Entri Populer

Kamis, 11 Oktober 2012

CIRCUMSISI TEKNIK DORSUMSISI (Teknis Melakukan Sunat)


TEKNIK KONVENSIONAL DORSUMSISI ( Dorsal Slit Operation )

Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan kekanan sejajar sulcus coronarius.

Keuntungan :
  1. Kelebihan kulit mukosa bisa diatur
  2. Resiko menyayat/memotong penis lebih kecil
  3. Mudah mengatur panjang pendek pemotongan mukopsa
  4. Tidak melukai glan dan frenulum
  5. Pendarahan bisa cepat diatasi
  6. Baik untuk penderita fimosis/paraphimosis.
  7. Baik untuk pemula.(tehnik yang paling aman)

Kerugian :
  1. Pendarahan relative lebih banyak.
  2. Teknik sulit dan lebih rumit
  3. Insisi sering tidak rata, tidak simetris.
  4. Waktu lebih lama.
Indikasi medis sirkumsisi antara lain :
  • Phimosis atau paraphimosis
  • Infeksi glans penis (balanitis) rekurens
  • Adanya smegma
  • Kondiloma akuminata
Kontraindikasi
Sirkumsisi tidak boleh dilakukan pada :
  • Hipospadia, karena kulit preputium akan dipergunakan dalam membuat uretra
  • Epispadia
  • Chorde
  • Webbed penis, yaitu adanya jaringan antara penis dan skrotum
Bila menemui penderita dengan kelainan seperti tersebut diatas, konsulkan kepada ahli bedah. Tentu saja bila ada infeksi pada kulit penis dan sekitarnya lebih baik disembuhkan dulu, dan bila keadaan umum kurang baik harus diperbaiki.





Persiapan
Setelah fisik dan mental dipersiapkan, informed consent didapat dari penderita atau keluarganya, disiapkan alat-alat :
  1. Sarung tangan steril 2 pasang
  2. Kasa steril
  3. Disinfektan, seperti povidone iodine
  4. Klem untuk disinfeksi
  5. Doek lubang steril
  6. Spuit 2.5 atau 5 cc steril
  7. Lidokain untuk anestesi infiltrasi
  8. 2 atau 3 klem lurus
  9. 2 atau klem arteri kecil
  10. Sonde
  11. Gunting jaringan
  12. Gunting benang
  13. Benang bedah yang cepat diserap, misalnya plain catgut 3/0 secukupnya
  14. Jarum jahit cutting lengkungan ½ , atau lebih baik bila ada dengan jarum jahit a-traumatic cutting
  15. Needle holder
  16. Pinset
Prosedur
  1. Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi
  2. Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril
  3. Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis melingkar. Bila perlu tambahkan juga pada daerah preputium yang akan dipotong dan daerah ventral
  4. Tunggu 3 – 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan mencubitkan pinset
  5. Bila didapati phimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang preputium, lepaskan perlengketannya dengan glans memakai sonde atau klem sampai seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.
  6. Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang pada garis tengah ventral. (Prepusium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal)
  7. clip_image002clip_image004Gunting preputium dorsal tepat digaris tengah (diantara dua klem) kira-kira ½ sampai 1 sentimeter dari sulkus koronarius (dorsumsisi),buat tali kendali. kulit Preputium dijepit dengan klem bengkok dan frenulum dijepit dengan kocher
  1. clip_image006clip_image008Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11 ) ke ujung distal sayatan (jam 12 dan 12’)
    Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong menuju frenulum di distal penis (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing (huruf V), buat tali kendali )
  1. Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang disiapkan.
  2. Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang banyak ada di frenulum) siap untuk dijahit.Penjahitan dimulai dari dorsal (jam 12), dengan patokan klem yang terpasang dan jahitan kedua pada bagian ventral (jam 6). Tergantung banyaknya jahitan yang diperlukan, selanjutnya jahitan dibuat melingkar pada jam 3,6, 9,12 dan seterusnya





clip_image011
clip_image012
  1. Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan diplester. Lubang uretra harus bebas dan sedapat mungkin tidak terkena urin.
HEMOSTASIS
Perawatan perdarahan di lakukan dengan mencari sumber perdarahan dengan menghapus daerah luka dengan menggunakan kasa, bila di dapatkan sumber perdarahan segera di jepit dengan klem/pean arteri kecil. Tarik klem, ligasi dengan mengikat jaringan sumber perdarahan dengan catgut. Potong ikatan sependek mungkin. Cari seluruh sumber perdarahan lain dan lakukan hal yang serupa.
Jika mempergunakan flashcutter, cukup menyentuh pendarahan dengan probe bipolar, seketika langsung terhenti.
WOUND SUTURE
Jahitan Frenulum
Frenulum biasanya dijahit dengan matras horizontal atau boleh dengan matras 8 (cross) ataupun matras horizontal. Setelah dijahit sisakan benang untuk digunakan sebagai kendali.·
Jahitan Dorsal
Jahitan pada dorsal penis mengunakan jahitan simpul. Sisakan benang untuk dibuat tali kendali. (Gambar 18 Simpul pada jam 12)·
Jahitan bagian kulit mukosa yang lain
Dengan menggunakan kendali untuk mengarahkan posisi penis jahit sekeliling luka dengan jahitan simpul (jam 12). Jahitan simpul bisa dilakukan pada jam 3 dan 9 atau jam 2,4, 8 dan 10. Tidak diianjurkan Mengikatnya terlalu erat. Tidak dianjurkan menggunakan jahitan jelujur (Continuous Suture). Bila telah dijahit semua maka lihat apakah ada bagian yang renggang yang memerlukan jahitan.
WOUND CARE

Setelah selesai di jahit olesi tepi luka dengan betadine, bila perlu beri dan olesi dengan salep antibiotik.Perawatan luka bisa dilakukan dengan metode tertutup atau terbuka.

Metode terbuka (Open Care )
Perawatan ini bisa dilakukan bila ada jaminan penderita mampu menjaga kebersihan luka. Setelah diolesi betadine dan salep antibiotika biarkan secara terbuka (dianjurkan urologi).

Metode tertutup (Close Care)
Setelah diberi betadine dan salep antibiotika, berikan sufratule secara melingkar. Tutup denga kasa steril, ujung kain kasa dipilin sebagai tempat fiksasi supra pubic dengan menggunakan plester (Balutan Suspensorium) atau biarkan berbentuk cincin (Balutan Ring).
POST OPERATION CARE
Medikamentosa :
1. Analgetika : Antalgin 500mg PO 3dd1,Asam Mefenamat 500mg PO 3dd1
2. Antibiotika : Amoksisilin 500mg PO 3dd1,Eritromisin 500mg 3dd1
3. Roboransia : Vitamin B Complex,Vitamin C


Edukasi
1. Luka dalam 3 hari jangan kena air.
2. Hati hati dengan perdarahan post circumsisi, bila ada segera kontrol
3. Perbanyak istirahat
4. Bila selesai kencing hapus sisa air kencing dengan tisue atau kasa
5. Perbanyak dengan makan dan minum yang bergizi
6. Setelah 3-5 hari post circumsisi buka perban di rumah segera kontrol.
Komplikasi

  1. Penderita alergi terhadap obat anestesi lokal. Lebih sering pada prokain dan jarang didapati pada lidokain. Seharusnya disiapkan pula obat untuk mengatasi shock anaphilaktik
  2. Perdarahan. Terutama pada frenulum, karenanya untuk mencegah perdarahan, jahitan pada frenulum diyakinkan cukup adekwat. Perdarahan juga dapat terjadi pada pada penderita dengan kelainan pembekuan darah.
  3. Infeksi. Bila asepsis-antisepsis kurang diperhatikan, atau terkena urin.
  4. Pengangkatan kulit preputium kurang adekwat, sehingga glans masih tertutup kulit.
  5. Pengangkatan kulit terlalu banyak, yang dapat menyebabkan kesulitan dalam menjahit, tegang dan mempengaruhi penis sewaktu ereksi nantinya
  6. Glans ikut terpotong atau amputasi glans. Dengan dorsumsisi lebih dahulu, hampir tidak pernah terjadi. Glans terpotong paling banyak didapati pada teknik guoletin, karena tanpa membuka preputium terlebih dahulu

femosis

KONSEP DASAR

I.Definisi

Fimosis adalah suatu perkerutan atau penciutan kulit depan penis, Fimosis merupakan suatu keadaan normal yang sering dijumpai pada bayi baru lahir atau anak kecil dan biasanya pada masa pubertas akan menghilang dengan sendirinya.

II.Etiologi

Fimosis dapat disebabkan oleh balanopostis. Balolopostis merupakan peradangan menyeluruh pada kepala penis (glans penis) dan kulitnya. Peradangan biasanya terjadi akiabat infeksi jamur atau bakteri dibawah kulit pada penis yang tidak disunat. Penis menjadi nyeri, gatal-gatal kemerahan dan membengkak serta bisa menybabkan penyempitan uretra.

III.Manifestasi klinik

Bayi atau anak sering menangis keras sebekum urine keluar. Keadaan demikian sebaiknya anak segera disunat, tapi kadang orang tua tidak tega karena anak masih kecil.

IV.Pemeriksaan penunjang

Pada klien dengan fimosis pemeriksaan yang perlu dilaksanakan sebagai penunjang dalam pengumpulan data adalah :

Pemeriksaan darah lengkap.
USG penis
Pemeriksaan kadar TSH

V.Pengobatan dan terapi

Untuk menolongnya dapat dicoba dengan melebarkan lubang prepusium dengan cara mendorong kebelakang kulit prepusium tersebut dan biasanya akan terjadi perlukaan, untuk menghindari infeksi luka tersebut diberikan salep antibiotic. Tindakan ini mula-mula dilakukan oleh dokter (pada orang barat sunat dilakukan pada saat bayi baru lahir, tindakan ini dilakukan untuk menjaga kebersihan atau mencegah infeksi karena adanya smegma, bukan karena keagamaan).
Adnaya smegma pada ujung prepusium juga menyulitkan bayi berkemih maka setiap memandikan bayi sebaiknya prepusium didorong kebelakang dan kemudian dibersihkan dengan kapas yang diolesi air matang.
Pada anak dengan fimosis penatalaksanaan dilaksakan dengan :

I.Pengkajian
pada pasien fimosis, penis memiliki ukuran yang jauh dibawah rata-rata, anak susuah berkemih kadang-kadang sampai kulit prepusium menggelembung seperti balon. Bayi atau anak sering menangis keras sebelum urine keluar, apabila sudah terjadi infeksi dibawah kulit pada penis yang tidak disunat penis menjadi nyeri, gatal-gatal, kemerahan dan membengkak serta bisa menyebabkan penyempitan uretra.

II.Diagnosa keperawatan

1.Nyeri b.d kesulitan berkemih karena terjadi penyempitan prepusium.
2.Resiko tinggi infeksi b.d penyempitan lubang prepusium.



III.Intervensi

I.Diagnosa 1.
Nyeri b.d kesulitan berkemih karena terjadi penyempitan prepusium.

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan selama 2 x 24 jam nyeri berkurang atau hilang.

KH :
nyeri berkurang atau hilang
mengidentifikasi sumber nyeri
mengidentifikasi aktifitas yag meningkatkan dan menurunkan nyeri.
Menggambarkan rasa nyaman dari orang lain selama mengalami nyeri.

Intervensi

1.a. kaji pengalaman nyeri anak.
b. tentukan konsep anak tentang penyebab nyeri.
c. minta anak untuk menunjukan area yang sakit.
2.tingkatkan rasa nyaman.
3.alihkan perhatian anak dg cerita maupun mainan.
4.Bantu anak mengatasi akibat nyeri dengan cara :
a.Katakan pada anak kapan prosedur yang menyakitkan akan segera berakhir.
b.Gendong anak kecil untuk menunjukan prosedur telah selesai.
c.Berikan dorongan pada anak untuk menggambarkan nyerinya.

II.Diagnosa II
Resiko tinggi infeksi b.d penyempitan lubang prepusium.

Tujuan : setelah dilkukan perawatan 2x24 jam tidak ada tanda-tanda infeksi.

KH : bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di RS.

Intervensi :
a.pantau terhadap tanda2 infeksi ( misi letargi, kesulitan makan, muntah, kestabilan suhu, dan perubahan warna tersembunyi)
b.ajarkan tanda infeksi pada daerah sirkumsisi (misi perdarahan, peningkatan kememerahan, atau bengkak yang tidak biasanya)
c.kurangi kerentanan individu terhadap infeksi.

Jumat, 28 September 2012

SOP PERAWATAN LUKA



PENDAHULUAN
Kulit merupakan bagian tubuh paling luar yang berguna melindungi diri dari trauma luar serta masuknya benda asing. Apabila kulit terkena trauma, maka dapat menyebabkan luka, yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan tubuh, yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi tubuh sehingga dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.
Scenario
Tn “X”  usia 30 tahun dirawat di Rumah Sakit dengan post operasi appendiktomy hari ketiga. Pada perut bagian kanan bawah terdapat luka operasi yang masih tertutup kassa dengan rapat. Karena sudah memasuki hari ketiga post operasi, maka luka post operasi pada Tn “X” harus dilakukan perawatan dengan benar supaya tidak menimbulkan terjadinya infeksi, dan luka cepat  sembuh.
Dari scenario di atas, muncul pertanyaan :
Bagaimana melakukan perawatan luka post operasi ?
Bagaimana cara mengganti balutan yang benar pada luka post operasi ?
Persiapan apa yang diperlukan ?
Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa mahasiswa harus memperhatikan pentingnya  melakukan perawatan luka post operasi, apalagi ketrampilan ini merupakan salah satu dari ketrampilan dasar yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Prosedur perawatan luka post operasi ini terkait dengan ketrampilan perawatan luka bersih terkontaminasi dan luka infeksi yang memerlukan debridement serta perawatan luka dekubitus.
Agar benar-benar menguasai ketrampilan ini, mahasiswa harus membaca buku petunjuk dan mempelajari sumber-sumber pembelajaran lainnya. Sehingga di akhir latihan ketrampilan ini, mahasiswa mampu :
Melakukan perawatan luka post operasi dengan benar
Menyiapkan alat untuk melakukan perawatan luka dengan tepat
Memahami resiko dan konsekuensi dari prosedur  perawatan luka  tersebut

KONSEP DASAR
Buku ini berfokus pada peran perawat dalam pengkajian dan penatalaksanaan terhadap luka bedah umum. Adanya infeksi pada luka setelah pembedahan merupakan masalah yang serius bagi pasien. Masala serius ini terutama adanya komplikasi pada luka tersebut baik komplikasi local maupun sistemik. Komplikasi loal diantaranya meliputi kerusakan jaringan, septic trobopebitis, nyeri yang tidak sembuh-sembuh dan skar. Komplikasi sistemik meliputi bakteremia, infeksi metastatic, syok, dan bahkan kematian. Berat ringannya dari luka yang terinfeksi, tergantung dari lokasi dan kondisi infeksi yang dialami. Apabia pencegahan infeksi ini tidak diperhatikan, tentu akan berdampak kerugian yang akan dialami pasien.





KLASIFIKASI LUKA BEDAH
1.      Luka bersih
Luka operasi yang tidak terinfeksi, dimana tidak ditemukan adanya inflamasi dan tidak ada infeksi saluran pernafasan, pencernaan, dan urogenital. Kondisi luka tertutup dan tidak ada drainase.
2.      Luka bersih terkontaminasi
Luka operasi dimana berhubungan dengan saluran pernafasan, pencernaan, genital atau bagian yang mengenai saluran kemih
3.      Luka terkontaminasi
Dalam luka pembedahan ditemukan peradangan non purulen
4.      Luka kotor atau terinfeksi
Luka yang terdapat pus, pervorasi visera, luka yang mengalami traumatic dan sudah lama atau terinfeksi dari sumber lain

PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Proses dasar biokimia dan selular yang sama terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak, baik luka ulseratif kronik, luka taumatis atau luka akibat tindakan bedah. Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam 4 fase :
1.      Inflamasi
2.      Fase distruktif
3.      Fase fase proliferasi
4.      Fase maturasi

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA
Factor yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka dibagi menjadi dua factor, yaitu sistemik dan factor local :
Faktor sistemik : usia, nutrisi, insufisiensi vascular, obat-obatan
Factor local : suplai darah, infeksi, nekrosis, adanya benda asing pada luka

PERAWATAN LUKA
Merupakan penanganan luka yang terdiri atas membersihkan luka, menutup, dan membalut luka sehingga dapat membantu proses penyembuhan luka.
Perawatan luka terdiri atas :
·         Mengganti balutan kering
·         Mengganti balutan basah dengan balutan kering
·         Irigasi luka
·         Perawatan dekubitus
Tujuan perawatan luka :
·         Menjaga luka dari trauma
·         Imobilisasi luka
·         Mencegah perdarahan
·         Mencegah kontaminasi oleh kuman
·         Mengabsorbsi drainase
·         Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologi
Indikasi perawatan luka :
·         Balutan kotor dan basah akibat factor eksternal
·         Ada rembesan eksudat
·         Mengkaji keadaan luka
·         Dengan frekuensi tertentu untuk mempercepat debridement jaringan nekrotik

1.      PEMBERSIHAN LUKA
Proses pembersihan luka terdiri dari memilih cairan yang epat untuk membersihkan luka dan menggunakan cara-cara mekanik yang tepat untuk memasukkan cairan tersebut tanpa menimbulkan cedera pada jaringan luka.
Membersihkan luka dengan lembut tetapi mantap akan membuang kontaminan yang mungkin menjadi sumber infeksi. Namun, jika dilakukan dengan menggunakan kekuatan yang berlebihan, dapat menimbulkan perdarahan atau cedera yang lebih lanjut.
Tujuan pembersihan luka adalah untuk mengeluarkan debris organic maupun anorganik sebelum menggunakan balutan untuk mempertahankan lingkungan yang optimum pada tempat luka untuk proses penyembuhan
Pendekatan yang berbeda diperlukan saat membersihkan luka bedah tertutup, yang pada mulanya masih dalam keadaan “bersih”. Dalam hal ini, tindakan asepsis yang ketat diperlukan sejak awal untuk mencegah infeksi luka secara endogenus maupun eksogenus. Meskipun demikian, kalau ada infeksi luka, maka penyebabnya hamper selalu dapat ditelusuri kembali pada sat pembedahan dilakukan.
Perawat membersihkan luka operasi atau traumatic dengan menggunakan cairan sitotoksik yang diberikan melaului kassa steril atau melalui irigasi.
Prinsip penting yang harus diperhatikan perawat saat membersihkan luka insisi atau area disekitar drain :
·         Bersihkan dari  arah area yang sedikit terkontaminasi, seperti dari luka atau insisi ke kulit disekitarnya atau dari tempat drain ke kulit di sekitarnya
·         Gunakan friksi lembut saat menuangkan larutan ke kulit
·         Saat melakukan irigasi, biarkan larutan mengalir dari area yang kurang terkontaminasi ke area yang paling terkontaminasi
·         Perawat tidak boleh menggunakan kassa yang sama, saat membersihkan insisi atau luka untuk yang kedua kalinya
·         Untuk membersihkan area drain, perawat mengusap sekeliling drain dengan gerakan memutar dari tempat yang terdekat dengan drain kearah luar

2.      BALUTAN
Menggunakan balutan yang tepat perlu disertai pemahaman tentang penyembuhan luka. Apabila balutan tidak sesuai dengan karakteristik luka, maka balutan tersebut dapat mengganggu penyembuhan luka. Pilihan jenis balutan dan metode pembalutan luka akan mempengaruhi kemajuan penyembuhan luka.
Karakteristik balutan luka yang ideal :
·         Dapat menyerap drainase untuk mencegah terkumpulnya eksudat
·         Tidak melekat
·         Impermeable terhadap bakteri
·         Mampu mempertahankan kelembaban yang tinggi pada luka
·         Penyekat suhu
·         Non toksik dan non alergenik
·         Nyaman dan mudah disesuaikan
·         Mampu melindungi luka dari trauma lebih lanjut
·         Biaya ringan
·         Awet
Pada luka operasi dengan penyembuhan primer, umumnya balutan dibuka segera setelah drainase berhenti. Sebaliknya pada penyembuhan skunder, balutan dapat menjadi sarana untuk memindahkan eksudat dan jaringan nekrotik secara mekanik.
Tujuan pembalutan :
·         Melindungi luka dari kontaminasi mikroorganisme
·         Membantu hemostasis
·         Mempercepat penyembuhan dengan cara menyerap drainase dan untuk melakukan debridement luka
·         Menyangga atau mengencangkan tepi luka
·         Melindungi klien agar tidak melihat keadaan luka
·         Meningkatkan isolasi suhu pada permukaan luka
·         Mempertahankan kelembapan yang tinggi diantara luka dengan balutan
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat selama melakukan prosedur penggantian balutan :
·         Perawat harus mencuci tangan sebelum dan sesudah perawatan luka
·         Perawat tidak boleh menyentuh luka terbuka atau luka baru secara langsung tanpa menggunakan sarung tangan steril
·         Apabila luka ditutup, alutan dapat diganti tanpa menggunakan sarung tangan
·         Balutan pada luka tertutup harus diangkat atau diganti jika sudah terlihat basah atau jika menunjukkan tanda dan gejala infeksi
Tipe balutan
……….
3.      MEMFIKSASI BALUTAN
Perawat dapat menggunakan plester, tali atau perban, atau balutan skunder dan pengikat kain untuk memfiksasi balutan pada luka. Pilihannya tergantung dari ukuran luka,  lokasi, ada tidaknya drainase, frekuensi penggantian balutan, dan tingkat aktifitas pasien.
Perawat paling sering menggunakan plester untukmemfiksasi balutan jika klien tidak alergi terhadap plester.
Kulit yang sensitive terhadapplester perekat dapat mengalami inflamasi dan ekskoriasi yang sangat berat dan bahkan dapat terlepas dari kulit ketika plester diangkat.

4.      CAIRAN YANG DIPERLUKAN
……………………………….


SOP

Kompetensi                 : Melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan 
                                          pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman
Sub kompetensi           : perawatan Luka
Pengertian                    : membersihkan luka, mengobati luka, dan menutup kembali luka dengan  
                                          tehnik steril
Tujuan                         : Untuk membersihkan luka
                                          Mencegah masuknya kuman dan kotoran kedalam luka
                                          Memberikan pengobatan pada luka
                                          Memberikan rasa aman dan nyaman pada pasien
                                          Mengevaluasi tingkat kesembuhan luka
Indikasi                        : luka baru maupun luka lama, luka post operasi, luka bersih, luka kotor

PROSEDUR
A.     MENGGANTI BALUTAN KERING
1.      Tahap pre interaksi
·         Membaca catatan perawat untuk rencana perawatan luka
·         Mencuci tangan
·         Menyiapkan alat :
Ø  Seperangkat set perawatan luka steril
Sarung tangan steril
Pinset 3 ( 2 anatomis, 1 sirurgis )
Gunting ( menyesuaikan kondisi luka )
Balutan kassa dan kassa steril
Kom untuk larutan antiseptic/larutan pembersih
Salp antiseptic  ( bila diperlukan )
Depress
Lidi kapas
Ø  Larutan pembersih yang diresepkan ( garam fisiologis, betadin, …)
Ø  Gunting perban / plester
Ø  Sarung tangan sekali pakai
Ø  Plester, pengikat, atau balutan sesuai kebutuhan
Ø  Bengkok
Ø  Perlak pengalas
Ø  Kantong untuk sampah
Ø  Korentang steril
Ø  Alcohol 70%
Ø  Troli / meja dorong

2.      Tahap orientasi
·         Memberikan salam, memanggil klien dengan namanya
·         Menjelaskan tujuan, prosedur, dan lamanya tindakan pada klien / keluarga

3.      Tahap kerja
·         Memberikan kesempatan pada klien untuk bertanya  sebelum kegiatan dimulai
·         Susun semua peralatan yang diperlukan di troly dekat  pasien ( jangan membuka peralatan steril dulu )
·         Letakkan bengkok di dekat pasien
·         Jaga privacy pasien, dengan menutup tirai yang ada di sekkitar pasien,  serta pintu dan jendela
·         Mengatur posisi klien, instruksikan pada klien untuk tidak menyentuh area luka atau peralatan steril
·         Mencuci tangan secara seksama
·         Pasang perlak pengalas
·         Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester, ikatan atau balutan dengan pinset
·         Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan, sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan. Jika masih terdapat plester pada kulit, bersihkan dengan kapas alcohol
·         Dengan sarung tangan atau pinset, angkat balutan, pertahankan permukaan kotor  jauh dari penglihatan klien
·         Jika balutan lengket  pada luka, lepaskan dengan memberikan larutan steril / NaCl
·         Observasi karakter dan jumlah drainase pada balutan
·         Buang balutan kotor pada bengkok
·         Lepas sarung tangan dan buang pada bengkok
·         Buka bak instrument  steril
·         Siapkan larutan yang akan digunakan
·         Kenakan sarung tangan steril
·         Inspeksi luka
·         Bersihkan luka dengan larutan antiseptic yang diresepkan atau larutan garam fisiologis
·         Pegang kassa yang dibasahi larutan tersebut dengan pinset steril
·         Gunakan satu kassa untuk satu kali usapan
·         Bersihkan dari area kurang terkontaminasi ke area terkontaminasi
·         Gerakan dengan tekanan progresif menjauh dari insisi atau tepi luka
·         Gunakan kassa baru untuk mengeringkan luka atau insisi. Usap dengan cara seperti di atas
·         Berikan salp antiseptic bila dipesankan / diresepkan, gunakan tehnik seperti langkah pembersihan
·         Pasang kassa steril kering pada insisi atau luka
·         Gunakan plester di atas balutan,fiksasi dengan ikatan atau balutan
·         Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempatnya
·         Bantu klien pada posisi yang nyaman


4.      Tahap terminasi
·         Mengevaluasi perasaan klien
·         Menyimpulkan hasil kegiatan
·         Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
·         Mengakhiri kegiatan
·         Mencuci dan membereskan alat
·         Mencuci tangan

5.      Dokumentasi
·         Mencatat tanggal dan jam perawatan luka
·         Mencatat Kondisi luka

B.     MENGGANTI BALUTAN BASAH DENGAN BALUTAN KERING
1.      Tahap Pre InteraksI

LEMBAR OBSERVASI
Nama mahasiswa        : ………………………….
NIM                            : ………………………….
Judul kompetensi        : ………………………….
Sub kompetensi           : ………………………….
NO
ASPEKYANG DINILAI
PENCAPAIAN
PENILAIAN
YA
TIDAK
K
BK
1.
Alat dipersiapkan *
2.
Alat didekatkan pada pasien
3.
Cuci tangan dilakukan *
4.
Salam terapeutik disampaikan
5.
Tindakan dan tujuan yang akan dilakukan dijelaskan pada pasien
6.
Rasa nyeri yang mungkin timbul dijelaskan pada pasien
7.
Cara untuk menurunkan rasa nyeri saat penggantian balutan dijelaskan
8.
Privacy pasien dijaga
9.
Balutan dibuka dengan kapas alkohol dengan benar
10.
Balutan kotor dimasukan ke dalam bengkok
11.
Sarung tangan steril dipakai dengan benar *
12.
Daerah sekitar luka dibersihkanmenggunakan kapas alkoholdengan benar
13.
Luka dibersihkan dengan tetap mempertahankan tehnik steril *
14.
Luka diberi obatdengan benar
15.
Luka ditutup dengan kassa steril secara benar *
16.
Kassa difiksasi menggunakanplester / balutan dengan benar
17.
Pasien diatur pada posisi yang nyaman
18.
Evaluasi terhadap respon pasien dilakukan dengan benar
19.
Alat-alat dibereskan dengan rapi
20.
Cuci tangan dilakukan dengan benar
21.
Terminasi dilakukan dengan baik
22.
Dokumentasi dilakukan dengan benar

Keterangan :
( * ) merupakan critical point yang harus dilakukan

Nilai :  Jumlah Kompeten  X  100%  =  ………… %
                         22

Rekomendasi :
1.      Kompeten                   : ……………%
2.      Belum Kompeten        : ……………%