- Osteoartritis (OA)
- Definisi
Osteoartritis (OA)
merupakan penyakit sendi dengan karakteristik menipisnya rawan sendi secaraprogresif lambat, disertai dengan pembentukan tulang baru pada
trabekula subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru pada tepi
sendi (osteofit) (Soeroso et al., 2006)
- Etiologi
Osteoartritis seringkali terjadi tanpa
diketahui sebabnya, hal itu disebut dengan osteoartritis idiopatik. Pada kasus
yang lebih jarang, osteoartritis dapat terjadi akibat trauma pada sendi,
infeksi atau variasi herediter, perkembangan, kelainan metabolik dan neurologik
yang disebut dengan osteoartritis sekunder. Onset usia pada osteoartritis
sekunder tergantung pada penyebabnya. Maka dari itu, penyakit ini dapat
berkembang pada dewasa muda, dan bahkan anak-anak, seperti halnya pada orang
tua (Woodhead, 1989, Sunarto, 1990, Rahardjo, 1994, Soeroso et al., 2006).
|
Persentase orang yang memiliki
osteoartritis pada satu atau beberapa sendi meningkat dibawah 5% dan
orang-orang dengan usia antara 15-44 tahun sekitar 25%, pada orang-orang dengan
usia 45-64 tahun menjadi 30%, dan mencapai 60%-90% pada usia diatas 65 tahun.
Selain hubungan erat ini dan pandangan yang luas bahwa osteoartritis terjadi
akibat proses wear
& tearyang normal dan kekakuan sendi pada
orang-orang dengan usia diatas 65 tahun, hubungan antara penggunaan sendi,
penuaan, dan degenerasi sendi masih sulit dijelaskan. Terlebih lagi, penggunaan
sendi selama hidup tidak terbukti menyebabkan degenerasi. Sehingga
osteoartritis bukan merupakan akibat sederhana dari masalah penggunaan sendi
(Soeroso, 2006)
Osteoartritis merupakan suatu penyakit
inflamasi dan ada beberapa bukti sering terjadi sinovitis, inflamasi bukan
merupakan komponen utama dari kelainan yang terjadi pada pasien. Tidak seperti
kerusakan sendi yang disebabkan oleh inflamasi sinovial, osteoartritis
merupakan sekuen
retrogresif dari perubahan sel dan matrik yang
berakibat kerusakan struktur dan fungsi kartilago artikuler, diikuti dengan
reaksi perbaikan dan remodeling tulang. Karena reaksi perbaikan dan remodeling
tulang ini, degenerasi permukaan artikuler pada osteoartritis tidak bersifat
progresif, dan kecepatan degenerasi sendi bervariasi pada tiap individu dan
sendi. Osteoartritis sering terjadi, tapi pada sebagian besar kasus
osteoartritis berkembang lambat selama bertahun-tahun, meskipun dapat menjadi
stabil atau bahkan membaik dengan spontan dengan restorasi parsialyang minimal dari permukaan sendi dan pengurangan
gejala (Harul & Herlambang, 2008)
Kartilago sendi merupakan organ sasaran
utama osteoartritis (Brandt, 2000). Titik awal terjadinya OA adalah kerusakan
atau hilangnya kartilago (Adnan, 2000 cit Isbagio,
1988). OA terbentuk pada dua keadaan, yaitu :
1) Sifat biomaterial kartilago sendi dan
tulang subkondral normal, tetapi terjadi beban berlebihan terhadap sendi
sehingga jaringan rusak.
2) Beban yang ada secara fisiologis
normal, tetapi sifat bahan kartilago atau tulang kurang baik (Brandt, 2000).
Jejas mekanis dan biokimiawi diduga
merupakan faktor penting yang merangsang terbentuknya molekul abnormal dan
produk degradasi kartilago didalam cairan sinovial sendi yang mengakibatkan
terjadi inflamasi, kerusakan kondrosit, dan nyeri (Soeroso et al., 2007).
- Tanda dan Gejala
Secara klinis, osteoartritis dibagi
menjadi tiga tingkatan, yaitu :
- Subklinis : pada tingkatan ini belum ada keluhan
atau tanda klinis lain. kelainan baru terbatas pada tingkat seluler dan
biokimiawi sendi.
- Manifes : pada tingkatan ini biasanya penderita
datang ke dokter karena mulai merasakan keluhan sendi. Kerusakan kartilago
artikularis bertambah luas disertai reaksi peradangan.
- Dekompensasi : kartilago artikularis telah rusak
dan bahkan ada yang sampai terjadi deformitas dan kontraktur. Pada
tingkatan ini biasanya diperlukan tindakan bedah (Azhari, 2008).
Tanda dan gejala umum yang sering dialami
penderita osteoartritis antara lain adalah :
- Nyeri sendi, disebabkan oleh peradangan dan
gangguan mekanik. Nyeri karena peradangan biasanya betambah di pagi hari
atau setelah lutut menetap pada satu posisi dalam waktu lama dan berkurang
saat bergerak. Sedangkan nyeri mekanik akan lebih terasa saat melakukan
aktivitas lama dan berkurang saat istirahat, kemungkinan hal ini
berhubungan dengan kerusakan kartilago yang sudah parah.
- Kaku atau keterbatasan gerak pada sendi, hal ini
hampir dirasakan semua penderita OA, terutama pada pagi hari, namun dapat
juga terjadi setelah istirahat agak lama. Kekakuan osteoartritis biasanya
terjadi kurang dari 30 menit.
- Pembengkakan sendi, merupakan reaksi peradangan
sehingga terjadi penggumpalan cairan dalam ruang sendi. Pada inflamasi
aktualitas tinggi, pembengkakan dapan disertai nyeri tekan, gangguan
gerak, peningkatan temperatur lokal dan warna kemerahan.
- Perubahan pola jalan, hampir semua penderita
mengalami perubahan pola jalan dimana fase weigh bearing pada sisi
yang sakit akan lebih cepat (analitic gait)
- Gangguan fungsi, merupakan akumulasi dari
problem-problem diatas. (Azhari, 2008).
- Faktor Resiko
- Usia
Usia merupakan faktor resiko terbesar
terjadinya OA (Markenson, 2004). OA hampir tidak pernah terjadi pada anak-anak
dan jarang terjadi dibawah 40 tahun dan sering terjadi diatas usia 40 sampai 60
tahun (Soeroso, 2007). Pada penuaan terjadi perubahan morfologi dan fungsi
kondrosit. Perubahan ini menyebabkan degradasi kartilago immature yang cepat saat dirangsang oleh interleukin-1 (IL-1) (Thobias & Sharif, 2003).
- Jenis Kelamin
Osteoarthritis lebih banyak terjadi pada
wanita, hal ini menunjukkan adanya peran hormonal (Soeroso et al., 2007). Insiden kejadian OA pada wanita meningkat tajam
bersamaan dengan menopouse (Jordan, 2006). Pada saat menopouse terjadi
penurunan sekresi estrogen (Jones, 2002). Reseptor estrogen dapat mengenali
permukaan osteoblas dan osteoklas dan pada penelitian in vitro didapatkan hasil bahwa hormon seks wanita mampu
memodifikasi kondrosit pada kondisi kultur (American Academy of Orthopedic, 2004).
- Suku Bangsa
Osteoarthritis dua kali lebih sering
dijumpai pada orang kulit hitam dari pada orang kulit putih (Kasjmir, 2003).
Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada
frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan (Soeroso et al., 2007).
- Genetik
Faktor genetik berperan dalam
kerentanan terhadap osteoarthritis, terutama pada kasus yang mengenai tangan
dan panggul (Carter, 2006). Adanya mutasi dari gen prokalogen II atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur
kartilago sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat ataupun proteoglikan dikatakan berperan dalam timbulnya kecenderungan familiar pada OA tertentu (Soeroso et al., 2007).
- Biomekanik dan metabolik
Beban biomekanik berperan penting dalam
terjadinya progresivitas OA. Biomekanik yang terjadi akan merusak permukaan
rawan sendi dan menyebabkan terjadinya kerusakan rawan sendi. Berat beban yang
dapat menimbulkan OA lutut adalah beban lebih dari 50 lbs atau sekitar 25 kg (1
lbs = 453,59 gram) dengan masa kerja 17,14 tahun atau lebih, serta frekuensi
kerja dengan beban adalah 4 kali seminggu. Kondisi geografi yang berbukit pada
daerah kerja dengan mengangkat beban juga merupakan faktor risiko yang
mempunyai pengaruh besar (Angelika, 2007)
Pada penelitian di Universitas IOWA dilaporkan
bahwa 13,9% dari mereka yang pernah mengalami trauma lutut, termasuk trauma
pada meniskus, ligamentum, ataupun tulang pada masa dewasa muda berkembang
menjadi OA lutut, dan mereka yang tidak pernah mengalami trauma lutut hanya
6,0% yang mengalami OA lutut. Studi longitudinal oleh Framingham tahun 1999
menyebutkan bahwa laki-laki dengan pekerjaan fisik dan berat, mempunyai risiko
tinggi terjadi OA lutut, dibandingkan dengan pekerjaan tanpa beban lutut.
Pada keadaan obesitas, resultan gaya
tersebut akan bergeser ke medial sehingga beban yang diterima sendi lutut tidak
berimbang. Pada keadaan yang berat dapat timbul perubahan bentuk sendi menjadi
varus yang akan makin menggeser resultan gaya tersebut ke medial (Isbagio, 2000 cit Solomon & Halfet, 1982).
Sudut Quadriceps Angle (Q-Angle), Q-Angle adalah sudut yang dibentuk dari dua garis sudut lancip
antara segmen (1)Tuberositas Tibia dengan mid patella, (2) mid patella dengan SIAS, pada orang dewasa sudut normal Q-angel terbentuk sekitar 15 derajat, besar kecilnya sudut
tersebut sangat terpengaruh kedua garis segmen tersebut. Pada sudut 15
derajat inilah resultan beban tubuh terletak tepat disentral patella.
Penelitian menunjukkan pada penderita obesitas, terjadi penambahan sudut
beberapa derajat, dampaknya adalah resultan beban akan berpindah dari sentral
patela bergeser ke sisi medial (Huberti & Hayes, 2000).
Dari segi metabolik, penelitian yang
dilakukan pada tikus yang diberi makanan mengandung asam lemak jenuh, akan
lebih banyak menderita OA dibanding tikus yang diberi makanan yang banyak
mengandung asam lemak tak jenuh (Moskowitz, 1995 cit Mankin,
1989). Asam lemak jenuh yang tinggi juga meningkatkan kadar kolesterol darah,
hal ini menyebabkan penumpukan trombus dan kompleks pada pembuluh darah
subkondral. Proses ini berlanjut menjadi iskemia dan nekrosis jaringan
subkondral tersebut (Gosh, 1992 cit Broto 2008).
- Trauma mekanis (pekerjaan dan olahraga)
Trauma adalah faktor sekunder resiko OA
(Markenson, 2004). Kerusakan sendi dapat terjadi saat trauma atau sesudahnya,
bahkan kartolago yang normal akan mengalami degenerasi bila sendi tidak stabil
(Brandt, 2000). Trauma yang merusak meniskus dan ligamen krusiatum merupakan
penyebab OA lutut (Shipley et al.,
2005). Aktivitas tertentu dapat menjadi predisposisi OA cidera traumatik yang
dapat mengenai sendi lutut (Soeroso et al.,
2007). Peningkatan resiko perkembangan OA lutut dapat dijumpai pada atlet sepak
bola, pelari jarak jauh, dan pemain tenis (American Academy of Orthopedic Surgeons, 2004).
- Patofisiologi
Osteoarthritis sendi lutut merupakan
gangguan dari persendian diatrodial yang dicirikan oleh fragmentasi dan terbelah-belahnya
kartilago persendian. Lesi permukaan itu disusul oleh proses pemusnahan
kartilago secara progresif. Melalui sela-sela yang timbul akibat proses
degenerasi fibrilar pada kartilago, cairan sinovial dipenetrasikan ke dalam
tulang di bawah lapisan kartilago yang akan menghasilkan kista-kista. Kartilago
yang sudah hancur mengakibatkan sela persendian menjadi sempit, disamping itu
tulang bereaksi terhadap lesi kartilago yaitu dengan pembentukan tulang baru
(osteofit) yang menonjol ke tepi persendian (Sidharta, 1984).
Menurut Parjoto (2000), pada OA sendi
lutut terdapat proses degradasi, reparasi, dan inflamasi yang terjadi pada
jaringan ikat, lapisan rawan, sinovium, dan tulang subkondral. Pada saat aktif
salah satu proses dapat dominan atau beberapa proses terjadi bersama dalam
tingkat intensitas yang berbeda. Perubahan yang terjadi adalah sebagai berikut:
a) Sendi
normal
Pada sendi normal, terdapat tulang rawan
sendi (kartilago) yang sehat, terminyaki oleh cairan sinovial, bantalan sendi
(bursa) sehingga sendi mudah digerakkan.
b) Degradasi
tulang rawan
Degradasi timbul akibat dari
ketidakseimbangan antara regenerasi dengan degenerasi rawan sendi, melalui
beberapa tahap yaitu fibrilasi perlunakan, perpecahan, dan pengelupasan lapisan rawan
sendi. Proses ini dapat berlangsung cepat atau lambat, yang cepat pada kurun
waktu 10 sampai 15 tahun, sedangkan yang lambat sekitar 20 sampai 30 tahun.
Akhirnya permukaan sendi tidak mempunyai lapisan rawan sendi.
c) Osteofit
Merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk
memperbesar permukaan tulang dibagian bawah tulang rawan sendi yang telah
rusak. Bersama timbulnya dengan degenerasi rawan, timbul regenerasi berupa
pembentukan osteofit di tulang subkondral. Dengan menambah luas permukaan tulang
di bawahnya diharapkan distribusi beban ditanggung sendi tersebut dapat merata.
d) Sklerosis
subkondral
Pada tulang subkondral terjadi reparasi
berupa sklerosis, yaitu pemadatan atau penguatan tulang tepat dibawah lapisan
rawan yang mulai rusak.
e) Sinovitis
Sinovitis adalah inflamasi dari sinovuim
yang terjadi akibat proses sekunder degenerasi dan fragmentasi. Matrik rawan
sendi yang putus terdiri dari kondrosit yang menyimpan proteoglycanyang bersifat immunogenik dan dapat mengaktivasi
leukosit. Sinovitis dapat meningkatkan cairan sendi. Pada tahap lanjut terjadi
tekanan tinggi dari cairan sendi terhadap permukaan sendi yang tidak mempunyai
rawan sendi, sehingga cairan ini akan didesak ke dalam celah-celah subkondral
dan akan menimbulkan kantong yang disebut kista subkondral (Parjoto, 2000).
- Gambaran Radiografi
Gambaran radiografi menegakkan diagnosa OA
adalah penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris, densitas (sklerosis) tulang subkondral, kista tulang, osteofit pada
sendi, dan perubahan struktur anatomi sendi lutut (Soeroso et al., 2007)
- Diagnosis
Diagnosa OA ditegakkan dari pemeriksaan
klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan gerak, dan gambaran radiologi.
Untuk diagnosa OA sendi lutut digunakan
kriteria dan klasifikasi dari American
Collage of Reumatology (ACR) dengan
langkah sebagai berikut :
Tabel
2.1 Kriteria dan klasifikasi OA
(American
Collage of Reumatology, 2008)
|
Klinik dan
laboratorik
|
Klinik dan
Radiografik
|
Klinik
|
|
Nyeri lutut + 5 sampai 9 kriteria berikut :
|
Nyeri lutut + minimal 1 dari 3 kriteria berikut :
|
Nyeri lutut + minimal 3 dari 6 kriteria berikut :
|
Rate This
Tidak ada komentar:
Posting Komentar