Entri Populer

Kamis, 18 Februari 2016

Survei Primer (Primary Survey)

Technorati Tags: ,,

Pengertian : Deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancam
Tujuan : Untuk mengetahui kondisi pasien yang mengancam jiwa dan kemudian dilakukan tindakan life saving.
Cara pelaksanaan (harus berurutan dan simultan)
Jalan nafas (airway)
  • Lihat, dengar, raba (Look, Listen, Feel)
  • Buka jalan nafas, yakinkan adekuat
  • Bebaskan jalan nafas dengan proteksi tulang cervical dengan menggunakan teknik Head Tilt/Chin Lift/Jaw Trust, hati-hati pada korban trauma
  • Cross finger untuk mendeteksi sumbatan pada daerah mulut
  • Finger sweep untuk membersihkan sumbatan di daerah mulut
  • Suctioning bila perlu
Pernafasan (breathing)
  • Lihat, dengar, rasakan udara yang keluar dari hidung/mulut, apakah ada pertukaran hawa panas yang adekuat, frekuensi nafas, kualitas nafas, keteraturan nafas atau tidak
Perdarahan (circulation)
  • Lihat adanya perdarahan eksterna/interna
  • Hentikan perdarahan eksterna dengan Rest, Ice, Compress, Elevation (istirahatkan lokasi luka, kompres es, tekan/bebat, tinggikan)
  • Perhatikan tanda-tanda syok/ gangguan sirkulasi : capillary refill time, nadi, sianosis, pulsus arteri distal
Susunan Saraf Pusat (disability)
  • cek kesadaran
  • Adakah cedera kepala?
  • Adakah cedera leher?
  • perhatikan cedera pada tulang belakang
Kontrol Lingkungan (Exposure/ environmental )
Buka baju penderita lihat kemungkinan cedera yang timbul tetapi cegah hipotermi/kedinginan

Survei Sekunder (Secondary Survey)

Technorati Tags: ,,


Pengertian : Mencari perubahan-perubahan yang dapat berkembang menjadi lebih gawat dan mengancam jiwa apabila tidak segera diatasi dengan pemeriksaan dari kepala sampai kaki (head to toe)
Tujuan : Untuk mendeteksi penyakit atau trauma yang diderita pasien sehingga dapat ditangani lebih lanjut
Peralatan : Stetoskop, tensi meter, jam, lampu pemeriksaan/senter, gunting, thermometer, catatan, alat tulis
Prosedur :

Anamnesis :
Riwayat “AMPE” yang harus diingat yaitu :
A : Alergi
M : Medikasi (obat yang diminum sebelumnya)
P : Past illness (penyakit sebelumnya)/Pregnancy (hamil)
E : Event/environment (lingkungan yang berhubungan dengan kegawatan)

Pemeriksaan fisik :
1. Pemeriksaan kondisi umum menyeluruh
   a. Posisi saat ditemukan
   b. Tingkat kesadaran
   c. Sikap umum, keluhan
   d. Trauma, kelainan
   e. Keadaan kulit 

2. Periksa kepala dan leher
    a. Rambut dan kulit kepala
        Perdarahan, pengelupasan, perlukaan, penekanan
    b. Telinga
         Perlukaan, darah, cairan
    c. Mata
      Perlukaan, pembengkakan, perdarahan, reflek pupil, kondisi kelopak mata, adanya benda asing,    pergerakan abnormal
    d. Hidung
        Perlukaan, darah, cairan, nafas cuping hidung, kelainan anatomi akibat trauma
     e. Mulut
         Perlukaan, darah, muntahan, benda asing, gigi, bau, dapat buka mulut/ tidak
     f. Bibir
        Perlukaan, perdarahan, sianosis, kering
     g. Rahang
         Perlukaan, stabilitas, krepitasi
     h. Kulit
          Perlukaan, basah/kering, darah, suhu, warna
     i. Leher
         Perlukaan, bendungan vena, deviasi trakea, spasme otot, stoma, stabilitas tulang leher

3. Periksa dada
Flail chest, nafas diafragma, kelainan bentuk, tarikan antar iga, nyeri tekan, perlukaan (luka terbuka, luka mengisap), suara ketuk/perkusi, suara nafas

4. Periksa perut
Perlukaan, distensi, tegang, kendor, nyeri tekan, undulasi

5. Periksa tulang belakang
Kelainan bentuk, nyeri tekan, spasme otot

6. Periksa pelvis/genetalia
Perlukaan, nyeri, pembengkakan, krepitasi, inkontinensia

7. Periksa ekstremitas atas dan bawah
Perlukaan, angulasi, hambatan pergerakan, gangguan rasa, bengkak, denyut nadi, warna luka

Perhatian !

1. Perhatikan tanda-tanda vital (sesuai dengan survei primer)

2. Pada kasus trauma, pemeriksaan setiap tahap selalu dimulai dengan pertanyaan adakah :  
D-E-C-A-P-B-L-S
D : Deformitas
E : Ekskoriasi
C : Contusio
A : Abrasi
P : Penetrasi
B : Bullae/Burn
L : Laserasi
S : Swelling/Sembab

3. Pada dugaan patah tulang selalu dimulai dengan pertanyaan adakah : P-I-C
P : Pain
I : Instabilitas
C : Crepitasi

R J P

RJP dilakukan bila terjadi henti napas dan atau henti jantung. Henti napas terjadi bila korban tidak bernapas, ditandai dengan tidak adanya pergerakan dada dan aliran udara napas. Henti jantung terjadi bila jantung berhenti berdenyut dan memompakan darah, ditandai dengan tidak terabanya denyut nadi pada arteri-arteri besar, seperti arteri karotis, arteri brakialis dan arteri femoralis.
Resusitasi jantung paru tidak perlu dilakukan bila telah terdapat tanda-tanda pasti kematian pada korban, yaitu lebam mayat (livor mortis), kaku mayat (rigor mortis), dan pembusukan. Lebam mayat dapat dikenali sebagai warna merah sampai dengan kebiruan pada bagian terendah dari tubuh korban saat korban ditemukan. Pada korban yang ditemukan dalam keadaan terlentang lebam mayat dapat ditemukan di daerah punggung korban. Kaku mayat terjadi mulai 4 jam setelah kematian, dan menghilang setelah 10 jam. kekakuan ini dapat ditemukan pada batang tubuh dan anggota tubuh korban. Pada mayat yang membusuk korban sulit untuk dikenali dan bau busuk akan tercium dari mayat.
Pada cedera yang tidak memungkinkan korban hidup seperti terpisahnya kepala dari badan maka penolong tidak perlu lagi melakukan RJP. Pada bayi yang lahir sudah dalam keadaan mati atau mati didalam kandungan maka RJP tidak diperlukan lagi.
Persiapan RJP
Sebelum melakukan RJP penolong perlu melakukan persiapan-persiapan untuk menjamin RJP dan pertolongan lain yang dibutuhkan korban dapat dilakukan dengan baik. Hal yang pertama dan utama yang harus dilakukan adalah memastikan keamanan tempat kejadian. Pastikan keamanan diri penolong dan gunakan alat pelindung diri (APD). Setelah memastikan keamanan maka lakukan langkah-langkah:
1. Lakukan penilaian kesan umum.
Goyangkan bahu korban. Ajak korban bicara dan pancing jawaban verbal untuk mengetahui kesadaran dan keadaan airway korban. Bila ternyata korban tidak memberikan respon terhadap panggilan segera minta bantuan, dengan berteriak “tolong”, dan segera aktifkan SPGDT.
Bila korban memberikan respon positif, posisikan korban pada posisi pulih atau seperti saat ditemukan. Pertolongan dari tenaga medis tetap diperlukan karena keadaan korban bisa saja memburuk dalam hitungan menit.
Lakukan evaluasi berkala pada korban sampai korban ditangani oleh yang lebih ahli.
2. Minta tolong. Aktifkan SPGDT.
3. Perbaiki posisi korban dan buka pakaian yang menutupi dada (ekspos dada korban). Resusitasi akan lebih efektif bila posisi korban tidur telentang, dengan alas yang rata dan keras. Posisikan korban pada posisi telentang dengan kedua lengan di sisi kanan dan kiri korban (posisi anatomis). Ketika melakukan perubahan posisi selalu perhatikan kesatuan/kesegarisan antara kepala, leher, dan tubuh, termasuk bahu dan tulang belakang. Ingat untuk selalu melindungi leher korban terutama bila dicurigai adanya cedera leher. Bebaskan dada korban dari pakaian yang menutupi untuk mempermudah tindakan dan penilaian korban.
4. Atur posisi penolong.
Segera berlutut di samping korban sejajar dengan bahunya, agar saat melakukan bantuan napas dan sirkulasi penolong tidak perlu banyak bergerak, sehingga akan menghemat waktu.
Langkah-langkah RJP
Setelah melakukan prosedur dasar sebagai persiapan sebelum melakukan RJP, teruskan dengan:
1. Airway control dan cervical control, penguasaan jalan napas.
a. Buka jalan napas. Cara membuka jalan napas akan dijelaskan secara rinci pada pembahasan bantuan hidup dasar.
b. Nilai derajat dan jenis sumbatan.
Lakukan dengan pedoman look, feel, listen. Untuk mempermudah berlututlah di samping korban di dekat kepalanya. Miringkan kepala penolong dekat mulut dan hidung korban dengan mata melihat ke arah dada korban, sambil buka jalan napasnya. Dengan cara seperti ini penolong dapat melakukan penilaian airway sekaligus breathing. Telinga penolong mendengarkan (listen), pipi penolong bisa digunakan untuk merasakan (feel), dan mata penolong melihat (look) pergerakan dada dan adanya penggunaan otot-otot pernapasan tambahan.
c. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas dari sumbatan. Langkah-langkah dalam membebaskan jalan napas ini juga akan dijelaskan pada pembahasan bantuan hidup dasar.
2. Breathing support; ventilasi buatan dan oksigenasi paru darurat.
a. Sambil mempertahankan jalan napas bebas, pastikan korban bernapas. Periksa pernapasan korban dengan look, feel, listen.
b. Jika pernapasan memadai, dan tidak ada dan tidak dicurigai adanya cedera leher posisikan korban pada posisi pulih. Lakukan evaluasi A dan B berkala.
c. Bila korban tidak bernapas, berikan napas buatan 2 kali. Kemudian periksa tanda-tanda sirkulasi. Bila korban hanya memerlukan napas buatan maka lakukan napas buatan dengan frekuensi 12-15 kali/ menit. Lanjutkan dengan evaluasi ulang A dan B secara berkala.
3. Circulation support; pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung.
a. Pastikan ada tidaknya denyut jantung korban dengan melakukan perabaan pada arteri karotis.
b. Jika teraba arteri karotis, maka lanjutkan pengelolaan korban dengan melakukan evaluasi ulang A dan B berkala.
c. Jika tidak teraba arteri karotis, lakukan kompresi/ pijat jantung luar. langkah-langkah melakukan kompresi jantung luar akan dterangkan di bawah.
4. Lakukan reevaluasi/ penilaian ulang A-B-C.
a. Bila masih tidak teraba nadi lanjutkan kompresi jantung luar dan lakukan evaluasi ulang setiap 4 siklus.
b. Bila teraba nadi, namun tidak bernapas, berikan bantuan napas saja dengan kecepatan 12-15 kali/menit.
c. Bila korban bernapas spontan dan teraba nadi, posisikan pada posisi pulih, dengan catatan tidak ada atau tidak dicurigai cedera leher.
Langkah-langkah kompresi jantung luar
1) Tentukan ujung tulang xifoid. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah menelusuri lengkung tulang iga kanan atau kiri sampai bertemu bagian tulang dada atau sternum, dikenal sebagai xifoid, bagian menyerupai ujung pedang.
2) Dari ujung xifoid, letakkan jari telunjuk dan jari tengah di tulang dada, satu jari di atas xifoid dan satu lagi di sebelahnya, ke arah kepala. Tepat di samping jari yang lebih dekat ke kepala merupakan titik kompresi.
3) Letakkan tumit salah satu tangan di posisi yang sudah ditentukan tadi. Tangan yang lain ditempatkan di atas tangan pertama. Dianjurkan jari-jemari kedua tangan saling mengait. Tekanan hanya diberikan melalui tumit tangan tersebut, usahakan agar jari-jari penolong tidak menyentuh bahkan menekan tulang-tulang iga korban.
4) Saat melakukan penekanan dinding dada, posisi badan penolong tegak lurus bidang datar, dengan kedua lengan lurus. Penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya. Lakukan 15 kali kompresi secara berkala, dengan kedalaman 3,8 – 5 cm. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit.
5) Setiap kali setelah kompresi biarkan dada korban mengembang, kembali ke posisi semula. Jangan lepaskan tangan penolong dari dada korban atau merubah posisi tangan.
6) Waktu untuk menekan dan melepas adalah sama, yaitu 1 : 1.
Satu siklus pernapasan buatan dan kompresi jantung luar terdiri dari 15 kompresi dan 2 napas buatan (15:2). Perbandingan ini berlaku baik untuk 1 penolong maupun 2 penolong. Lakukan 4 siklus secara lengkap. Setelah lengkap 4 siklus, lakukan evaluasi ulang mulai dari A, B, dan C.
Bagaimana tanda-tanda RJP yang dilakukan berhasil?
Keberhasilan RJP tidak lepas dari keberhasilan setiap langkah RJP yang dilakukan. Apabila RJP yang dilakukan berhasil maka pada korban didapati tanda-tanda kembali berfungsinya sistem pernapasan dan sistem sirkulas. Korban dapat bernapas spontan, tampak dada korban bergerak naik turun dan adanya aliran udara napas. Denyut nadi kembali teraba dan denyut jantung kembali terdengar melalui stetoskop. Kulit korban yang semula pucat berangsur normal. Korban dapat melakukan gerakan terarah dan korban berusaha menelan. Pupil akan mengecil bila terkena cahaya yang menandakan adanya reaksi pupil yang positif.
Kapan RJP dihentikan?
Penolong yang kelelahan dan tidak sanggup melanjutkan tindakan resusitasi boleh menghentikan upaya RJP yang sedang dilakukannya. Apabila bantuan dan petugas lain yang lebih ahli sudah datang, penolong boleh menghentikan tindakan resusitasi dan mengalihkan pada petugas tersebut. Kadang kala korban ditemukan dalam keadaan tidak sadar tanpa penolong tahu apakah korban sudah lama meninggal atau baru saja terjadi henti napas dan henti jantung. Apabila kemudian didapatkan informasi bahwa korban sudah lama meninggal maka RJP boleh dihentikan. Tindakan RJP dihentikan bila sirkulasi (denyut nadi) dan pernapasan sudah kembali pulih, yaitu korban sudah dapat bernapas spontan dan nadi kembali berdenyut spontan. Pada korban dengan sengatan listrik atau tenggelam, biasanya jantung merespon lebih lama terhadap tindakan RJP.
Kapan RJP boleh dihentikan untuk sementara ?
Resusitasi jantung paru boleh dihentikan untuk sementara apabila korban perlu dipindahkan. Pemindahan korban dapat terjadi pada berbagai keadaan, seperti korban dipindahkan ke tandu, keluar atau masuk ambulan, melalui tangga, melalui lorong yang sempit, ketika korban dinaikan atau diturunkan dari pesawat. Pada tindakan bantuan hidup yang lebih lanjut kadang dilakukan tindakan defibrilasi (memberikan kejutan pada jantung dengan alat khusus), saat melakukan defibrilasi ini RJP harus dihentikan sementara

Rabu, 10 Februari 2016

BANTUAN HIDUP DASAR

Bantuan hidup dasar harus segera dilaksanakan oleh penolong apabila dalam penilaian dini penderita ditemukan salah satu dari masalah antara lain : tersumbatnya jalan nafas, tidak menemukan adanya nafas serta tidak ditemukan adanya tanda-tanda nadi. Seperti diketahui bahwa tujuan dari P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) salah satunya ialah menyelamatkan jiwa penderita sehingga dapat selamat dari kematian. Pengertian mati sendiri terbagi menjadi 2 (dua) yaitu mati klinis dan mati biologis. Mati klinis berarti tidak ditemukan adanya pernafasan dan nadi. Mati klinis dapat bersifat reversibel (dapat dipulihkan). Penderita mati klinis mempunyai waktu 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak. Sedangkan mati biologis berarti kematian sel dimulai terutama sel otak & bersifat ireversibel (tidak bisa dipulihkan) yang biasa terjadi 8-10 menit dari henti jantung. Dalam memberikan bantuan hidup dasar dikenal 3 (tiga) tahap utama yaitu : penguasaan jalan nafas, bantuan pernafasan dan bantuan sirkulasi darah yang lebih dikenal juga dengan istilah pijatan jantung luar dan penghentian perdarahan besar. A. Penguasaan Jalan Nafas. 1. Membebaskan Jalan Nafas. Pada penderita dimana tidak ditemukan adanya pernafasan, maka harus dipastikan penolong memeriksa jalan nafas apakah terdapat benda asing ataupun terdapat lidah penderita yang menghalangi jalan nafas. o Teknik angkat dagu tekan dahi. Teknik ini dilakukan pada penderita yang tidak mengalami cedera kepala, leher maupun tulang belakang. Teknik Angkat Dagu Tekan Dahi o Teknik jaw thrus maneuver (mendorong rahang bawah). Teknik ini digunakan pada penderita yang mengalami cedera kepala, leher maupun tulang belakang. Teknik Jaw Thrust Maneuver 2. Membersihkan Jalan Nafas. o Teknik sapuan jari. Teknik ini hanya digunakan pada penderita yang tidak respon / tidak sadar untuk membersihkan benda asing yang masuk ke jalan nafas penderita. Jari telunjuk ditekuk seperti kait untuk mengambil benda asing yang menghalangi jalan nafas. Teknik Sapuan Jari o Posisi pemulihan. Bila penderita dapat bernafas dengan baik dan tidak ditemukan adanya cedera leher maupun tulang belakang. Posisi penderita dimiringkan menyerupai posisi tidur miring. Dengan posisi ini diharapkan mencegah terjadinya penyumbatan jalan nafas dan apabila terdapat cairan pada jalur nafas maka cairan tersebut dapat mengalir keluar melalui mulut sehingga tidak masuk ke jalan nafas. 3. Sumbatan Jalan Nafas. Sumbatan jalan nafas umumnya terjadi pada saluran nafas bagian bawah yaitu bagian bawah laring (tenggorokan) sampai lanjutannya. Umumnya sumbatan jalan nafas pada penderita respon/sadar ialah karena makanan dan benda asing lainnya, sedangkan pada penderita tidak respon / tidak sadar ialah lidah yang menekuk ke belakang. Untuk mengatasinya umumnya menggunakan teknik heimlich maneuver (hentakan perut-dada). o Heimlich maneuver pada penderita respon / sadar. Penolong berdiri di belakang penderita. Tangan penolong dirangkulkan tepat di antara pusar dan iga penderita. Hentakkan rangkulan tangan ke arah belakang dan atas dan minta penderita untuk memuntahkannya. Lakukan berulang-ulang sampai berhasil atau penderita menjadi tidak respon / tidak sadar. Heimlich Maneuver Pada Penderita Respon o Heimlich maneuver penderita tidak respon / tidak sadar. Baringkan penderita dengan posisi telentang. Penolong berjongkok di atas paha penderita. Posisikan kedua tumit tangan di antara pusat dan iga kemudian lakukan hentakan perut ke arah atas sebanyak 5 (lima) kali. Periksa mulut penderita bilamana terdapat benda asing yang keluar dari mulut penderita. Lakukan 2-5 kali sampai jalan nafas terbuka. Heimlich Maneuver Pada Penderita Tidak Respon o Heimlich maneuver pada penderita kegemukan atau wanita hamil yang respon / sadar. Penolong berdiri di belakang penderita. Posisikan kedua tangan merangkul dada penderita melalui bawah ketiak. Posisikan rangkulan tangan tepat di pertengahan tulang dada dan lakukan hentakan dada sambil meminta penderita memuntahkan benda asing yang menyumbat. Lakukan berulangkali sampai berhasil atau penderita menjadi tidak respon / tidak sadar. Heimlich Maneuver Pada Penderita Hamil/Gemuk o Heimlich maneuver pada penderita kegemukan atau wanita hamil yang tidak respon / tidak sadar. Langkahnya sama dengan heimlich maneuver pada penderita tidak respon / tidak sadar di atas namum posisi penolong berada di samping penderita dan posisi tumit tangan pada pertengahan tulang dada. B. Bantuan Pernafasan Terdapat beberapa teknik yang dikenal untuk memberikan bantuan pernafasan pada penderita yang ditemukan tidak terdeteksi adanya nafas namun nadi masih berdetak dan jalan nafas tidak mengalami gangguan antara lain : 1. Menggunakan mulut penolong : o Mulut ke masker RJP (Resusitasi Jantung Paru). APD dan Masker RJP o Mulut ke APD (Alat Pelindung Diri). o Mulut ke mulut ataupun hidung. 2. Menggunakan alat bantu nafas : menggunakan kantung masker berkatub. Kantung Masker Berkatub Di udara bebas kandungan oksigen ialah sebesar kurang lebih 21%. Dari kandungan oksigen sebanyak 21% tersebut, sebanyak 5% digunakan manusia dalam proses pernafasan. Sehingga terdapat sekitar 16% kandungan oksigen dari udara pernafasan yang manusia keluarkan. Sisa oksigen sebanyak 16% inilah yang digunakan untuk memberi bantuan nafas kepada penderita yang terdeteksi tidak terdapat nafas. Pada manusia dewasa frekuensi pemberian nafas buatan ialah sebanyak 10-12 kali bantuan nafas per menit dengan durasi tiap bantuan nafas ialah 1,5-2 detik tiap hembusan bantuan nafas. Memberikan bantuan nafas kepada penderita bagi penolong bukan tanpa resiko. Terdapat resiko yang mungkin dialami penolong antara lain : penyebaran penyakit, kontaminasi bahan kimia dan muntahan penderita. Langkah-langkah dalam memberikan bantuan nafas kepada penderita terdeteksi tidak terdapat nafas antara lain : 1. Pastikan jalan nafas terbuka pada penderita. 2. Jika penolong menggunakan APD ataupun alat bantu pastikan alat tersebut tidak bocor (tertutup rapat). 3. Pastikan juga bantuan nafas yang dihembuskan tidak bocor melalui hidung penderita dengan cara mencapit lubang hidung penderita. 4. Berikan 2 (dua) kali bantuan nafas awal (1,5-2 detik pada manusia dewasa). Tiupan/hembusan merata dan cukup (dada penderita bergerak naik). 5. Periksa nadi penderita selama 5-10 detik dan pastikan nadi penderita masih terdeteksi. 6. Lanjutkan pemberian nafas buatan sesuai dengan frekuensi pemberian bantuan nafas (dewasa : 10-12 kali bantuan nafas per menit). 7. Apabila bantuan nafas berhasil dengan baik akan ditandai dengan bergerak naik turunnya dada penderita. C. Bantuan Sirkulasi Tindakan paling penting dalam bantuan sirkulasi ialah pijatan jantung luar. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan efek pompa jantung yang dinilai cukup untuk membantu sirkulasi darah penderita pada saat kondisi penderita mati klinis. Kedalaman penekanan pijatan jantung luar pada manusia dewasa ialah 4-5 cm ke dalam rongga dada. Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan gabungan dari tindakan A, B dan C di atas. Resusitasi Jantung Paru dilaksanakan dengan memastikan bahwa penderita tidak ada respon / tidak sadar, tidak terdapat pernafasan dan tidak terdapat denyut nadi. Pada manusia dewasa resusitasi jantung paru dikenal 2 (dua) rasio, yaitu rasio 15 kali kompresi dada berbanding 2 kali tiupan bantuan nafas (15:2) apabila dilaksanakan oleh satu penolong, serta rasio 5:1 per siklus apabila dilaksanakan oleh 2 (dua) orang penolong. Teknik kompresi dada pada manusia dewasa : 1. Posisikan penderita berbaring telentang pada bidang yang keras (misal : lantai). 2. Posisikan penolong berada di samping penderita. 3. Temukan pertemuan lengkung tulang iga kanan dan kiri (ulu hati). Menelusuri Ulu Hati 4. Tentukan titik pijatan (kira-kira 2 ruas jari ke arah dada atas dari titik pertemuan lengkung tulang iga kanan dan kiri). Mengukur Titik Pijatan 5. Posisikan salah satu tumit tangan di titik pijat, tumit tangan lainnya diletakkan di atasnya untuk menopang. 6. Posisikan bahu penolong tegak lurus dengan tumit tangan. Posisi Pijat Jantung 7. Lakukan pijatan jantung luar. Resusitasi jantung paru dengan satu orang penolong : 1. Tiupkan bantuan nafas awal 2 (dua) kali. 2. Jika penderita bernafas dan nadi berdenyut maka posisikan penderita pada posisi pemulihan. 3. Apabila masih belum terdapat nafas dan nadi, maka lakukan pijatan jantung sebanyak 15 kali dengan kecepatan pijatan 80-100 kali per menit. 4. Berikan bantuan nafas lagi sebanyak 2 (dua) kali. 5. Lakukan terus 15 kali pijatan jantung dan 2 kali bantuan nafas sampai 4 siklus. 6. Periksa kembali nadi dan nafas penderita, apabila terdapat nadi namun belum terdapat nafas maka teruskan bantuan nafas 10-12 kali per menit. Resusitasi jantung paru 2 (dua) orang penolong : 1. Posisi penolong saling berseberangan. 2. Lakukan bantuan nafas awal sebanyak 2 (dua) kali. 3. Lakukan pijatan jantung luar sebanyak 5 (lima) kali dengan kecepatan pijatan 80-100 kali per menit. 4. Berikan nafas bantuan sebanyak 1 (satu) kali. 5. Lakukan 5 pijatan jantung dan 1 nafas bantuan sampai 12 siklus 6. Periksa kembali nadi dan nafas penderita, apabila terdapat nadi namun belum terdapat nafas maka teruskan bantuan nafas 10-12 kali per menit. Dalam melaksanakan resusitasi jantung paru pun bukan tanpa resiko bagi penderita, resiko-resiko yang mungkin dialami penderita antara lain : patah tulang dada/iga, kebocoran paru-paru, perdarahan dalam pada dada/paru-paru, memar paru dan robekan pada hati/limpa. Maka bagi penolong perlu berhati-hati. Diagram Alir Resusitasi Jantung Paru (RJP)

SUARA NAFAS NORMAL

SUARA NAPAS NORMAL Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih • Suara nafas normal : a) Bronchial : sering juga disebut dengan “Tubular sound” karena suara ini dihasilkan oleh udara yang melalui suatu tube (pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase tersebut. Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch. b) Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada. c) Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan. SUARA NAPAS TAMBAHAN/ABNORMAL 1. Crackles Adalah bunyi yang berlainan, non kontinu akibat penundaan pembukaan kembali jalan napas yang menutup. Terdengar selama : inspirasi. • Fine crackles / krekels halus Terdengar selama : akhir inspirasi. Karakter suara : meletup, terpatah-patah. Penyebab : udara melewati daerah yang lembab di alveoli atau bronchioles / penutupan jalan napas kecil. Suara seperti rambut yang digesekkan. • Krekels kasar Terdengar selama : ekspirasi. Karakter suara : parau, basah, lemah, kasar, suara gesekan terpotong. Penyebab : terdapatnya cairan atau sekresi pada jalan nafas yang besar. Mungkin akan berubah ketika klien batuk. 2. Wheezing (mengi) Adalah bunyi seperti bersiul, kontinu, yang durasinya lebih lama dari krekels. Terdengar selama : inspirasi dan ekspirasi, secara klinis lebih jelas pada saat ekspirasi. Penyebab : akibat udara melewati jalan napas yang menyempit/tersumbat sebagian. Dapat dihilangkan dengan batuk. Dengan karakter suara nyaring, suara terus menerus yang berhubungan dengan aliran udara melalui jalan nafas yang menyempit (seperti pada asma dan bronchitis kronik). Wheezing dapat terjadi oleh karena perubahan temperature, allergen, latihan jasmani, dan bahan iritan terhadap bronkus. 3. Ronchi Adalah bunyi gaduh yang dalam. Terdengar selama : ekspirasi. Penyebab : gerakan udara melewati jalan napas yang menyempit akibat obstruksi napas. Obstruksi : sumbatan akibat sekresi, odema, atau tumor. Contoh : suara ngorok. • Ronchi kering : suatu bunyi tambahan yang terdengar kontinyu terutama waktu ekspirasi disertai adanya mucus/secret pada bronkus. Ada yang high pitch (menciut) misalnya pada asma dan low pitch oleh karena secret yang meningkat pada bronkus yang besar yang dapat juga terdengar waktu inspirasi. • Ronchi basah (krepitasi) : bunyi tambahan yang terdengar tidak kontinyu pada waktu inspirasi seperti bunyi ranting kering yang terbakar, disebabkan oleh secret di dalam alveoli atau bronkiolus. Ronki basah dapat halus, sedang, dan kasar. Ronki halus dan sedang dapat disebabkan cairan di alveoli misalnya pada pneumonia dan edema paru, sedangkan ronki kasar misalnya pada bronkiekstatis. Perbedaan ronchi dan mengi. Mengi berasal dari bronki dan bronkiolus yang lebih kecil salurannya, terdengar bersuara tinggi dan bersiul. Biasanya terdengar jelas pada pasien asma. Ronchi berasal dari bronki dan bronkiolus yang lebih besar salurannya, mempunyai suara yang rendah, sonor. Biasanya terdengar jelas pada orang ngorok. 4. Pleural friction rub Adalah suara tambahan yang timbul akibat terjadinya peradangan pada pleura sehingga permukaan pleura menjadi kasar. Karakter suara : kasar, berciut, disertai keluhan nyeri pleura. Terdengar selama : akhir inspirasi dan permulaan ekspirasi. Tidak dapat dihilangkan dengan dibatukkan. Terdengar sangat baik pada permukaan anterior lateral bawah toraks. Terdengar seperti bunyi gesekan jari tangan dengan kuat di dekat telinga, jelas terdengar pada akhir inspirasi dan permulaan ekspirasi, dan biasanya disertai juga dengan keluhan nyeri pleura. Bunyi ini dapat menghilang ketika nafas ditahan. Sering didapatkan pada pneumonia, infark paru, dan tuberculosis.