Entri Populer

Jumat, 31 Desember 2010

KONSEP DASAR KELUARGA

KONSEP DASAR KELUARGA

1. Definisi Keluarga

Menurut Sayekti (1994) dalam Setiadi (2008: 3) keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.

Menurut Murray dan Zentner (1997) dalam Achjar (2010: 2) keluarga adalah suatu sistem sosial yang berisi dua atau lebih orang yang hidup bersama yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi, atau tinggal bersama dan saling menguntungkan, mempunyai tujuan bersama, mempunyai generasi penerus, saling pengertian, dan saling menyayangi.

Menurut Spredly dan Allender (1996) dalam Setyowati dan Murwani (2008: 24) keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional dan mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas.

Menurut Maglaya dan Bailon (1989) dalam (1998) dalam Mubarak, dkk (2006: 255) keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan/pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya masing-masing, menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.

Menurut Departemen Kesehatan RI (1998) dalam Mubarak, dkk (2006: 255) keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu kelompok atau unit terkecil yang mempunyai hubungan erat karena hubungan darah atau dengan cara perkawinan atau pengangkatan, yang didalam perannya masing-masing serta mempertahankan kebudayaan.

2. Karakteristik keluarga

Karakteristik keluarga menurut Setyowati dan Murwani (2008: 25-26) adalah:

a. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan perkawinan atau adopsi

b. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain

c. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing- masing mempunyai peran sosial: suami, istri, anak, kakak, adik.

d. Mempunyai tujuan; (1) menciptakan dan mempertahankan budaya, (2) meningkatkan perkembangan fisik, psikologi dan sosial anggota.

3. Tipe Keluarga

Menurut Setiadi (2008: 4-6) tipe keluarga bergantung kepada konteks keilmuan dan orang yang mengelompokkan:

a. Secara Tradisional:

Secara tradisional keluarga dikelompokkan menjadi 2, yaitu:

1) Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.

2) Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluaga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek, paman-bibi).

b. Secara Moderen (berkembangnya peran individu dan meningkatnya rasa individualisme maka pengelompokan tipe keluarga selain diatas adalah:

1) Tradisional Nuclear

Keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanyadapat bekerja di luar rumah.

2) Reconstituted Nuclear

Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam suatu ikatan perkawinan lamanya maupun hasil dari perkawinan baru,satu/atau keduanya dapat bekerja diluar rumah

3) Niddle Age/Aging Couple

Suami sebagai pencari uang,istri dirumah/atau kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti karier.

4) Dyadic Nuclear

Suami istri yang sudah beruur dan tidak mempunyai anak yang keduanya atau salah satu bekerja di luar rumah.

5) Single Parent

Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di luar rumah.

6) Dual Carrier, suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak.

7) Commuter Married, suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu. Keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.

8) Single Adult, wanita aatau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk kawin.

9) Three Generation, tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.

10) Institusional, anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.

11) Comunal, satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogamy dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.

12) Group Marriage, satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.

13) Unmaried Parent and Child, ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki anaknya diadopsi.

14) Cohibing Coiple, dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.

4. Struktur Keluarga

Menurut Setiadi (2008: 6-7) struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat. Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah:

a. Patrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

b. Matrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.

c. Matrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.

d. Patrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.

e. Keluarga Kawin

Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, ada beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

5. Fungsi keluarga

Secara umum fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Setiadi (2008: 7), adalah sebagai berikut.

a. Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuat untuk mempersiapkan anggota keluarga berdampingan dengan orang lain.

b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (Sociallization and social placement function) adalah fungsi mengembangkan dari tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berdampingan dengan orang lain di luar rumah.

c. Fungsi reproduksi (the reproduction function), yaitu keluarga berfungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.

d. Fungsi ekonomi (the economic function), yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

e. Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan (the health care function) yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap mempunyai produktivitas tinggi.

Menurut Setyowati dan Murwani (2008: 29) ada juga fungsi keluarga yang berhubungan dengan struktur, yaitu:

a. Struktur legalisasi

Masing-masing keluarga mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan pendapat (demokrasi).

b. Struktur yang hangat, menerima, toleransi.

c. Struktur yang terbuka dan anggota keluarga yang terbuka: mendorong kebenaran dan kejujuran (honesty dan autheticity).

d. Struktur: suka melawan dan tergantung pada peraturan.

e. Struktur yang bebas: tidak ada peraturan yang memaksa (permissiveness).

f. Struktur yang kasar: abuse (menyikasa, sukar berteman).

g. Suasana emosi yang dingin (isolasi, sukar berteman).

h. Disorganisasi keluarga (disfungsi individu, stress eosional).

6. Tahapan dan Tugas Perkembangan Keluarga

Menurut Achjar (2010: 6) perawat keluarga perlu mengetahui tahapan dan tugas perkembangan keluarga, untuk memberikan pedoman dalam menganalisis pertumbuhan dan kebutuhan promosi kesehatahn keluarga serta untuk memberikan dukungan pada keluarga untuk kemajuan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Miller (1985); Carter dan Mc Goldrick (1988) dalam Achjar (2010: 6-7), mempunyai tugas perkembangan yang berbeda, seperti:

a. Tahap I, keluarga pemula atau pasangan baru

Tugas perkembangan keluarga pemula antara lain membina hubungan yang harmonis dan kepuasan bersama dengan membangun perkawinan yang saling memuaskan, membina hubungan dengan orang lain dengan menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis, merencanakan kehamilan dan mempersiapkan diri menjadi orang tua.

b. Tahap II, keluarga sedang mengasuh anak (anak terrtua bayi sampai umur 30 bulan)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap II yaitumembentuk keluarga muda sebagai sebuah unit, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran orang tua kakek dan nenek dan mensosialisasikan dengan lingkungan keluargabesar masing-masing pasangan.

c. Tahap III, keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berumur 2-6 tahun)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap III yaitu memenuhi kebutuhan anggota keluarga, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang barusementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai dan norma kehidupan, mulai mengenalkan kultur keluarga, menanamkan keyakinan beragama, memenuhi kebutuhan bermain anak.

d. Tahap IV, keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap IV yaitu mensosialisasikan anak termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga, membiasakan belajar teratur, memperhatikan anak saat menyelesaikan tugas sekolah.

e. Tahap V, keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20 tahun)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap V yaitu menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan mandiri, memfokuskan kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak, memberikan perhatian,, memberikan kebebasan dalam batasan tanggung jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.

f. Tahap VI, keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap VI yaitu memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapat melalui perkawinan anak-anak, melanjutkan untuk memperbaharui hubungan perkawinan, membantu orang tua lanjut usia dan sakit sakitan dari suami maupun istri, membantu anak mandiri, mempertahankan komunikasi, memperluas hubungan keluarga antara orang tua dan menantu, menata kembali peran dan fungsi keluarga setelah ditinggalkan anak.

g. Tahap VII, orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan, pensiun)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap VII yaitu menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan, mempertahankan hubungan yag memuaskan dan penuh arti para orang tua dan lansia, memperkokoh hubungan perkawinan, menjaga keintiman, merencanakan kegiatan yang akan datang, memperhatikakn kesehatan masing-masing pasangan, tetap komunikasi menjaga dengan anak-anak.

h. Tahap VIII, keluarga dalam masa pensiun dan lansia.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap VIII yaitu mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan, menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun, mempertahankan hubungan perkawinan, menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan, mempertahankan ikatan keluarga antar generasi, meneruskan untuk memahami eksistensi mereka, saling memberi perhatian yang menyenangkan antar pasangan, merencanakan kegiatan untuk mengisi waktu tua seperti berolahraga, berkebun, mengasuh cucu.

7. Tugas keluarga di bidang kesehatan

Tugas keluarga menurut Mubarak, dkk (2006), adalah sebagai berikut.

a. Mengenal masalah kesehatan keluarga

Keluarga perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-peruahan yang dialami anggota keluarga, kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti.

b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat

tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, tindakan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi bahkan diatasi.

c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

Anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh perawatan keluarga agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.

d. Mempertahankan suasana rumah yang sehat

Kondisi rumah haruslah dapat menjadikan lambang kesenangan, keindahan, dan ketentraman serta dapat menunjang derajat kesehatan bagi anggota keluarga

e. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyaraka

Keluarga atau anggota keluarga harus dapat memanfaatkan sumber fasilitas kesehatan yang ada di sekitar agar apabila mengalami masalah dengan penyakit keluarga dapat berkonsultasi dan meminta bantuan.

8. Konsep Keperawatan keluarga

a. Definisi

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, yang berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (Setiadi, 2008: 25-26). Perawatan kesehatan keluarga adalah perawatan kesehatan yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuannya yang dilakukan oleh seorang perawat yang profesional dengan proses keperawatan yang berpedoman pada standart praktik keperawatan dengan berlandaskan etik dan etika keperawatan dalam lingkup dan wewenang serta tanggung jawab keperawatan (Setiadi, 2008: 26). Sedangkan menurut Setyowati dan Murwani (2008: 75) asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan kepada keluarga, untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

b. Tujuan

Menurut Setyowati dan Murwani (2008: 75) tujuan keperawatan keluarga terdiri dari:

1) Tujuan umum

Ditingkatkannya kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri

2) Tujuan khusus

a) Mengenal masalah kesehatan keluarga

b) Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga

c) Melakukan tindakan keperawatan kesehatan kepada anggota keluarga yang sakit, mempunyai gangguan fungsi tubuh dan atau yang membutuhkan bantuan atau asuhan keperawatan

d) Memelihara lingkungan (fisik, psikis dan sosial) sehingga dapat menunjang peningkatan kesehatan keluarga

e) Memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat misalnya: puskesmas, puskesmas pembantu, kartu sehat dan posyandu untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

c. Sasaran

Menurut Setyowati dan Murwani (2008: 75) sasaran dari asuhan keperawatan keluarga adalah keluarga- keluarga yang rawan kesehatan yaitu: keluarga yang mempunyai masalah kesehatan atau yang beresiko terhadap timbulnya masalah kesehatan.

d. Tahapan dari proses keperawatan keluarga

Tahap-tahap proses keperawatan keluarga menurut Setyowati dan Murwani (2008: 75) adalah sebagai berikut.

1) Pengkajian keluarga dan individu didalam keluarga. Yang termasuk pada pengkajian keluarga adalah:

a) Mengidentifikasi data demografi dan sosio cultural

b) Data lingkungan

c) Struktur dan fungi keluarga

d) Stress dan strategi koping yang digunakan keluarga

e) Perkembangan keluarga

Sedangkan yang termasuk pada pengkajian terhadap individu sebagai anggota keluarga adalah:

a) Fisik

b) Mental

c) Emosi

d) Sosial

e) Spiritual

2) Perumusan diagnosis keperawatan

3) Penyusunan perencanaan

Perencanaan disusun dengan menyusun priotas menetapkan tujuan, identifikasi sumber daya keluarga dan menyeleksi intervensi keperawatan

4) Pelaksanaan asuhan keperawatan

Perencanaan yang sudah disusun dilaksanakan dengan memobilisasi sumber- sumber daya yang ada di keluarga, masyarakat dan pemerintah

5) Evaluasi

Pada tahapan evaluasi, perawat melakukan penilaian terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.

e. Peran Perawat dalam Asuhan Keperawatan Keluarga

Menurut Setiadi (2008: 27-28) dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, ada beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain adalah:

1) Pengenal kesehatan (health monitor)

Perawat membantu keluarga untuk mengenal penyimpangan dari keadaan normal tentang kesehatannya dengan menganalisa data secara objektif serta membuat keluarga sadar akan akibat masalah tersebut dalam perkembangan keluarga.

2) Pemberi pelayanan pada anggota keluarga yang sakit.

3) Kooordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga, yaitu berperan dalam mengkoordinir pelayanan kesehatan keluarga baik secara berkelompok maupun individu.

4) Fasilitator, yaitu dengan cara menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau oleh keluarga dan membantu mencarikan jalan pemecahannya.

5) Pendidik kesehatan, yaitu untuk merubah perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat.

6) Penyuluh dan konsultan yang berperan dalam memberikan petunjuk tentang asuhan keperawatan dasar dalam keluarga.

Achjar, Komang Ayu Henny. (2010). Asuhan Keperawatan Keluarga; Bagi Mahasiswa Keperawatan dan Praktisi Perawat Perkesmas. Jakarta: Sagung Seto

Mubarak, Wahit Iqbal dkk. (2006). Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta: Sagung Seto

Setiadi. (2008). Konsep dan Proses Keperawatan keluarga. Yogyakarta: Graha Ilmu

Setyowati, Sri dan Arita Murwani. (2008). Asuhan Keperawatan Keluarga; Konsep dan Aplikasi Kasus. Yogyakarta:Mitra Cendikia Press

Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga; Aplikasi dalam Praktik. JakaRTA

1 komentar: