak terdapat komplikasi berat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
2. Ibu menerima konseling dan bantuan secukupnya dalam memilih metode
kontrasepsi yang paling sesuai.

Metode kontrasepsi pasca abortus :
1. Kondom
- Waktu aplikasinya segera.
- Efektivitasnya tergantung dari tingkat kedisiplinan klien.
- Dapat mencegah penyakit menular seksual.
2. Pil kontrasepsi
- Waktu aplikasinya segera.
- Cukup efektif tetapi perlu ketaatan klien untuk minum pil secara teratur.
3. Suntikan
- Waktu aplikasinya segera.
- Konseling untuk pilihan hormon tunggal atau kombinasi.
4. Implan
- Waktu aplikasinya segera.
- Jika pasangan tersebut mempunyai 1 anak atau lebih dan ingin kontrasepsi
jangka panjang.
5. Alat kontrasepsi dalam rahim
- Waktu aplikasinya segera dan setelah kondisi pasien pulih kembali.
- Tunda insersi jika hemoglobin kurang 7 gr/dl (anemia) atau jika dicurigai
adanya infeksi.
6. Tubektomi
- Waktu aplikasinya segera.
- Untuk pasangan yang ingin menghentikan fertilitas.
- Jika dicurigai adanya infeksi, tunda prosedur sampai keadaan jelas. Jika
hemoglobin kurang 7 gram/dl, tunda sampai anemia telah diperbaiki.
- Sediakan metode alternatif (seperti kondom).

Beberapa wanita mungkin membutuhkan :
1. Jika klien pernah diimunisasi, berikan booster tetanus toksoid 0,5 ml atau jika
dinding vagina atau kanalis servikalis tampak luka terkontaminasi.
2. Jika riwayat imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus 1500 unit
intramuskuler diikuti dengan tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu.
3. Penatalaksanaan untuk penyakit menular seksual.
4. Penapisan kanker serviks.

Kehamilan Ektopik Terganggu
___________________________

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Tuba Fallopii merupakan tempat tersering terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih 90%).

Tanda dan gejala kehamilan ektopik sangatlah bervariasi tergantung dari pecah tidaknya kehamilan tersebut. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum yang dikombinasi dengan pemeriksaan USG. Jika diperoleh haril darah yang tidak membeku segera mulai penanganan.

Tanda dan gejala kehamilan ektopik :
1. Gejala kehamilan awal berupa flek atau perdarahan ireguler, mual, pembesaran
payudara, perubahan warna pada vagina & serviks, perlunakan serviks,
pembesaran uterus, frekuensi buang air kecil meningkat.
2. Nyeri pada abdomen dan pelvis.

Tanda dan gejala kehamilan ektopik terganggu :
1. Kolaps dan kelelahan.
2. Denyut nadi cepat dan lemah (110 kali per menit atau lebih).
3. Hipotensi.
4. Hipovolemia.
5. Abdomen akut dan nyeri pelvis.
6. Distensi abdomen. Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan
petunjuk adanya darah bebas.
7. Nyeri lepas.
8. Pucat.

Diagnosis banding kehamilan ektopik yang tersering adalah abortus imminens. Diagnosa banding lainnya adalah penyakit radang panggul akut & kronik, kista ovarium (terpuntir atau ruptur) dan appendisitis akut. USG dapat membedakan antara kehamilan ektopik, abortus imminens dan kista ovarium terpuntir.

Penanganan awal kehamilan ektopik :
1. Segera lakukan uji silang darah dan laparatomi. Jangan menunggu darah
sebelum melakukan pembedahan.
2. Jika tidak ada fasilitas, segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dan lakukan
penilaian awal.
3. Pada laparatomi, eksplorasi kedua ovarium dan tuba Fallopii :
- Kerusakan tuba yang berat : lakukan salpingektomi (hasil konsepsi dan tuba
keduanya dikeluarkan). Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar
kasus.
- Kerusakan tuba yang kecil : lakukan salpingostomi (hasil konsepsi dikeluarkan
dan tuba dipertahankan). Ini dilakukan dengan mempertimbangkan
konservasi kesuburan karena resiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi.

Jika terjadi perdarahan banyak dapat dilakukan autotransfusi apabila darah intraabdominal masih segar dan tidak terinfeksi atau terkontaminasi (pada akhir kehamilan, darah dapat terkontaminasi dengan air ketuban dan lain-lain sehingga sebaiknya tidak digunakan untuk autotransfusi). Darah dapat dikumpulkan sebelum pembedahan atau setelah abdomen dibuka :
1. Sewaktu ibu berbaring di atas meja operasi sebelum operasi dan abdomen
tampak tegang akibat terkumpulnya darah, saat itu memungkinkan untuk
memasukkan jarum melalui dinding abdomen dan darah dikumpulkan diset
donor.
2. Cara lain, bukalah abdomen :
- Ambil darah ke dalam suatu tempat dan saringlah darah dengan menggunakan
kasa untuk memisahkan bekuan darah.
- Bersihkan bagian atas dari kantong darah dengan cairan antiseptik dan bukalah
dengan pisau steril.
- Tuangkan darah wanita tersebut ke dalam kantong dan masukkan kembali
melalui set penyaring dengan cara biasa.
- Jika tidak tersedia kantong donor dengan antikoagulan, tambahkan sodium
sitrat 10 ml untuk setiap 90 ml darah.

Penanganan selanjutnya :
1. Sebelum membolehkan ibu pulang, lakukan konseling dan nasehat mengenai
prognosis kesuburannya. Mengingat meningkatnya resiko kehamilan ektopik
selanjutnya, konseling metode kontrasepsi dan penyediaan metode kontrasepsi,
jika diinginkan, merupakan hal yang penting.
2. Perbaiki anemia dengan sulfas ferrous 600 mg/hr per oral selama 2 minggu.
3. Jadwalkan kunjungan berikutnya untuk pemantauan dalam waktu 4 minggu.

Mola Hidatidosa
_______________

Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis.

Penanganan awal kehamilan mola :
Jika diagnosa kehamilan mola telah ditegakkan, lakukan evaluasi uterus :
- Jika dibutuhkan dilatasi serviks, gunakkan blok paraservikal.
- Pengosongan dengan aspirasi vakum manuaal lebih aman daripada kuretase
tajam. Resiko perforasi dengan menggunakan kuret tajam cukup tinggi.
- Jika sumber vakum adalah tabung manual,, siapkan peralatan aspirasi vakum
manual minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga
pengosongan kavum uteri selesai. Isi uterus cukup banyak tetapi penting untuk
cepat dikosongkan.

Penanganan selanjutnya kehamilan mola :
- Pasien dianjurkan untuk menggunakan konntrasepsi hormonal (apabila masih ingin
anak) atau tubektomi apabila ingin menghentikan fertilitas.
- Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selaama minimal 1 tahun pasca evakuasi
dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena adanya resiko
timbulnya penyakit trofoblas yang menetap atau khoriokarsinoma. Jika tes
kehamilan dengan urin tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif
kembali dalam 2 tahun pertama, rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk
pemantauan dan penanganan lebih lanjut.

Update : 6 Maret 2006

Sumber :

1. http://www.geocities.com/klinikobgin/kelainan-kehamilan/perdarahan-kehamilan-muda.htm

2. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal. Editor : Abdul Bari Saifuddin, Gulardi Hanifa Wiknjosastro, Biran Affandi, Djoko Waspodo. Ed. I, Cet. 5, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2003.

Penyebab perdarahan awal kehamilan (trimester pertama)

Penyebab perdarahan awal kehamilan (trimester pertama)

bawah judul

Penyebab perdarahan di Trimester awal kehamilan adalah : abortus, kehamilan ektopik (luar rahim), mola (hamil anggur) dan sumber lokal dari leher rahim: robekan, polip, kanker leher rahim dan pecahnya varises di leher rahim.

Disini kita akan lebih fokus ke abortus saja. Abortus artinya berakhirnya kehamilan sebelum janin viabel (bisa hidup) yaitu kurang dari 20 minggu atau berat kurang dari 500 mg. Memang janin segitu banyak yang mati dari pada hidup. Dulu defenisi abortus dipakai sampai kehamilan 28 minggu atau berat janin 1 kg.

Ada 4 tahapan proses abortus spontan: Abortus Iminens (Threatened Abortion), Insipiens (Inevitable Abortion), Inkomplit (Incomplete Abortion) dan Komplit (Complete Abortion)

Empat komponen pembeda masing2 abortus adalah : jumlah perdarahan, kolik rahim, pembukaan leher rahim dan ukuran rahim. Contohnya Abortus iminens (Threatened Abortion) jumlah perdarahan sedikit, nyeri kolik rahim tidak ada, pembukaan leher rahim tidak ada dan besarnya rahim masih sesuai dengan usia kehamilan dan seterusnya seperti terlihat pada tabel diatas.

Penyebab

* Kelainan embryo merupakan 80-90% sebagai penyebab abortus Trimester I, berupa kelainan kromosom : trisomi, monosomi, triploidi dll.
* Faktor ibu. Penyakit kronis: diabetes, hipertensi,kelainan ginjal dll. Penyakit akut : infeksi rubella, Cytomegali virus, toxoplasmosis, Mycoplasma dll
* Penyakit atau abnormalitas alat reproduksi : mioma rahim, cervix incompetence dll
* Faktor2 luar : merokok, alkohol, caffeine (banyak pada kopi dan teh) dll

Pengobatan
Abortus Iminens : Bed rest sampai perdarahan berhenti, no sexual intercourse, penenang jika pasien gelisah, hormon progesteron (duphaston), tokolitik (hystolan), antiprostaglandin (aspirin/aspilet), asam folat (folaplus).
Abortus insipien : Usaha untuk mempertahankan kehamilan akan sia2, untuk kehamilan kurang 12 minggu dilakukan kuret dengan vakum maupun kuret biasa. Jika kehamilan lebih dari 12 minggu, janin dilahirkan terlebih dulu dengan menginduksi kehamilan/abortus.
Abortus inkomplit : sama dengan abortus insipien
Abortus komplit : diberi obat uterotonika seperti metergin (metilat) tablet dan anti nyeri (cetalmic).

Kuretase

Video Kuret. Prosedur inti dimulai dari menit ke 1.43 yaitu dilakukan pemasangan spekulum bagiaan bawah dan atas liang vagina. Selanjutnya bagian leher rahim di posisi jam 11 dipasang penjepit untuk menarik leher rahim agar dalam posisi garis lurus dengan rahim. Hasil konsepsi dikeluarkan terlebih dahulu dengan cunam ovum. Setelah sebagian besar keluar, rongga rahim dibersihkan dengan sendok kuret secara sistematis sampai bersih, ditandai dengan darah yang berbuih. Hasil kerokan dimasukkan kedalam larutan pengawet untuk dikirim ke Lab guna pemeriksaan patologi anatomi (dengan mikroskop.)



SELENGKAPNYA di: Penyebab Perdarahan Trimester Awal Kehamilan askep-askeb-kita.blogspot.com | asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc

Pendarahan Awal Kandungan

Pendarahan Awal Kandungan

Page 1 of 3

Pendarahan di awal kandungan

Tiga bulan pertama kandungan adalah waktu yang terpenting kerana ketika itu pembentukan jasad berlaku daripada sekelompok darah menjadi segumpal daging dan seterusnya berbagai anggota badan dibentuk sehinggalah roh ditiupkan kepada jasad pada peringkat empat bulan.Pada ketika itu dan seterusnya barulah janin kukuh dalam kandungan sehingga sampai waktu kelahiran.

Diantara gejala-gejala yang mungkin timbul diperingkat awal kehamilan ialah keguguran atau kecacatan.Lebih kurang 10 hingga 15 peratus kehamilan mungkin gugur atau menjadi luar biasa seperti kehamilan anggur (molar pregnancy /hydatidiform) atau kehamilan di luar rahim.

Tanda pertama bagi kehamilan luar biasa ini ialah pendarahan yang berketul-ketul disertai kesakitan yang kuata.Pendarahan walaupun sedikit ataupun banyak ialah satu petanda yang tidak baik bagi kandungan kerana ia menunjukkan sesuatu ancaman terhadap janin tersebut.Apabila keadaan ini berlaku kita boleh anggap kemungkinan kehamilan ini akan berterusan sehinggasempurna atau akan gugur ialah – 50 peratus.Perdarahan yang disertai dengan kesakitan perut yang amat sangat mungkin menandakan keguguran atau kandungan di luar rahim (ectopic pregnancy).Kedua-dua ini merupakan ancaman besar kepada ibu dan bayi .

Jangan pandang ringan terhadap masalah pendarahan diperingkat awal kehamilan.Langkah utama ialah untuk berjumpa dengan doktor yang terdekat.Mungkin ia seorang doktor biasa (GP) untuk mendapat nasihat atau terus berjumpa dengan doktor pakar perbidanan & sakitpuan untuk mendapatkan nasihat, atau terus masuk ke hospital untuk mendapatkan rawatan dan penyiasatan selanjutnya.


Apakah puncak pendarahan?

1. Keguguran

Ini mungkinhanya ancaman sahaja (threatened abortion).Sebenarnya janin masih hidup dan boleh tumbuh lagi tetapi mungkin disebabkan oleh pendarahan daripada uri akibat daripada kuncupan rahim yang biasanya ditimbulkan oleh sebab tekananfisikal dan mental,faktor kurang hormon atau kedudukan uri yang agak dekat dengan pintu rahim.Rawatan bagi keadaan ini ialah rehat sepenuhnya, ubat hormon diberi secara suntikan atau tablet, jauhkan dari hubungan suami-isteri dan tenangkan fikiran.

Keguguran boleh menyebabkan kematian janin iaitu apa yang digelar“missed abortion”.Kadangkala pendarahan tidak banyak dan biasanya tanda-tanda hamil seperti loya dan muntah, bengkak buah dada agak berkurangan atau tiada langsung.Bila dibuat scanning ultrasound, biasanya tiada janin dikesan dalam karung kandungan atau mungkin terdapat segumpal daging janin tetapi tanpa denyutan jantung lagi.Dalam keadaan ini (missed abortion) memerlukan rahim dicuci melalui proses D & C.

Keguguran juga mungkin telah berlaku dengan sepenuhnya (complete abortion) dimana segala isi kandungan, uri dan janinnya telah keluar keseluruhannya daripada rahim.Biasa pesakit akan merasai kesakitan yang amat sangat dan akan melihat ketulan darah dan tisu yang keluar daripada kemaluannya.Apabila dibuat pemeriksaan ultrasound scanning rahim telah menjadi kosong daripada sisa-sisa kandungan.

Keguguran juga mungkin tidak sempurna (incomplete abortion) dimana sebahagian sahaja daripada tisu kandungan telah keluardan sebahagiannya tertinggal dalam rahim.Ini boleh disahkan melalui ultrasound scanning dan dalamkeadaaninibiasanyarahimperludibersihkan melalui tatacara D & C.